FlashNews

8/recent/ticker-posts

Dari Rokok ke Susu Sapi: Mengapa Grup Djarum Bertaruh Besar di Brebes?

Daftar Isi [Tampilkan]

 


Nama Hartono identik dengan rokok, BCA, dan Sampoerna Strategic Square. Tetapi di awal 2026, konglomerasi terkaya Indonesia ini menambah satu identitas baru yang mungkin terdengar mengejutkan: peternak sapi perah.

Melalui dua entitas baru — PT Global Dairi Alami dan PT Global Dairi Bersama — Grup Djarum menargetkan kepemilikan hingga 36.000 ekor sapi perah di Brebes, Jawa Tengah, dalam beberapa tahun ke depan. Investasinya jumbo, ambisinya jelas: menyumbang sekitar 18% dari target produksi susu segar nasional ketika beroperasi penuh.

Pertanyaannya, kenapa raksasa rokok tiba-tiba tertarik bisnis susu? Dan apakah ini sinyal perubahan besar di peta konglomerasi Indonesia?

 

Sapi Perah Masuk Pilar FMCG Savoria Group

Bisnis dairy ini ditempatkan di bawah Savoria Group, lengan FMCG Grup Djarum. CEO Savoria Group Ihsan Mulia Putri menjelaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari ekspansi pilar consumer goods.

Sebelum sapi perah, portofolio Savoria sudah cukup ramai:

  • Kopi: Kopi Tubruk Gadjah, Caffino
  • Confectionery: FOX'S
  • Pastry: 5Days
  • Minuman isotonik: HydroPlus
  • Teh: Sariwangi

Masuknya susu segar melengkapi rantai produk harian yang ditargetkan ke konsumen Indonesia. Logikanya sederhana: jika kamu sudah punya pasar kopi, teh, permen, dan kue, susu adalah pelengkap alami — apalagi dengan kemungkinan integrasi ke produk turunan seperti susu kemasan, yogurt, keju, hingga minuman berbasis dairy.

 

Kenapa Brebes Dipilih?

Pemilihan lokasi ini bukan kebetulan. Brebes punya tiga keunggulan geografis sekaligus:

  1. Dekat sentra produksi jagung — pakan utama sapi perah, yang biasanya menjadi komponen biaya terbesar dalam industri dairy.
  2. Akses logistik ke Jabodetabek — pasar susu segar terbesar di Indonesia.
  3. Lahan dan iklim mendukung — Brebes memiliki area yang masih memungkinkan pembangunan peternakan skala besar.

Kombinasi ini menekan dua biaya terbesar di industri susu: pakan dan transportasi. Untuk bisnis dengan margin tipis seperti dairy, efisiensi di dua pos ini bisa jadi penentu antara profit dan rugi.

 

Bukan Ekspansi Biasa: Sinyal Pivot Strategis

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia menilai langkah ini punya makna yang lebih dalam daripada sekadar diversifikasi.

"Ini bukan sekadar 'bisnis iseng', karena pola ekspansinya masih cukup selaras dengan DNA bisnis lama grup yakni masuk ke industri dengan demand besar, recurring, cashflow kuat, dan mampu dibangun secara terintegrasi dari hulu hingga hilir."

Pola "DNA bisnis" yang dimaksud bisa dipetakan begini:

Kriteria Djarum

Rokok

Perbankan (BCA)

Susu (Baru)

Pasar besar

Recurring income

Integrasi hulu-hilir

Cashflow kuat

(potensial)

 

Susu segar punya karakter pembelian harian dan konsumsi rutin — persis seperti rokok dan layanan perbankan yang sudah jadi kekuatan grup. Permintaannya stabil, tidak sensitif terhadap siklus ekonomi, dan punya basis konsumen yang luas.

 

Diversifikasi atau Gerakan Defensif?

Di balik narasi ekspansi, ada konteks yang tidak bisa diabaikan: industri rokok sedang menghadapi tekanan struktural.

  • Cukai tembakau naik hampir setiap tahun.
  • Pola konsumsi anak muda bergeser menjauhi rokok konvensional.
  • Regulasi pengetatan iklan dan kemasan polos kian agresif.

Bagi Grup Djarum, ketergantungan jangka panjang pada bisnis rokok menyimpan risiko nyata. Masuk ke sektor pangan — yang justru didukung pemerintah melalui program ketahanan pangan nasional — adalah langkah cerdas dari sudut manajemen risiko portofolio.

Dengan kata lain: ini diversifikasi sekaligus gerakan defensif. Dan keduanya tidak harus saling eksklusif.

 

Potensi Ekosistem Pangan Terintegrasi

Yang membuat langkah ini menarik bukan hanya skala 36.000 sapinya, tetapi kemungkinan pengembangan ke depan. Beberapa skenario yang masuk akal:

  • Hilirisasi produk dairy — susu UHT, yogurt, keju, ice cream dengan merek baru atau menggandeng brand existing di Savoria.
  • Integrasi distribusi — memanfaatkan jaringan retail dan logistik yang sudah ada di ekosistem grup.
  • Integrasi pembiayaan via BCA — pembiayaan rantai pasok bagi peternak mitra atau distributor.
  • Ekspansi geografis — replikasi model di wilayah lain setelah Brebes terbukti.

Jika semua ini terwujud, Djarum bukan hanya masuk bisnis susu, melainkan membangun ekosistem pangan terintegrasi yang berpotensi jadi pemain dominan di pasar dairy domestik.

 

Tantangan yang Tidak Boleh Diremehkan

Tetapi industri susu tidak ramah pada pendatang baru. Beberapa risiko yang patut dicermati:

  • Margin tipis — industri dairy global terkenal punya margin laba bersih satu digit rendah.
  • Volatilitas harga pakan — jagung dan konsentrat sapi dipengaruhi harga global.
  • Produktivitas sapi — investasi awal besar tidak menjamin produksi susu per ekor sesuai target.
  • Kebijakan impor susu — pelonggaran impor bisa menekan harga jual domestik.
  • Kurva pembelajaran — peternakan skala industri butuh keahlian teknis yang belum jadi kompetensi inti Djarum.

 

Apa Artinya Buat Investor?

Grup Djarum sendiri tidak melantai langsung di bursa, tetapi langkah ini punya implikasi untuk beberapa emiten dan sektor:

  1. BBCA — bisa jadi penyedia pembiayaan ekosistem dairy Djarum.
  2. Emiten susu existing (seperti ULTJ, CMRY) — menghadapi tambahan kompetitor jumbo dalam beberapa tahun ke depan.
  3. Emiten pakan ternak (CPIN, JPFA) — potensi tambahan permintaan jagung dan konsentrat.
  4. Emiten ritel & FMCG — potensi jadi mitra distribusi.

Bagi investor jangka panjang, narasi besar di sini adalah: diversifikasi konglomerasi Indonesia dari sektor tradisional ke pangan. Pola ini sudah terlihat di beberapa grup lain (Salim, Sinarmas, Indofood), dan kini Djarum bergabung dengan ritme yang sama.

 

Dari rokok ke susu sapi mungkin terdengar seperti lompatan besar, tetapi jika dibaca dengan lensa strategi konglomerasi, ini langkah yang konsisten: cari pasar besar, recurring, dan bisa diintegrasikan.

Yang menentukan keberhasilan bukan ambisinya, melainkan eksekusi di lapangan — produktivitas sapi, efisiensi pakan, kualitas susu, dan kemampuan bangun rantai pasok yang sehat.

 

Posting Komentar

0 Komentar