Ticker

6/recent/ticker-posts

5 IPO Terbesar di Bursa Efek Indonesia

Receh.in - Masuknya PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) ke bursa menjadi catatan sejarah penting bagi pasar modal Indonesia. Inilah IPO terbesar saat ini dengan dana yang dihimpun mencapai Rp21,9 triliun.

Initial public offering (IPO) ini juga tercatat sebagai yang pertama yang dilakukan perusahaan startup dengan skala unikorn. 

Tak dinyana, Bukalapak yang masih merugi (dahulu hanya perusahaan yang sudah meraih laba saja yang boleh listing di bursa), ternyata bisa menyita perhatian publik, utamanya para investor ritel.

Maklum saja, kalangan konservatif yang menilai perusahaan dengan kaca mata lama pastinya berhitung soal valuasi Bukalapak. 

Sayangnya, valuasi hanyalah salah satu cara melihat sebuah perusahaan dengan horison jangka panjang, sedangkan dalam transaksi saham yang lebih sering diutamakan adalah capital gain, atau keuntungan dari transaksi saham harian.

Seringkali, para pemburu cuan tidak menghubungkan nilai perusahaan dengan cara mereka mencari keuntungan. Apalagi, di zaman ini di mana banyak investor baru yang jarang yang mau menunggu lama untuk menghasilkan cuan. 

Soal IPO dengan nilai jumbo, sebelum Bukalapak juga ada beberapa emiten yang listing dengan nilai yang fantastis, di era itu.  

Berikut adalah daftar 5 IPO terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

5 IPO Terbesar di Bursa Efek Indonesia

Emiten

Waktu

Nilai IPO

PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA)

Agustus 2021

Rp21,9 triliun

PT Adaro Energy Tbk (ADRO)

Juli 2008

Rp 12,25 triliun

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)

Oktober 2010

Rp6,29 triliun

PT Bayan Resources Tbk (BYAN)

Agustus 2008

Rp5,55 triliun

PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN)

November 2010

Rp 5,17 triliun

  

1. Bukalapak

Menilik umur Bukalapak yang baru menginjak usia ke-11, nilai IPO Rp21,9 triliun yang setara dengan 25% saham emiten berkode BUKA, tentu saja sesuatu yang fantastis.

Namun, dalam dunia startup, pertumbuhan valuasi secara eksponensial bukan hal yang istimewa.

Model pertumbuhannya memang mengejar kecepatan, terutama karena biasanya mereka burning money atau bakar uang.

Artinya, pertumbuhan startup sebenarnya tidaklah efisien karena cost-nya yang besar. 

IPO bisa menjadi pilihan untuk ekspansi, tetapi juga bisa jadi opsi exit strategy.

Yang jelas, menjadi perusahaan publik adalah transformasi besar sebuah startup, karena mereka keluar dari nature awalnya yang cenderung mengejar pertumbuhan tanpa terlalu pusing memikirkan keberlangsungan usaha.

Kenapa? Karena tiap kali kehabisan dana, mereka akan mulai menggelar pendanaan dan mencari investor privat.

Sebagai sebuah perusahaan, startup tidaklah se-agile yang orang kira, jika melihat sisi pendanaan. Mereka terlalu sering disuapi dengan banyak uang untuk segera "merebut pasar."

Namun, apapun itu, tujuan bisnis pada akhirnya adalah keberlanjutan usaha. Mau laba atau rugi, jika masih berlanjut ya itulah bisnis. 

Dan Bukalapak memberi kita penguatan perspektif bahwa fundamental dan harga saham tidak harus punya hubungan erat. 

Inilah sejarah pasar modal. 

Sayangnya, mungkin posisi Bukalapak sebagai IPO terbesar sepanjang sejarah Indonesia tidak akan bertahan lama, sebelum GOTO, entitas gabungan Gojek dan Tokopedia, juga melantai di bursa.

2. Adaro Energy 


Cukup lama PT Adaro Energy Tbk (ADRO) memegang status sebagai perusahaan dengan IPO terbesar di Bursa Efek Indonesia. Paling tidak 13 tahun. 

IPO Adaro Energy terjadi pada 16 Juli 2008 dengan nilai dana yang dikumpulkan dari investor sebesar Rp 12,25 triliun. 

Perusahaan yang dipimpin Garibaldi Thohir ini pada awalnya bukanlah perusahaan swasta nasional Indonesia.

Adaro berawal dari perusahaan milik Pemerintah Spanyol, Enadimsa, yang berkepansi ke Kalimantan Selatan dengan ikut lelang lahan tambang di sana.

3. Indofood 

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) melantai di bursa pada 7 Oktober 2010 dengan nilai dana yang terkumpul sebesar Rp6,29 triliun.

Emiten barang konsumer ini merupakan anak usaha PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF). INDF saat ini menguasai 80,53% saham ICBP, sedangkan publik memegang 19,47%.

Saat IPO, ICBP melepas 5.830.954.000 saham. Kemudian pada 27 Juli 2016 dilakukan stock split atau pemecahan nilai saham yang membuat saham beredar 11.661.908.000, atau dua kali lipat dari saat IPO.


Kapitalisasi pasar ICBP pada 6 Agustus 2021 mencapai Rp96,50 triliun denga PER 15,22 x. 


4. Bayan Resources 

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) listing di Bursa Efek Indonesia pada 12 Agustus 2008 dengan nilai IPO sebesar Rp5,55 triliun.

Bayan adalah perusahaan milik Dato' Dr Low Tuck Kwong (menguasai 55,1% saham). Low juga menjabat sebagao direktur utama perseroan.

Perusahaan tambang batu bara ini memiliki konsesi di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Pada 2020 Bayan memproduksi 30,2 metrik ton batubara.

Dato’ Dr. Low Tuck Kwong memulai bisnis di Indonesia pada 1973 ketika dia membentuk PT. Jaya Sumpiles Indonesia (JSI) sebagai kontraktor pekerjaan tanah, pekerjaan sipil dan struktur laut. 

Pada 1988, JSI merambah ke pertambangan batubara dan merupakan kontraktor pertambangan terkemuka sampai 1998 ketika Dato' Dr. Low mengakuisisi PT Gunung Bayan Pratamacoal (GBP) dan PT Dermaga Perkasapratama (DPP). 

Di bawah kepemimpinan Dato’ Dr. Low, Bayan Group dengan cepat berubah menjadi perusahaan pertambangan batubara yang sukses dan bereputasi secara vertikal. Bayan Group dibentuk melalui sejumlah akuisisi strategis di sektor batubara.


 5. Borneo Lumbung Energi 

PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN) melakukan IPO pada November 2010 dengan nilai dana yang dihimpun di pasar perdana sebesar Rp5,17 triliun.

Sayangnya, Borneo Lumbung Energi dan Metal pada 20 Januari 2020 resmi delisting dari Bursa Efek Indonesia. 

Alasan perusahaan tambang ini didepak dari bursa, pertama, karena mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh terhadap kelangsungan usaha baik secara finansial atau secara hukum, atau terhadap kelangsungan status perusahaan tercatat sebagai perusahaan terbuka, dan emiten ini tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai. 

Kedua, saham BORN sudah disuspensi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.



Posting Komentar

0 Komentar