Daftar IsiTampilkan

Receh.in — PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) bersiap merampingkan bisnis dengan melepas aset dan lini usaha yang dinilai tidak sejalan dengan kompetensi intinya sebagai kontraktor. Aset yang masuk radar divestasi mencakup perhotelan, pengelolaan air, energi, hingga konsesi jalan tol.

Langkah ini sejalan dengan arahan Danantara Indonesia agar BUMN Karya melakukan streamlining dan kembali fokus pada bisnis inti. Bagi ADHI, tujuan utamanya bukan sekadar merapikan struktur grup, tetapi juga memperoleh dana segar untuk memperbaiki postur neraca.

Di tengah proses restrukturisasi, bisnis utama ADHI justru menunjukkan tanda pemulihan. Kontrak baru hingga Juli 2026 mencapai Rp8,3 triliun, melonjak 118,4% dibandingkan Rp3,8 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun pendapatan semester I/2026 masih tertekan, sehingga pemulihan kontrak baru belum sepenuhnya tercermin ke top line.

Ringkasan
  • ADHI menargetkan divestasi aset noninti seperti hotel, air, energi, dan jalan tol.
  • Dana hasil divestasi akan digunakan untuk memperbaiki postur neraca dan restrukturisasi keuangan.
  • Kontrak baru hingga Juli 2026 naik 118,4% menjadi Rp8,3 triliun, tetapi pendapatan semester I masih Rp3,11 triliun.

ADHI Kembali Fokus Jadi Kontraktor Murni

Direktur Utama ADHI Moeharmein Zein Chaniago menyatakan perseroan sedang mempercepat restrukturisasi keuangan sekaligus menata anak usaha.

Fokus utama yang ingin dibangun kembali adalah bisnis kontraktor.

Karena itu, lini usaha yang berada di luar kompetensi tersebut akan dievaluasi untuk dilepas. Direktur Portofolio Bisnis dan Risiko ADHI Rozi Sparta menyebut bisnis pengelolaan air, energi, jalan tol, serta tiga aset hotel yang dioperasikan anak usaha masuk dalam program divestasi.

Aset/Lini Usaha Status dalam Strategi
Perhotelan Masuk program divestasi
Pengelolaan air Masuk program divestasi
Energi Masuk program divestasi
Jalan tol Masuk program divestasi
Bisnis kontraktor Dipertahankan sebagai bisnis inti

Pada 2026, perseroan menargetkan pelepasan saham pada tiga entitas anak.

Strateginya cukup jelas: mengurangi kompleksitas grup, mengurangi modal yang terkunci di bisnis noninti, lalu mengarahkan sumber daya ke bisnis kontraktor yang menjadi kompetensi utama.

Poin penting: divestasi aset bukan otomatis kabar positif. Nilainya bergantung pada berapa harga jualnya, apakah di atas atau di bawah nilai buku, berapa utang yang ikut dilepas, dan seberapa besar dana yang benar-benar bisa dipakai untuk memperbaiki neraca.

Dana Divestasi Diarahkan untuk Pulihkan Neraca

Manajemen menyebut dana segar dari penjualan aset akan digunakan untuk mempercepat pemulihan kondisi neraca.

Ini menjadi bagian paling penting dari seluruh strategi streamlining.

Bagi emiten konstruksi, persoalan bukan hanya kemampuan memperoleh proyek, tetapi juga kebutuhan modal kerja, piutang, kewajiban proyek, beban bunga, dan utang yang sering kali besar.

Karena itu, menjual aset noninti bisa memberikan dua manfaat sekaligus: menambah kas dan mengurangi kebutuhan pendanaan pada bisnis yang tidak menjadi fokus utama.

Potensi Dampak Divestasi Efek ke ADHI
Kas masuk Memperkuat likuiditas
Utang berkurang Potensi menekan beban bunga
Aset noninti berkurang Struktur bisnis lebih sederhana
Fokus modal Lebih terkonsentrasi ke proyek kontraktor

Namun karena bahan belum menyebut nilai aset yang akan dijual, harga indikatif, calon pembeli, maupun potensi proceeds, dampak kuantitatif terhadap utang dan neraca belum bisa dihitung.

LRT City Ikut Dikaji, Risiko Properti Masih Jadi PR

Selain divestasi, ADHI bersama Danantara sedang melakukan due diligence terhadap proyek-proyek properti yang dikembangkan anak usaha, termasuk LRT City di 12 lokasi.

Tujuan proses ini adalah memetakan kendala operasional serta mencari opsi untuk menyelesaikan kewajiban keuangan anak perusahaan.

Ini menunjukkan restrukturisasi ADHI tidak hanya menyasar kepemilikan aset, tetapi juga proyek properti yang masih membawa kewajiban.

Yang perlu dicermati: properti TOD dan proyek berbasis LRT bisa memiliki nilai strategis, tetapi proyek dengan penjualan lambat juga dapat menahan kas dan menambah kebutuhan pendanaan. Hasil due diligence akan menentukan apakah aset dipertahankan, direstrukturisasi, atau dilepas.

Kontrak Baru Naik 118%, tapi Pendapatan Belum Ikut Melonjak

Di tengah restrukturisasi, bisnis kontraktor ADHI menunjukkan pemulihan dari sisi perolehan kontrak baru.

Hingga Juli 2026, kontrak baru mencapai Rp8,3 triliun, naik 118,4% dibandingkan Rp3,8 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Rp8,3 T Kontrak baru hingga Juli 2026
+118,4% Pertumbuhan kontrak baru
117 Proyek aktif hingga Agustus
Rp3,11 T Pendapatan 1H2026

ADHI juga masih menggarap 117 proyek aktif di berbagai sektor, mulai dari infrastruktur, gedung, perkeretaapian, hingga energi.

Namun investor perlu membedakan kontrak baru dan pendapatan.

Kontrak baru adalah tambahan order book, bukan pendapatan yang langsung diakui. Revenue baru akan terealisasi mengikuti progres pengerjaan, termin pembayaran, dan pengakuan akuntansi.

Karena itu, lonjakan 118,4% pada kontrak baru memang positif untuk visibilitas pekerjaan, tetapi belum otomatis berarti laba akan naik dengan persentase yang sama.

Indikator 1H2026 Realisasi Pertumbuhan
Pendapatan Rp3,11 triliun Terbatas dalam bahan
Laba bersih Rp8,49 miliar +12,6%
EBITDA Rp551,64 miliar +28,1%

EBITDA yang naik 28,1% lebih cepat daripada laba bersih menunjukkan operasional membaik, tetapi profitabilitas bottom line masih relatif tipis dibandingkan skala pendapatan.

Secara sederhana, margin laba bersih semester I/2026 hanya sekitar 0,27%, sedangkan margin EBITDA sekitar 17,7%.

Gap yang sangat besar tersebut menunjukkan bahwa investor perlu memperhatikan item di bawah EBITDA, termasuk beban bunga, depresiasi, pajak, dan biaya lain.

Intinya: tesis pemulihan ADHI saat ini punya dua kaki: restrukturisasi neraca melalui divestasi aset noninti dan pemulihan order book lewat kontrak baru yang naik 118,4%. Namun investor belum bisa berhenti di angka kontrak baru. Kunci berikutnya adalah apakah proyek bisa dikonversi menjadi kas dan laba, serta apakah hasil divestasi cukup material untuk benar-benar menurunkan tekanan neraca. Kontrak boleh ramai, tetapi yang membayar utang tetap cash flow.

FAQ Divestasi Aset dan Prospek ADHI

Aset apa saja yang akan didivestasi ADHI?
Dalam bahan, ADHI menyebut aset dan lini usaha noninti seperti perhotelan, pengelolaan air, energi, dan jalan tol masuk dalam program divestasi.
Untuk apa dana hasil divestasi digunakan?
Manajemen menyatakan dana hasil penjualan aset akan diarahkan untuk mempercepat pemulihan postur neraca dan mendukung restrukturisasi keuangan.
Berapa kontrak baru ADHI hingga Juli 2026?
Kontrak baru mencapai Rp8,3 triliun atau naik 118,4% dibandingkan Rp3,8 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berapa laba bersih ADHI semester I/2026?
Laba bersih mencapai Rp8,49 miliar atau naik 12,6% secara tahunan.
Berapa EBITDA ADHI semester I/2026?
EBITDA tercatat Rp551,64 miliar atau tumbuh 28,1% YoY.
Apakah lonjakan kontrak baru berarti laba ADHI akan langsung melonjak?
Tidak otomatis. Kontrak baru baru akan berubah menjadi pendapatan dan laba sesuai progres pekerjaan, margin proyek, termin pembayaran, dan kualitas arus kas.
Sumber: Public Expose Live PT Adhi Karya (Persero) Tbk. pada 9 September 2026, keterangan manajemen ADHI, serta data kontrak baru dan kinerja semester I/2026 sebagaimana terdapat dalam bahan yang diterima Receh.in.

Perhitungan Receh.in: Margin laba bersih semester I/2026 sekitar 0,27% dari laba Rp8,49 miliar dibandingkan pendapatan Rp3,11 triliun. Margin EBITDA sekitar 17,7% dari EBITDA Rp551,64 miliar. Perhitungan ini digunakan untuk menunjukkan bahwa kenaikan EBITDA belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi laba bersih.

Catatan: Bahan belum menyebut nilai aset yang akan dilepas, harga jual, calon pembeli, proceeds, ataupun dampak langsung terhadap utang. Karena itu, artikel tidak mengestimasi nilai divestasi atau penurunan leverage. Kontrak baru juga tidak diperlakukan sebagai pendapatan.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham ADHI. Investor perlu mempertimbangkan utang, arus kas, order book, margin proyek, hasil divestasi, dan risiko eksekusi restrukturisasi sebelum mengambil keputusan.