Harga aluminium global kembali menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Konflik yang belum mereda di kawasan Timur Tengah membuat pasar komoditas semakin sensitif terhadap potensi gangguan rantai pasok logam industri tersebut.
Pada perdagangan Kamis, harga aluminium di dua bursa utama dunia menunjukkan tren kenaikan. Kontrak aluminium paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) ditutup naik sekitar 0,38% menjadi sekitar 25.240 yuan per ton. Sementara itu, kontrak acuan tiga bulan di London Metal Exchange (LME) melonjak sekitar 1,32% hingga mencapai sekitar US$3.502 per ton, mendekati level tertinggi hampir empat tahun terakhir.
Kenaikan harga ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ketatnya pasokan aluminium global di tengah eskalasi konflik geopolitik.
Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga adalah potensi gangguan distribusi aluminium dari Timur Tengah. Kawasan ini diperkirakan menyumbang sekitar 9% dari total pasokan aluminium dunia, sehingga setiap ketegangan geopolitik di wilayah tersebut langsung memengaruhi pasar global.
Situasi semakin rumit setelah jalur pelayaran strategis di Strait of Hormuz mengalami gangguan. Selat ini merupakan salah satu jalur perdagangan energi dan komoditas paling penting di dunia.
Ketegangan meningkat setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran memanas. Presiden AS Donald Trump menegaskan perlunya penyelesaian konflik, sementara pihak Iran memperingatkan potensi lonjakan harga minyak global hingga mencapai US$200 per barel jika eskalasi terus berlanjut.
Serangan terhadap tanker minyak di perairan Irak dan kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan logistik komoditas global.
Trader dan Analis Antisipasi Krisis Pasokan
Ketidakpastian geopolitik membuat pelaku pasar mulai mengambil langkah antisipatif. Salah satu trader komoditas global, Mercuria, dilaporkan membatalkan atau menyiapkan pengiriman hampir 100.000 ton aluminium dari gudang LME di Port Klang, Malaysia.
Langkah ini mencerminkan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan dapat memperketat ketersediaan logam di pasar internasional.
Analis dari Benchmark Mineral Intelligence bahkan telah merevisi naik proyeksi harga aluminium global untuk 2026. Perkiraan terbaru menempatkan harga rata-rata aluminium di kisaran US$3.100 per ton, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sekitar US$2.900 per ton.
Perubahan proyeksi ini didasarkan pada kemungkinan meningkatnya defisit pasokan aluminium global jika konflik geopolitik terus berlangsung dan mengganggu jalur perdagangan utama.
Pergerakan Logam Dasar Lainnya
Selain aluminium, sejumlah logam industri lain juga menunjukkan pergerakan yang beragam di pasar berjangka global.
Di bursa Shanghai:
- Tembaga turun sekitar 0,51%
- Timbal melemah sekitar 0,21%
- Timah merosot sekitar 0,89%
- Seng turun sekitar 0,49%
- Nikel justru naik sekitar 0,59%
Sementara itu di pasar LME:
- Tembaga turun sekitar 0,23%
- Nikel melemah sekitar 0,27%
- Timbal naik tipis sekitar 0,08%
- Timah meningkat sekitar 0,9%
- Seng naik sekitar 0,32%
Pergerakan yang beragam ini menunjukkan bahwa aluminium menjadi salah satu logam yang paling sensitif terhadap isu geopolitik saat ini, terutama karena pasokannya sangat bergantung pada stabilitas energi dan jalur perdagangan global.
Lonjakan harga aluminium saat ini menegaskan betapa erat hubungan antara geopolitik dan pasar komoditas. Ketegangan di Timur Tengah tidak hanya memengaruhi pasar energi, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok logam industri penting.
Selama konflik di kawasan tersebut belum mereda dan jalur perdagangan utama seperti Selat Hormuz masih berisiko terganggu, volatilitas harga aluminium kemungkinan akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.

0 Komentar