Kinerja keuangan emiten rokok terbesar di Indonesia, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), mengalami tekanan sepanjang 2025. Baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih, perseroan mencatatkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, sejumlah analis menilai peluang pemulihan kinerja pada 2026 masih terbuka, seiring dengan potensi peningkatan penjualan dan perbaikan profitabilitas.
Penjualan HMSP Turun pada 2025
Berdasarkan laporan keuangan audit tahun buku 2025, penjualan bersih HMSP tercatat Rp112,17 triliun, turun 4,84% secara tahunan (YoY).
Jika dirinci berdasarkan segmen pasar, penjualan kepada pihak berelasi justru mengalami peningkatan signifikan menjadi Rp2,85 triliun, atau tumbuh 54,81% YoY. Pertumbuhan ini ditopang oleh:
- Penjualan pasar ekspor naik 56,81% menjadi Rp2,15 triliun
- Penjualan pasar domestik meningkat 48,9% menjadi Rp692,42 miliar
Namun, penjualan kepada pihak ketiga yang menjadi kontributor utama justru mengalami pelemahan.
Kinerja Penjualan per Segmen
|
Segmen Produk |
Penjualan 2025 |
Perubahan YoY |
|
Sigaret Kretek Mesin (SKM) |
Rp61,41 triliun |
-7,30% |
|
Sigaret Kretek Tangan (SKT) |
Rp38,21 triliun |
-5,01% |
|
Sigaret Putih Mesin (SPM) |
Rp5,85 triliun |
-14,33% |
|
Sigaret Putih Tangan (SPT) |
Rp958,38 miliar |
+5,24% |
|
Produk Bebas Asap |
Rp2,45 triliun |
+43,82% |
|
Produk Lainnya |
Rp448,16 miliar |
+258,05% |
Penurunan terbesar terjadi pada produk rokok konvensional, sementara produk bebas asap mencatat pertumbuhan paling signifikan.
Laba Bersih Turun Tipis
Di sisi profitabilitas, HMSP membukukan laba bersih Rp6,61 triliun, turun tipis 0,55% YoY dari Rp6,64 triliun pada 2024.
Meski laba bersih turun, margin keuntungan perusahaan justru mengalami perbaikan.
- Laba kotor: Rp20,62 triliun (+11,24% YoY)
- Gross Profit Margin: 18,4%
- EBIT Margin: 8,3%
Peningkatan margin ini terutama didorong oleh turunnya beban pokok penjualan sebesar 7,84% YoY menjadi Rp91,55 triliun.
Komponen terbesar dalam beban pokok tersebut adalah pita cukai yang mencapai Rp63,64 triliun, atau sekitar 69,51% dari total beban pokok penjualan.
Neraca Keuangan Menyusut
Pada sisi neraca, total aset HMSP pada akhir 2025 tercatat Rp51,56 triliun, turun 5,03% YoY.
Struktur keuangan perusahaan terdiri dari:
- Liabilitas: Rp23,21 triliun (-10,50% YoY)
- Ekuitas: Rp28,35 triliun (-0,02% YoY)
Jika dirinci lebih jauh:
- Liabilitas jangka pendek: Rp20,63 triliun (-12,85%)
- Liabilitas jangka panjang: Rp2,58 triliun (+14,09%)
Kinerja di Bawah Ekspektasi Analis
Analis dari Indo Premier Sekuritas, yakni Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan, menilai kinerja HMSP pada 2025 berada di bawah ekspektasi pasar.
Menurut mereka, laba bersih HMSP hanya mencapai:
- 94% dari estimasi Indo Premier
- 92% dari konsensus analis
Salah satu penyebab utama melesetnya kinerja tersebut adalah penurunan pendapatan bunga, dengan tingkat imbal hasil efektif turun menjadi 3,8% pada 2025, dari 6,1% pada 2024.
Prospek HMSP pada 2026
Untuk tahun 2026, Indo Premier Sekuritas memperkirakan kinerja HMSP akan membaik.
Proyeksi mereka antara lain:
|
Indikator |
Proyeksi 2026 |
|
Penjualan bersih |
Rp117,20 triliun |
|
Pertumbuhan penjualan |
+4,48% |
|
Laba bersih |
Rp8,51 triliun |
|
Pertumbuhan laba |
+28,74% |
Namun, sekuritas tersebut tetap menurunkan estimasi laba bersih sekitar 4% untuk 2026 dan 4,8% untuk 2027, terutama karena normalisasi pendapatan bunga.
Rekomendasi Saham HMSP
Meski melakukan revisi turun terhadap estimasi laba, Indo Premier Sekuritas tetap memberikan rekomendasi beli untuk saham PT HM Sampoerna Tbk.
Target harga saham ditetapkan pada Rp1.100 per saham, turun dari sebelumnya Rp1.150.
Valuasi tersebut didasarkan pada price to earnings ratio (PER) sekitar 15 kali untuk proyeksi laba 2026, yang sejalan dengan rata-rata historis lima tahun.
Berdasarkan data Bloomberg, sebanyak 12 dari 14 sekuritas masih memberikan rekomendasi beli untuk saham HMSP. Satu sekuritas memberikan rekomendasi hold, dan satu lainnya sell.
Target harga konsensus berada di level Rp1.046,43, yang berarti masih ada potensi kenaikan sekitar 41,4% dari harga penutupan terakhir di Rp740 per saham.
Risiko Utama
Meski prospek pemulihan terbuka, analis mengingatkan adanya sejumlah risiko utama yang bisa menekan kinerja HMSP, antara lain:
- Daya beli masyarakat yang melemah
- Keterbatasan ruang kenaikan harga rokok
- Perubahan regulasi cukai rokok
Jika faktor-faktor tersebut membaik, kinerja HMSP berpotensi kembali menguat pada 2026.
.png)
0 Komentar