Ticker

6/recent/ticker-posts

Awas, IMF Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia

 


Receh.in - Kabar kurang menyenangkan berhembus dari Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF).

Lembaga yang didirikan Juli 1944 dalam Konferensi Bretton Woods di New Hampshire, Amerika Serikat itu merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia di tengah risiko gelombang baru Covid-19, gangguan rantai pasok, dan tekanan inflasi.

IMF memperkirakan ekonomi Asia tumbuh 6,5% pada 2021, turun dibandingkan proyeksi pada April lalu yang memperkirakan pertumbuhan 7,6%. "Pandemi global Covid-19 masih mewabah di Asia," kata IMF dalam laporan Regional Economic Outlook Asia Pasifik, dikutip dari Beritasatu.

Sementara itu, ekonomi China diproyeksi tumbuh sebesar 8,0% tahun ini, dan 5,6% pada 2022, tetapi pemulihan tetap 'tidak seimbang' karena ancaman virus korona yang berulang dan pengetatan fiskal membebani konsumsi, ungkap IMF, seperti dikutip Reuters (19/10).

IMF juga memperingakan bahwa, setiap "normalisasi kebijakan yang tidak tepat waktu atau komunikasi kebijakan Federak Reserve AS yang disalahartikan" juga dapat memicu arus keluar modal yang signifikan dan biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk negara-negara berkembang Asia.

Disisi lain, lembaga yang beranggotakan 190 negara itu menaikkan perkiraan pertumbuhan Asia untuk 2022 menjadi 5,7%, dari perkiraan sebelumnya 5,3%, yang mencerminkan kemajuan dalam vaksinasi.

"Meskipun Asia dan Pasifik tetap menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, perbedaan antara ekonomi maju,  emerging market  Asia dan ekonomi berkembang semakin dalam," tulis laporan itu.

India diperkirakan akan tumbuh 9,5% tahun ini, sedangkan ekonomi maju seperti Australia, Korea Selatan, Selandia Baru, dan Taiwan mendapat manfaat dari ledakan teknologi tinggi dan komoditas.

Sayangnya, IMF menilai negara-negara ASEAN-5 - Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand - masih menghadapi tantangan berat akibat kebangkitan kembali kasus virus korona dan lemahnya angka konsumsi.

Meskipun ekspektasi inflasi "secara umum terkelola dengan baik" di Asia, harga komoditas dan biaya pengiriman yang lebih tinggi, ditambah dengan gangguan yang berkelanjutan pada rantai nilai global, memperkuat kekhawatiran atas inflasi yang terus-menerus.

Untuk Indonesia, dalam World Economic Outlook edisi Oktober 2021, IMF memangkas proyeksi menjadi 3,2 persen (yoy). Angkanya menurun 0,7 persen dari proyeksi pada Juli 2021, sebesar 3,9 persen.

seperti ditulis Kompas.com, 13 Oktober 2021, turunnya proyeksi pertumbuhan untuk Indonesia itu dipengaruhi oleh penurunan proyeksi atas perekonomian global. Tetap, perkembangan pandemi jadi alasan utamanya.

"Penyebaran Delta yang cepat dan ancaman varian baru telah meningkatkan ketidakpastian kapan pandemi dapat diatasi. Pilihan kebijakan menjadi lebih sulit, dengan ruang gerak yang terbatas," tulis laporan World Economic Outlook IMF edisi Oktober 2021.

Walaupun dipangkas untuk tahun ini, IMF tetap mempertahankan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan di angka 5,9 persen.

Posting Komentar

0 Komentar