Receh.in— Laju saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) kembali menjadi pusat perhatian pelaku pasar pada awal 2026.
Setelah melonjak signifikan di akhir 2025, saham MORA tetap bertenaga menyusul kejelasan rencana merger dengan PT Eka Mas Republik (MyRepublic) dari Grup Sinarmas. Penggabungan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk mengawinkan kekuatan infrastruktur backbone MORA dengan dominasi ritel MyRepublic.
Proses merger ini diperkirakan efektif pada 22 April 2026, setelah mendapatkan lampu hijau dari OJK pada Maret mendatang. Pasca-merger, MORA akan menjadi entitas yang bertahan dengan jangkauan operasional yang melesat dari 30 kota menjadi 166 kota di seluruh Indonesia.
Lonjakan Indikator Operasional dan Pekerjaan Rumah "Konvergensi"
Data keterbukaan informasi menunjukkan bahwa penggabungan ini akan mengubah profil bisnis MORA secara drastis. Jumlah home passed (rumah yang terlewati jalur internet) diproyeksikan melonjak dari 951 ribu menjadi 9,74 juta. Sementara itu, basis pengguna aktif akan meroket dari sekitar 296 ribu menjadi lebih dari 1,82 juta pelanggan.
Namun, entitas hasil merger (PHPU) memiliki pekerjaan rumah besar terkait rasio penetrasi konvergensi. Pasca-merger, rasio perbandingan home passed dan home connected justru turun dari 31,14% menjadi 18,72%. Meningkatkan rasio ini menjadi sangat krusial karena semakin tinggi penetrasi, semakin besar potensi pendapatan berulang (recurring revenue) yang bisa dikantongi perseroan.
Gebrakan 5G FWA: Internet 100 Mbps Seharga Rp100 Ribu
Selain mengandalkan kabel serat optik (fiber to the home/FTTH), MORA melalui MyRepublic memiliki senjata rahasia di frekuensi 1,4 GHz. Mereka tengah menyiapkan layanan MyRepublic Air berbasis teknologi 5G Fixed Wireless Access (FWA).
Layanan ini menawarkan internet cepat 100 Mbps dengan harga sangat kompetitif, yakni Rp100.000, yang ditargetkan untuk wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara. MyRepublic berencana membangun 2.000 hingga 3.000 site dalam waktu dekat untuk mendukung ekspansi ini. Targetnya ambisius: menambah 5 juta home pass baru pada akhir 2026 sehingga total jangkauan menyentuh 15 juta rumah.
Ekspansi Infrastruktur Bawah Laut (SKKL Rising 8)
Tidak berhenti di layanan ritel, MORA juga memperkuat tulang punggung konektivitas internasionalnya. Pekan ini, MORA bersama anak usaha PT Ketrosden Triasmitra Tbk. (KETR) mulai menggelar kabel fiber optik bawah laut SKKL Rising 8.
Kabel sepanjang 1.128,5 kilometer ini akan menghubungkan Jakarta, Batam, hingga Singapura. Proyek ini menjadi fondasi penting bagi MORA untuk mendukung visi menjadi ISP dengan cakupan terluas dan performa keuangan yang berkelanjutan melalui penguatan segmen wholesale dan enterprise.
Dengan rencana matang dari sisi infrastruktur kabel laut hingga teknologi nirkabel 5G FWA, MORA berada di posisi yang sangat kuat untuk menantang dominasi pemain lama di industri internet tetap.
Simulasi Proyeksi Laba MORA (Konsolidasi 2026)
Untuk menghitung proyeksi ini, kita menggunakan asumsi moderat berdasarkan data operasional terbaru dan target manajemen:
|
Komponen Proyeksi |
Asumsi / Perhitungan |
Estimasi Nilai (2026) |
|
Total Home Pass |
Target Manajemen |
15.000.000 |
|
Rasio Penetrasi |
Peningkatan ke level sehat |
20% |
|
Total Pelanggan Aktif |
15 Juta x 20% |
3.000.000 |
|
ARPU (Rata-rata Pendapatan) |
Campuran Fiber & 5G FWA |
Rp200.000 / bulan |
|
Pendapatan Ritel Tahunan |
3 Juta x Rp200rb x 12 bln |
Rp7,2 Triliun |
|
Pendapatan Enterprise/Wholesale |
Estimasi pertumbuhan 15% |
Rp2,5 Triliun |
|
Total Pendapatan (Top Line) |
Ritel + Wholesale |
Rp9,7 Triliun |
|
EBITDA Margin |
Efisiensi integrasi backbone |
45% (Rp4,36 Triliun) |
|
Estimasi Laba Bersih |
Margin Laba Bersih ~18% |
Rp1,74 Triliun |
Analisis Pendorong Profitabilitas
1. Sinergi Efisiensi Biaya (Backbone Integration)
Sebelum merger, MyRepublic harus menyewa jaringan dari pihak ketiga atau membayar biaya penggunaan ke MORA. Pasca-merger, biaya ini menjadi internal transfer. Integrasi antara backbone (MORA) dan last-mile (MyRepublic) akan memangkas beban pokok pendapatan secara signifikan, yang langsung mempertebal margin EBITDA.
2. Senjata "Low Cost" 5G FWA
Teknologi MyRepublic Air (5G FWA) adalah kunci untuk mengejar target 15 juta home pass dengan biaya lebih murah. Membangun menara (site) nirkabel jauh lebih cepat dan murah dibandingkan menanam kabel fiber ke setiap gang perumahan. Jika penetrasi di area luar Jawa sukses dengan harga Rp100.000, MORA akan memenangkan volume pasar "Internet Rakyat" yang sangat besar.
3. Rasio Penetrasi: Kunci "Cuan" Berkelanjutan
Pekerjaan rumah terbesar MORA adalah menaikkan rasio penetrasi dari 18% kembali ke level 30%. Setiap kenaikan 1% pada rasio penetrasi dari basis 15 juta home pass berarti tambahan 150.000 pelanggan baru. Dengan struktur biaya tetap (fixed cost) yang sudah tercover, tambahan pelanggan ini hampir seluruhnya akan menjadi laba bersih.
Sentimen untuk Investor
Dengan potensi laba bersih menembus Rp1,7 Triliun pada 2026, valuasi MORA saat ini mungkin masih tergolong "murah" jika target operasional tersebut tercapai. Namun, investor perlu memperhatikan dua risiko utama:
- Kecepatan Roll-out 5G: Keterlambatan tender vendor perangkat 5G bisa menghambat target penambahan pelanggan.
- Persaingan Harga: Munculnya layanan serupa dari emiten lain (seperti WIFI/Internet Rakyat) bisa menekan ARPU.
Kesimpulan: MORA bukan lagi sekadar perusahaan kabel, melainkan raksasa ekosistem digital. Jika merger ini mulus di April 2026, MORA berpotensi mengalami re-rating valuasi yang signifikan.
0 Komentar