Receh.in— Teka-teki mengenai siapa emiten baru yang akan mengisi kursi bergengsi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) memasuki babak akhir. Menjelang pengumuman resmi di akhir Januari ini, pergerakan harga saham para kandidat utama—PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (PTRO), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI)—menjadi "kompas" bagi investor dalam mengukur peluang kelolosan mereka.
Founder WH Project, William Hartanto, menekankan bahwa tren harga saham menjelang pengumuman biasanya mencerminkan keyakinan pasar. Secara historis, emiten yang hampir pasti masuk cenderung mengalami penguatan harga sebagai bentuk antisipasi para manajer investasi global.
ADMR: Kandidat Paling Meyakinkan?
Jika indikatornya adalah stabilitas dan pertumbuhan harga, ADMR saat ini berada di atas angin. Anak usaha Grup Adaro ini menunjukkan performa paling konsisten sepanjang Januari 2026. Mengawali tahun di posisi Rp1.560, ADMR terus mendaki hingga ke level Rp2.200-an.
Dengan kenaikan mencapai 42% secara year to date (ytd) dan volume perdagangan yang terjaga, ADMR dinilai memberikan sinyal paling positif dibandingkan dua rival utamanya. Stabilitas ini dianggap sebagai bentuk "restu" pasar sebelum emiten ini benar-benar resmi menjadi konstituen MSCI.
PTRO dan BUMI: Terjebak dalam Volatilitas Ekstrem
Kondisi berbeda dialami oleh PTRO dan BUMI. Saham PTRO milik konglomerat Prajogo Pangestu sempat mengalami tekanan hebat hingga mencatatkan dua kali auto rejection bawah (ARB) beruntun pekan lalu. Meski sempat mencoba rebound ke level Rp8.950 pada perdagangan pagi ini (27/1), secara total saham ini sudah terkoreksi sekitar 18%-20% dari posisi awal tahun.
Senada dengan PTRO, BUMI juga menunjukkan tren pelemahan (downtrend) setelah sempat mencicipi level di atas Rp460. Saat ini, saham Grup Bakrie-Salim tersebut bergerak fluktuatif di rentang Rp328–Rp340. Tekanan jual masif pada kedua saham ini menimbulkan keraguan di kalangan pelaku pasar mengenai probabilitas masuknya mereka ke indeks MSCI periode kali ini.
Threshold Kritis: Batas Aman Rp308 untuk BUMI
Meski sedang tertekan, pengamat pasar modal Michael Yeoh memberikan catatan optimis khusus untuk BUMI. Ia menilai peluang BUMI masuk indeks MSCI sebenarnya masih relatif aman secara data.
Kuncinya terletak pada ambang batas (threshold) harga. Selama BUMI mampu menjaga posisi harga tetap berada di atas level Rp308, emiten ini masih dianggap memenuhi syarat minimal kapitalisasi pasar yang disyaratkan MSCI. Harga saat ini di level Rp330-an menunjukkan BUMI masih memiliki "bantalan" yang cukup sebelum menyentuh batas kritis tersebut.
Receh.in— Investor disarankan untuk tetap waspada. Meski masuknya suatu saham ke indeks MSCI biasanya memicu aliran dana asing (foreign inflow), volatilitas tinggi pada PTRO dan BUMI menunjukkan adanya risiko penyesuaian portofolio besar-besaran sebelum pengumuman resmi.
0 Komentar