Daftar IsiTampilkan


Tekanan keuangan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) memasuki fase yang lebih serius setelah perusahaan tidak memenuhi pembayaran kupon obligasi senilai Rp60,82 miliar yang jatuh tempo pada 24 Agustus 2026.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) kemudian menurunkan peringkat ADHI beserta surat utangnya dari idB menjadi idCCC, sementara statusnya tetap berada dalam CreditWatch with Negative Implication.

Turunnya rating ke idCCC penting dibaca dengan tepat. Dalam definisi PEFINDO, efek utang berperingkat idCCC sudah berada dalam kondisi rentan gagal bayar dan sangat bergantung pada membaiknya kondisi bisnis serta keuangan emiten untuk dapat memenuhi komitmen jangka panjangnya.

Situasinya juga tidak muncul tiba-tiba. Dalam waktu kurang dari satu bulan, rating ADHI sudah turun beberapa tingkat: dari idA- menjadi idBB pada akhir Juli, lalu menjadi idB pada 18 Agustus, sebelum kembali diturunkan ke idCCC setelah kupon 24 Agustus tidak dibayar.

Masalah utama ADHI saat ini bukan semata laba rugi akuntansi, melainkan likuiditas dan kemampuan menyediakan kas tepat waktu untuk memenuhi kewajiban keuangan.

Ringkasan
  • PEFINDO menurunkan rating ADHI dari idB menjadi idCCC setelah kupon Obligasi Berkelanjutan III Tahap III Seri B dan C senilai Rp60,82 miliar yang jatuh tempo 24 Agustus 2026 tidak dibayar.
  • Rating ADHI sudah turun tiga tahap dalam waktu kurang dari sebulan: idA- → idBB pada 31 Juli, idBB → idB pada 18 Agustus, lalu menjadi idCCC setelah tanggal pembayaran kupon terlewati.
  • Tekanan terbesar berasal dari likuiditas. Kas dan setara kas semester I/2026 turun tajam, leverage tinggi, sementara BEI menghentikan sementara perdagangan saham ADHI sejak 24 Agustus.
idCCC Rating Terbaru ADHI
Rp60,82 M Kupon yang Jatuh Tempo
7,7x Debt/EBITDA versi PEFINDO*
-52,5% Penurunan Kas H1 2026**

*Mengikuti metrik kredit yang digunakan PEFINDO. **Berdasarkan laporan keuangan publik ADHI: kas dan setara kas turun dari sekitar Rp1,71 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp813,1 miliar per Juni 2026.

Dari idA- ke idCCC dalam Kurang dari Sebulan

Perubahan rating ADHI sepanjang beberapa pekan terakhir menunjukkan seberapa cepat persepsi risiko kredit perusahaan memburuk.

Riwayat resmi PEFINDO menunjukkan pada awal Juli ADHI masih berada di peringkat idA-. Pada 31 Juli 2026, rating diturunkan menjadi idBB dan ditempatkan dalam CreditWatch dengan implikasi negatif.

Penurunan itu dipicu rencana perseroan meminta persetujuan pemegang obligasi untuk menunda pembayaran kupon yang akan jatuh tempo pada 24 Agustus.

Setelah upaya melalui Rapat Umum Pemegang Obligasi tidak menghasilkan persetujuan yang dibutuhkan, PEFINDO kembali memangkas rating ADHI menjadi idB pada 18 Agustus 2026.

Saat itu PEFINDO sudah memperingatkan bahwa ketidakmampuan membayar kupon pada 24 Agustus akan dianggap sebagai kejadian gagal bayar aktual dan berpotensi memicu penurunan rating lanjutan.

Setelah tanggal jatuh tempo terlewati dan kewajiban belum dipenuhi, rating kemudian kembali turun menjadi idCCC.

Tanggal Rating ADHI Pemicu Utama
6 Juli 2026 idA- Rating masih ditegaskan
31 Juli 2026 idBB / CW Negatif Rencana meminta penundaan kupon
18 Agustus 2026 idB / CW Negatif Usulan penundaan tidak disetujui pemegang obligasi
Setelah 24 Agustus 2026 idCCC / CW Negatif Kupon Rp60,82 miliar tidak dibayar saat jatuh tempo
Koreksi kronologi:
Penurunan idBB menjadi idB bukan terjadi pada Juli. PEFINDO menurunkan rating dari idA- menjadi idBB pada 31 Juli 2026, kemudian dari idBB menjadi idB pada 18 Agustus 2026. Rating idCCC datang setelah kewajiban kupon 24 Agustus tidak terpenuhi.

Turunnya rating beberapa notch dalam waktu singkat biasanya menunjukkan bahwa isu yang dihadapi bukan lagi sekadar perlambatan bisnis, melainkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban finansial jangka dekat.

Dalam terminologi PEFINDO, idCCC berada jauh di bawah kategori investasi. Rating ini mengindikasikan kewajiban utang telah sangat rentan dan kemampuan pembayaran sangat sensitif terhadap perbaikan kondisi bisnis dan keuangan.

Meski demikian, idCCC juga tidak identik dengan idD. Peringkat idD digunakan pada efek utang yang telah berada dalam kondisi gagal bayar menurut definisi rating instrumennya, sementara idSD menunjukkan selective default pada obligor yang gagal pada satu atau lebih kewajiban tetapi masih membayar kewajiban lain.

Dengan kata lain, ruang penurunan rating masih ada apabila persoalan tidak diselesaikan dalam periode remedial atau terjadi gagal bayar tambahan.

Masalah ADHI Ada di Kas, Bukan Sekadar Laba Bersih

Sekilas, laporan laba rugi ADHI semester I/2026 tidak terlihat seperti perusahaan yang sama sekali kehilangan kemampuan menghasilkan laba.

Berdasarkan laporan keuangan publik, pendapatan usaha enam bulan pertama 2026 sekitar Rp3,11 triliun, turun 18,4% dibandingkan sekitar Rp3,81 triliun pada semester I/2025.

Laba bruto justru naik menjadi Rp700,42 miliar, sedangkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai sekitar Rp8,49 miliar, naik dari Rp7,54 miliar setahun sebelumnya.

Tetapi laba bersih Rp8,49 miliar tidak berarti perusahaan mempunyai uang tunai yang cukup untuk membayar kupon Rp60,82 miliar pada tanggal tertentu.

Perbandingan sederhana:
Kupon Rp60,82 miliar setara sekitar 7,2 kali laba bersih ADHI semester I/2026 sebesar Rp8,49 miliar.

Perbandingan ini hanya ilustrasi skala dan bukan ukuran kemampuan bayar, karena kupon seharusnya dibayar dari kas dan sumber likuiditas, bukan laba akuntansi semata.

Indikator yang lebih relevan adalah posisi kas.

Kas dan setara kas ADHI turun dari sekitar Rp1,71 triliun pada akhir 2025 menjadi hanya Rp813,1 miliar per 30 Juni 2026, atau menyusut sekitar 52,5% dalam enam bulan.

Secara nominal, kas Rp813 miliar memang jauh lebih besar daripada kupon Rp60,82 miliar. Tetapi saldo kas perusahaan tidak bebas seluruhnya digunakan untuk satu kewajiban karena ADHI juga harus membiayai proyek, membayar vendor, gaji, utang bank, kewajiban obligasi lain, dan kebutuhan modal kerja.

Itulah mengapa persoalan likuiditas lebih kompleks daripada membandingkan saldo kas dengan satu pembayaran kupon.

PEFINDO juga menyoroti fleksibilitas keuangan yang lemah, leverage tinggi, risiko eksekusi order book, serta lingkungan bisnis yang volatil.

Rasio utang terhadap EBITDA yang digunakan PEFINDO berada sekitar 7,7 kali. Semakin tinggi rasio tersebut, semakin besar beban utang dibandingkan kapasitas menghasilkan laba operasional sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.

Angka PEFINDO dan Laporan Keuangan Berbeda, Mengapa?

Ada satu hal yang perlu dijelaskan agar investor tidak bingung membaca angka ADHI.

Data yang dikutip dari laporan PEFINDO menyebut per Juni 2026 aset sekitar Rp26,21 triliun, ekuitas sekitar Rp2 triliun, penjualan Rp3,30 triliun, dan EBITDA Rp535,8 miliar.

Sementara laporan keuangan publik ADHI menunjukkan aset sekitar Rp27,53 triliun, ekuitas Rp3,31 triliun, serta pendapatan usaha Rp3,11 triliun.

Perbedaan tersebut tidak otomatis berarti salah satu angka keliru.

Lembaga pemeringkat dapat menggunakan angka yang disesuaikan untuk keperluan analisis kredit, misalnya melakukan reklasifikasi atas utang, ekuitas, pendapatan tertentu, atau pos keuangan lain. Karena itu, metrik rating tidak selalu identik dengan angka laporan keuangan konsolidasian yang dipublikasikan emiten.

Indikator Juni 2026 Angka Analisis PEFINDO* Laporan Keuangan Publik**
Aset Rp26,21 T ~Rp27,53 T
Ekuitas ~Rp2,00 T ~Rp3,31 T
Penjualan/Pendapatan Rp3,30 T ~Rp3,11 T
Debt/EBITDA 7,7x Tidak langsung sebanding

*Mengikuti angka yang digunakan dalam materi pemeringkatan PEFINDO. **Mengikuti laporan keuangan publik ADHI yang diberitakan dari keterbukaan informasi.

Untuk menilai risiko kredit, angka PEFINDO lebih relevan dibaca bersama metodologi ratingnya. Untuk menilai laporan keuangan emiten, angka konsolidasian ADHI tetap menjadi referensi utama.

Ada pula satu perbandingan dalam bahan awal yang sebaiknya dihindari: membandingkan penjualan semester I/2026 Rp3,30 triliun langsung dengan pendapatan setahun penuh 2025 Rp10,13 triliun.

Perbandingan yang lebih sepadan adalah H1 2026 versus H1 2025. Berdasarkan laporan keuangan publik, pendapatan turun sekitar 18,4% YoY.

Saham ADHI Disuspensi, Apa yang Harus Dipantau Berikutnya?

Persoalan obligasi langsung merembet ke pasar saham.

Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan saham ADHI di seluruh pasar mulai sesi I pada 24 Agustus 2026, bertepatan dengan jatuh tempo pembayaran kupon.

Suspensi memperlihatkan bahwa persoalan kredit kini sudah menjadi peristiwa material bagi pemegang saham.

Namun investor perlu membedakan hak pemegang obligasi dan pemegang saham.

Obligasi adalah kewajiban kontraktual: pokok dan bunga harus dibayar sesuai persyaratan. Saham merupakan klaim residual terhadap perusahaan. Jika tekanan keuangan memburuk, pemegang saham secara struktural berada di belakang kreditur dalam hierarki klaim.

Karena itu, memburuknya kualitas kredit biasanya juga meningkatkan risiko ekuitas, meskipun tidak ada rumus bahwa harga saham harus turun dalam persentase tertentu.

Beberapa perkembangan berikut menjadi jauh lebih penting daripada sekadar melihat ratingnya:

  • apakah kupon Rp60,82 miliar akhirnya diselesaikan dalam periode remedial;
  • apakah tercapai kesepakatan baru dengan pemegang obligasi;
  • bagaimana ADHI memperoleh sumber likuiditas baru;
  • apakah kewajiban obligasi dan pinjaman berikutnya dapat dibayar tepat waktu;
  • apakah kas operasi proyek membaik;
  • apakah terdapat dukungan pemegang saham atau restrukturisasi yang konkret; dan
  • kapan serta dengan syarat apa BEI dapat membuka kembali suspensi saham.

Investor juga perlu berhati-hati dengan asumsi bahwa status BUMN otomatis menjamin semua kewajiban ADHI.

ADHI memang merupakan perusahaan negara dan per 30 Juni 2026 mayoritas sahamnya dimiliki PT Danantara Asset Management. Tetapi utang korporasi ADHI tidak otomatis merupakan kewajiban pemerintah kecuali terdapat jaminan eksplisit pada instrumen tertentu.

Intinya:
Turunnya rating ADHI ke idCCC menandai perubahan isu dari sekadar tekanan fundamental menjadi persoalan likuiditas yang nyata. Dalam waktu kurang dari sebulan rating merosot dari idA- menjadi idBB, kemudian idB, dan akhirnya idCCC setelah kupon Rp60,82 miliar tidak dibayar saat jatuh tempo. Meski ADHI masih mencetak laba bersih Rp8,49 miliar pada semester I/2026, kas turun lebih dari separuh dan leverage tetap tinggi. Rating idCCC berarti kewajiban utang sangat rentan gagal bayar, tetapi belum sama dengan mengatakan seluruh kewajiban ADHI telah default. Bagi investor, titik kritis berikutnya adalah apakah pembayaran dapat diselesaikan dalam periode remedial dan apakah perusahaan mampu menunjukkan sumber likuiditas yang berkelanjutan untuk kewajiban setelahnya.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Berapa rating terbaru Adhi Karya?
PEFINDO menurunkan rating PT Adhi Karya (Persero) Tbk. beserta surat utangnya dari idB menjadi idCCC, dengan CreditWatch berimplikasi negatif.
Mengapa rating ADHI turun ke idCCC?
Penurunan terjadi setelah ADHI tidak memenuhi pembayaran kupon Obligasi Berkelanjutan III Tahap III Tahun 2022 Seri B dan C sekitar Rp60,82 miliar yang jatuh tempo pada 24 Agustus 2026.
Apa arti rating idCCC?
Menurut definisi PEFINDO, efek utang berperingkat idCCC rentan gagal bayar dan kemampuan memenuhi komitmen keuangannya sangat bergantung pada membaiknya kondisi bisnis dan keuangan emiten.
Apakah idCCC berarti ADHI sudah bangkrut?
Tidak. Rating idCCC menunjukkan risiko kredit yang sangat tinggi, tetapi tidak identik dengan kebangkrutan. Penyelesaian kewajiban, restrukturisasi, likuiditas dan keberlangsungan usaha masih harus dipantau.
Apakah saham ADHI masih diperdagangkan?
BEI menghentikan sementara perdagangan saham ADHI di seluruh pasar mulai sesi I 24 Agustus 2026 terkait persoalan pembayaran kupon obligasi.
Apa yang dapat membuat rating ADHI membaik?
PEFINDO menyatakan rating dapat ditinjau kembali jika ADHI mampu menyelesaikan kewajiban yang bermasalah dan menunjukkan kapasitas serta solusi yang berkelanjutan untuk memenuhi kewajiban keuangan jangka dekat.
Sumber: PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO); keterbukaan informasi PT Adhi Karya (Persero) Tbk.; laporan keuangan ADHI semester I/2026; Bursa Efek Indonesia; serta Ipotnews.

Perhitungan Receh.in: Penurunan kas dari sekitar Rp1,71 triliun menjadi Rp813,1 miliar setara sekitar 52,5%. Kupon Rp60,82 miliar sekitar 7,2 kali laba bersih semester I/2026 Rp8,49 miliar. Perbandingan tersebut hanya menunjukkan skala dan bukan ukuran kemampuan bayar.

Catatan: Kronologi rating yang benar adalah idA- menjadi idBB pada 31 Juli 2026, kemudian idBB menjadi idB pada 18 Agustus 2026, dan selanjutnya idCCC setelah kewajiban kupon 24 Agustus tidak terpenuhi. Angka keuangan dalam analisis PEFINDO dapat berbeda dengan laporan keuangan publik karena penyesuaian untuk metodologi pemeringkatan.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham maupun obligasi ADHI. Rating kredit merupakan opini lembaga pemeringkat dan dapat berubah mengikuti perkembangan kemampuan pembayaran, likuiditas, restrukturisasi dan kondisi bisnis perusahaan.