Mayoritas sekuritas kompak menaikkan target harga saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk sepanjang Maret 2026, meskipun emiten batu bara tersebut dihadapkan pada potensi pemangkasan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) produksi batu bara tahun depan.
Berdasarkan data terminal Bloomberg per Rabu (11/3/2026), sebanyak 15 sekuritas memperbarui rekomendasi untuk saham ITMG. Dari jumlah tersebut, 11 sekuritas menaikkan target harga, tiga mempertahankan estimasinya, dan hanya satu analis yang merevisi turun proyeksinya.
Sejumlah rumah riset bahkan melakukan revisi signifikan terhadap estimasi harga saham ITMG seiring dengan prospek harga batu bara global yang dinilai masih kuat.
Target Harga ITMG Naik Tajam
Maybank Sekuritas Indonesia melalui analisnya Hasan Barakwan menaikkan rekomendasi saham ITMG menjadi buy dari sebelumnya hold, sekaligus merevisi target harga menjadi Rp33.500 dari sebelumnya Rp21.000.
Revisi lebih agresif datang dari analis Citigroup, Ryan Davis. Ia menaikkan target harga ITMG dari Rp18.000 menjadi Rp35.000, sembari mengubah rekomendasi dari jual menjadi beli.
Sementara itu, beberapa sekuritas lain juga melakukan penyesuaian target harga:
- Mirae Asset Sekuritas menaikkan target menjadi Rp25.000 dari Rp21.500
- NH Korindo Sekuritas merevisi menjadi Rp23.750 dari Rp23.250
- Ajaib Sekuritas menaikkan target menjadi Rp30.000 dari Rp24.300
- UBS Sekuritas Indonesia menaikkan target menjadi Rp28.000 dari Rp26.900
Selain itu, beberapa sekuritas juga menaikkan rating saham ITMG dari hold menjadi buy, seperti:
- BNI Sekuritas
- Phillip Sekuritas Indonesia
Keduanya menyesuaikan proyeksi harga ITMG masing-masing menjadi Rp28.350 dan Rp28.000.
Revisi serupa juga datang dari JPMorgan Chase. Analisnya, Arnanto Januri, menaikkan rekomendasi saham ITMG dari neutral menjadi overweight dengan target harga Rp32.100, naik dari Rp21.900.
Konsensus Analis: Masih di Bawah Harga Pasar
Secara keseluruhan, konsensus analis yang dihimpun Bloomberg menunjukkan target harga rata-rata ITMG berada di Rp26.179 per saham.
Angka tersebut sebenarnya masih 3,7% di bawah harga pasar, mengingat saham ITMG ditutup pada level Rp27.175 pada perdagangan sesi I Rabu (11/3/2026).
Meski terkoreksi 3,03% pada hari ini, performa saham ITMG tetap kuat dalam beberapa periode terakhir:
- naik 8,70% dalam sepekan
- melonjak 22,96% dalam sebulan
- menguat 24,23% sejak awal tahun (YTD)
Mengapa Sekuritas Tetap Optimistis?
Menurut analis Ajaib Sekuritas, Rizal Rafly, target harga terbaru mencerminkan valuasi sekitar 8,8 kali price-to-earnings (P/E) untuk proyeksi 2026, sejalan dengan rata-rata emiten batu bara domestik.
Optimisme tersebut ditopang oleh beberapa faktor utama:
1. Neraca keuangan yang sangat kuat
ITMG memiliki posisi net cash yang solid sehingga mampu menjaga
stabilitas operasional di tengah volatilitas harga komoditas.
2. Disiplin belanja modal dan efisiensi biaya
Perusahaan dinilai mampu menjaga margin dengan pengendalian capex dan efisiensi
operasional.
3. Prospek harga batu bara tetap kuat
Sekuritas memperkirakan harga batu bara global masih bertahan di sekitar US$120
per ton pada 2026.
Selain itu, menurut analis JPMorgan Chase, konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memberikan premi geopolitik pada harga energi, yang pada akhirnya menopang harga batu bara global.
Katalis Tambahan dari Diversifikasi Bisnis
Analis Phintraco Sekuritas, Vinna N. Rachmawati, menilai ITMG juga memiliki katalis lain dari strategi ekspansi bisnis.
Pada Juli 2025, perusahaan mengakuisisi 9,62% saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk senilai sekitar US$15,8 juta sebagai langkah awal masuk ke sektor nikel, yang memiliki prospek jangka panjang seiring tren elektrifikasi global.
Selain itu, ITMG juga mulai mengoperasikan tambang baru melalui anak usahanya PT Nusa Persada Resources di Melak dengan target produksi awal 0,1 juta ton pada 2026.
Strategi ini diharapkan dapat:
- meningkatkan volume produksi
- memperkuat penjualan
- menjaga keberlanjutan bisnis perusahaan
Risiko yang Tetap Membayangi
Meski mayoritas analis optimistis, sejumlah risiko tetap menjadi perhatian utama investor.
Analis KB Valbury Sekuritas, Laurencia Hiemas, justru menurunkan rekomendasi saham ITMG dari buy menjadi hold dengan target harga Rp25.000.
Revisi tersebut didorong oleh tiga tekanan utama:
1. Potensi pemangkasan RKAB 2026
Produksi ITMG diperkirakan hanya 12,7 juta ton, turun jauh dari asumsi
sebelumnya sekitar 22 juta ton.
2. Kenaikan pajak sektor tambang
Penerapan PP No.18/2025 meningkatkan tarif pajak efektif menjadi 32,2%
dari sebelumnya 24,1%.
3. Potensi kenaikan kewajiban DMO
Porsi Domestic Market Obligation (DMO) berpotensi naik menjadi 30%,
dengan harga domestik dibatasi US$70 per ton untuk PLN.
Dengan asumsi tersebut, KB Valbury memperkirakan pendapatan ITMG pada 2026 turun menjadi sekitar US$1,32 miliar, atau melemah sekitar 30% secara tahunan.
Dividen Tetap Jadi Daya Tarik
Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, banyak analis tetap melihat ITMG sebagai salah satu emiten batu bara yang menarik dari sisi dividen.
Berbeda dengan sebagian perusahaan lain di sektor ini, ITMG dikenal memiliki kebijakan pembagian dividen dua kali dalam setahun, yang menjadi daya tarik utama bagi investor.
Dengan neraca yang kuat dan kas mencapai US$808 juta, ITMG dinilai masih memiliki bantalan keuangan yang cukup untuk menghadapi volatilitas industri batu bara ke depan.
0 Komentar