Receh.in— Di tengah rontoknya saham-saham sektor tambang dan kehutanan akibat kebijakan pencabutan izin oleh pemerintah, mata investor kini tertuju pada fenomena PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN). Emiten aset digital ini dipandang sebagai salah satu kandidat terkuat untuk "naik kelas" menjadi konstituen indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode 2026.
Meskipun secara year-to-date (YtD) harga saham COIN telah terkoreksi sekitar 25,26% ke level Rp2.900 per saham pada perdagangan Rabu (21/1/2026), para analis menilai penurunan ini sebagai konsolidasi wajar setelah kenaikan fantastis 3.880% sejak IPO Juli 2025. Masuknya Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo sebagai pemegang saham strategis pada Desember 2025 kian mempertebal keyakinan pasar terhadap masa depan emiten ini.
Perang Inklusi MSCI: COIN vs PANI dan BUMI
Peninjauan indeks MSCI pada Februari 2026 menjadi katalis jangka pendek yang paling dinanti. Samuel Sekuritas Indonesia mengidentifikasi COIN sebagai kandidat kuat masuk ke dalam MSCI Indonesia Small Cap. Di sisi lain, raksasa seperti PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) bersaing untuk kategori MSCI Global Standard yang berpotensi menarik aliran dana asing (foreign inflow) hingga US$300 juta.
Khusus untuk COIN, kriteria likuiditas telah terpenuhi dengan rata-rata transaksi harian (ADTV) mencapai US$15,8 juta, jauh di atas syarat minimum US$2,5 juta. Kapitalisasi pasar COIN yang disesuaikan dengan free float (15%) saat ini berada di kisaran US$527 juta. Jika COIN berhasil masuk ke jajaran MSCI, visibilitasnya di mata investor institusional global akan melonjak drastis, memicu potensi re-rating harga ke level Rp5.500 hingga skenario optimis Rp14.500.
Monopoli Infrastruktur: Central Finansial X (CFX)
Daya tarik utama COIN bukan pada pergerakan harga aset kripto ritel, melainkan pada model bisnisnya yang memonopoli infrastruktur. Melalui Central Finansial X (CFX) dan Kustodian Koin Indonesia (ICC), COIN beroperasi sebagai operator bursa dan kustodian berlisensi satu-satunya di Indonesia.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Erni Marsella Siahaan, menekankan bahwa COIN adalah "ultimate beneficiary" dari setiap aktivitas perdagangan kripto di Indonesia. Dengan struktur biaya teknologi yang tetap, COIN memiliki operating leverage yang sangat tinggi. Ciptadana memprediksi pertumbuhan laba COIN dengan CAGR tiga digit hingga 2029, terutama didorong oleh biaya transaksi (fee-based) yang berkontribusi 85% terhadap total pendapatan.
Mesin Pertumbuhan Baru: Pasar Derivatif Kripto
Katalis masa depan yang belum sepenuhnya dihargai oleh pasar (priced-in) adalah peluncuran instrumen derivatif kripto. Secara global, derivatif menyumbang 70% dari total transaksi pasar kripto, sementara di Indonesia pasar ini masih berada di tahap awal. CFX melaporkan bahwa sepanjang 2025, produk derivatif telah menunjukkan tren positif dengan nilai transaksi menembus puluhan triliun rupiah.
Samuel Sekuritas memproyeksikan pendapatan COIN dapat melipat ganda tiga kali lipat menjadi Rp692 miliar pada 2027 seiring dengan mandatori seluruh pedagang aset kripto untuk bertransaksi melalui ekosistem CFX. Meski dibayangi risiko keamanan siber dan perubahan regulasi, dukungan politik-bisnis dari Arsari Group dinilai menjadi benteng kuat bagi posisi strategis COIN dalam peta ekonomi digital nasional.
0 Komentar