FlashNews

8/recent/ticker-posts

Harga Batu Bara Melejit, Kekayaan Low Tuck Kwong Naik Pesat dan Dekati Prajogo Pangestu

Daftar Isi [Tampilkan]

 


Lonjakan harga energi global kembali mengerek kekayaan para taipan Indonesia. Dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, kekayaan Raja Batu Bara Indonesia Low Tuck Kwong meningkat tajam seiring dengan reli harga batu bara dunia.

Berdasarkan data Forbes per Kamis (12/3/2026), kekayaan Low Tuck Kwong kini mencapai US$19,1 miliar, naik sekitar US$1,3 miliar hanya dalam satu hari. Kenaikan ini membuat jarak kekayaannya dengan orang terkaya Indonesia, Prajogo Pangestu, semakin menyempit.

 

Gap Kekayaan Prajogo dan Low Semakin Tipis

Saat ini, Prajogo Pangestu masih berada di posisi pertama daftar orang terkaya Indonesia dengan kekayaan bersih US$22,9 miliar. Namun nilainya justru mengalami penurunan sekitar US$648,1 juta dibandingkan hari sebelumnya.

Dengan demikian, selisih kekayaan antara dua konglomerat tersebut kini hanya sekitar US$3,8 miliar.

Padahal beberapa bulan sebelumnya jaraknya jauh lebih lebar. Pada Oktober 2025, kekayaan Prajogo sempat mencapai US$50,5 miliar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan kekayaan Low Tuck Kwong yang saat itu berada di kisaran US$25,1 miliar.

 

Posisi Taipan Indonesia Terbaru

Selain dua nama tersebut, beberapa konglomerat lain juga menghuni daftar orang terkaya Indonesia.

Di antaranya:

  1. Prajogo Pangestu – US$22,9 miliar
  2. Low Tuck Kwong – US$19,1 miliar
  3. Robert Budi Hartono – US$18,9 miliar
  4. Michael Hartono – US$18,2 miliar
  5. Anthoni Salim – US$12,1 miliar

Sementara itu, salah satu pemegang saham perusahaan tambang batu bara Bayan Resources Tbk (BYAN), Dewi Kam, juga menikmati kenaikan kekayaan.

Nilai kekayaannya kini mencapai US$3,4 miliar, naik sekitar US$207,6 juta dari hari sebelumnya. Dengan angka tersebut, Dewi Kam menjadi wanita terkaya kedua di Indonesia setelah Marina Budiman yang memiliki kekayaan sekitar US$6,7 miliar.

 

Lonjakan Harga Energi Jadi Pemicu

Kenaikan kekayaan para taipan energi ini terjadi bersamaan dengan lonjakan harga komoditas global.

Harga batu bara acuan Asia, yaitu kontrak berjangka Newcastle, melonjak hingga 9,3% menjadi sekitar US$150 per ton pada awal pekan ini. Kenaikan tersebut merupakan level tertinggi sejak November 2024.

Lonjakan harga energi dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan drone yang memaksa Qatar menghentikan fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia yang menyumbang sekitar 20% pasokan global.

Kondisi ini membuat sejumlah negara mulai mempertimbangkan kembali meningkatkan penggunaan batu bara sebagai alternatif energi.

 

Harga Minyak dan Gas Ikut Melonjak

Selain batu bara, harga minyak dunia juga mengalami kenaikan tajam.

Patokan minyak global Brent Crude sempat melonjak hingga US$101,59 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$96 per barel.

Di sisi lain, harga gas alam juga meroket:

  • Gas alam Eropa naik hingga 30%
  • Harga spot LNG Asia bahkan berlipat ganda dalam sepekan

Kenaikan harga energi ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar global terhadap gangguan pasokan, terutama di kawasan strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi dunia.

Lonjakan harga energi global tidak hanya berdampak pada pasar komoditas, tetapi juga langsung tercermin pada kekayaan para konglomerat energi.

Reli harga batu bara mendorong kekayaan Low Tuck Kwong melonjak cepat dan semakin mendekati Prajogo Pangestu sebagai orang terkaya di Indonesia.

Jika tren harga batu bara dan energi global terus bertahan tinggi, bukan tidak mungkin peta orang terkaya Indonesia kembali berubah dalam waktu dekat.

 

Posting Komentar

0 Komentar