Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) mulai memiliki cerita baru di luar energi dan tambang: data center dan infrastruktur AI. Melalui anak usaha yang dimiliki penuh, PT DSST Mas Gemilang (DSST), Grup Sinarmas menargetkan ekspansi kapasitas data center SM+ dari sekitar 10 MW saat ini menjadi 43 MW pada akhir 2026, dengan potensi jangka pendek sekitar 83 MW dan skenario jangka panjang hingga 1 GW.

Riset Indo Premier Sekuritas tertanggal 8 September 2026 menilai DSST juga mulai menjajaki masuk ke ekosistem AI yang lebih luas, mulai dari GPU, compute, hingga storage infrastructure. Namun riset tersebut berstatus non-rated, tanpa target harga maupun rekomendasi saham untuk DSST. fileciteturn11file0L5-L8

Bagi investor DSSA, bagian paling menarik bukan sekadar kata AI, melainkan economics bisnis data center yang mulai terlihat: kontrak 3–7 tahun, target EBITDA margin 50%–60%, dan mid-teens IRR. Tetapi valuasi jumbo yang muncul dari skenario 1 GW tetap harus dibaca sebagai simulasi, bukan nilai yang sudah “terkunci” hari ini.

Ringkasan
  • DSST menargetkan kapasitas SM+ naik dari 10 MW menjadi 43 MW pada akhir 2026, dengan potensi sekitar 83 MW dalam jangka pendek.
  • Fasilitas Kuningan 21 MW disebut fully sold out, dengan 20 MW dialokasikan untuk hyperscaler.
  • Dalam skenario 1 GW, Indo Premier menghitung nilai ekuitas data center DSST bisa mencapai Rp338,9 triliun, tetapi hasilnya sangat sensitif terhadap asumsi kepemilikan, utilisasi, tarif sewa, capex, dan valuasi.

SM+ Target Naik dari 10 MW ke 43 MW pada Akhir 2026

DSST merupakan anak usaha yang seluruh sahamnya dimiliki DSSA dan berfokus pada infrastruktur digital, data center, solusi TI, serta pengembangan ekosistem AI. DSST juga menjadi holding untuk sejumlah bisnis telko dan digital, termasuk EXCL dan MORA. fileciteturn11file0L41-L47

Untuk bisnis data center, merek yang dikembangkan adalah SM+. Saat ini SM+ mengoperasikan 24 lokasi dengan total kapasitas sekitar 10 MW. Indo Premier memperkirakan kapasitas terpasang meningkat menjadi 43 MW pada FY2026, terdiri dari 12 MW di Tangerang dan 21 MW di Kuningan, Jakarta. fileciteturn11file0L48-L52

10 MW Kapasitas SM+ saat ini
43 MW Target FY2026
~83 MW Potensi jangka pendek
1 GW Skenario kapasitas jangka panjang

Artinya, dari 10 MW ke 43 MW, kapasitas naik sekitar 4,3 kali. Jika perluasan Kuningan hingga tambahan sekitar 40 MW terealisasi, total kapasitas berpotensi mendekati 83 MW.

Yang membuat cerita ini lebih konkret adalah fasilitas Kuningan. Proyek tersebut merupakan joint venture dengan LG CNS yang bertindak sebagai technology advisor/operator. Berdasarkan diskusi Indo Premier dengan manajemen, fasilitas 21 MW tersebut sudah terjual penuh: 1 MW untuk pelanggan enterprise dan 20 MW untuk hyperscaler, terutama dari sektor teknologi. fileciteturn11file0L52-L57

Kapasitas Status Catatan
10 MW Beroperasi 24 lokasi
12 MW Ekspansi FY2026 Tangerang
21 MW FY2026 Kuningan, fully sold out
~60 MW Potensi ekspansi Kapasitas maksimum fasilitas Kuningan
~83 MW Potensi jangka pendek Jika tambahan Kuningan terealisasi
1.000 MW Skenario jangka panjang Berdasarkan channel checks Indo Premier
Poin penting: 1 GW belum merupakan kapasitas yang sudah dibangun atau dikontrak. Dalam riset, angka itu disebut sebagai potensi jangka panjang berdasarkan channel checks, sehingga lebih tepat diperlakukan sebagai skenario daripada guidance operasional resmi.

Economics Data Center DSST Terlihat Menarik

Indo Premier mencatat economics bisnis SM+ cukup menarik jika utilisasi tinggi dan tarif sewa sesuai asumsi.

Capex disebut sekitar US$9 juta per MW termasuk lahan dan US$7 juta per MW di luar lahan. Durasi kontrak umumnya 3–7 tahun, dengan kontrak yang lebih pendek cenderung memiliki tarif sewa lebih tinggi. Manajemen menargetkan EBITDA margin 50%–60% dan IRR di kisaran mid-teens. fileciteturn11file0L58-L63

Parameter Indikasi
Capex termasuk lahan ~US$9 juta/MW
Capex tidak termasuk lahan ~US$7 juta/MW
Durasi kontrak 3–7 tahun
Target EBITDA margin 50%–60%
Target IRR Mid-teens

Selain itu, DSST sedang mengeksplorasi model build-to-suit atau BTS untuk ekspansi data center berikutnya. Dengan model ini, kapasitas dibangun untuk klien yang sudah melakukan pre-commitment sehingga risiko kapasitas menganggur lebih rendah. fileciteturn11file0L64-L69

Bagi investor, pendekatan ini penting karena bisnis data center sangat padat modal. Membangun kapasitas tanpa tenant bisa menghasilkan gedung bagus, rack mengilap, dan return yang muram.

DSST Mulai Jajaki GPU, Compute, dan Storage

Riset Indo Premier juga menyoroti peluang DSST memperluas bisnis dari data center murni ke ekosistem AI yang lebih luas.

Perusahaan disebut belum benar-benar masuk penuh ke broader AI ecosystem, tetapi sedang menjajaki ekspansi ke GPU, compute, dan storage infrastructure. fileciteturn11file0L69-L71

Hal ini sejalan dengan diagram value chain pada halaman 2 riset. DSST digambarkan tidak hanya berada pada layer data center dan connectivity, tetapi juga mulai membangun komponen AI cloud & compute, software orchestration, model, hingga aplikasi melalui berbagai kolaborasi strategis. Pada diagram tersebut, bagian AI cloud & compute masih ditandai under development, sehingga belum tepat menganggap semua lapisan itu sudah menghasilkan pendapatan penuh.

Jika ekspansi ini terealisasi, profil bisnis DSST bisa berubah dari sekadar operator infrastruktur fisik menjadi penyedia kapasitas komputasi. Ini penting karena economics GPU-as-a-service atau compute infrastructure dapat berbeda dari sewa rack dan power konvensional.

Namun: masuk GPU tidak otomatis berarti margin lebih tinggi. Hardware mahal, siklus teknologinya cepat, utilisasi harus tinggi, dan risiko obsolete jauh lebih besar dibandingkan sekadar menyewakan ruang data center.

Valuasi 1 GW Bisa Rp338,9 Triliun, Tapi Asumsinya Agresif

Bagian paling sensasional dalam riset adalah simulasi valuasi jika DSST suatu hari mencapai kapasitas 1 GW.

Pada halaman 4, Indo Premier menggunakan asumsi kapasitas 1.000 MW, biaya investasi US$9 juta/MW, utilisasi 80%, tarif sewa US$150/kW/bulan, PUE 1,40, tarif listrik US$0,12/kWh, dan multiple 20x EV/EBITDA. Dengan asumsi tersebut, EBITDA diperkirakan sekitar US$1,267 miliar atau Rp22,56 triliun. fileciteturn11file0L111-L134

Asumsi Valuasi 1 GW Nilai
Kapasitas 1.000 MW
Utilisasi 80%
Lease rate US$150/kW/bulan
Capex US$9 juta/MW
EBITDA US$1,267 miliar
EV/EBITDA 20x
Equity value data center Rp338,98 triliun

Dalam skenario DSSA memiliki 100% pengembangan data center 1 GW, Indo Premier menghitung total market value DSSA sekitar Rp397,5 triliun. Tetapi jika kepemilikan ekonominya hanya 50%, nilai DSSA turun menjadi sekitar Rp228,0 triliun atau sekitar Rp1.184 per saham dalam tabel SOTP halaman 5. fileciteturn11file0L135-L151 fileciteturn11file0L159-L177

Perbedaan ini sangat besar. Artinya, tesis valuasi DSSA amat sensitif terhadap struktur kepemilikan proyek.

Secara sederhana, selisih antara skenario 100% dan 50% kepemilikan data center mencapai sekitar Rp169,5 triliun pada nilai aset data center.

Indo Premier bahkan menyimpulkan bahwa jika DSST hanya memiliki 50% pengembangan 1 GW, valuasi DSSA yang dihasilkan sekitar Rp245 triliun dalam ringkasan riset, tidak jauh dari kapitalisasi pasar yang digunakan sebagai pembanding, sehingga pasar dinilai sudah cukup banyak memasukkan ekspektasi ekspansi 1 GW. fileciteturn11file0L72-L80

Intinya: cerita data center DSSA sudah lebih konkret karena kapasitas 43 MW sedang dibangun dan fasilitas Kuningan disebut fully sold out. Namun loncatan ke 1 GW masih merupakan skenario jangka panjang yang membutuhkan modal sangat besar, tenant, listrik, lahan, jaringan, serta struktur pendanaan yang disiplin. Valuasi Rp338,9 triliun terdengar menggoda; asumsi 1.000 MW, 80% utilisasi, tarif US$150/kW, dan 20x EV/EBITDA adalah bagian yang tidak boleh dilewatkan. Spreadsheet bisa melaju ke 1 GW lebih cepat daripada buldoser.

FAQ DSSA, DSST dan Data Center SM+

Apa hubungan DSSA dengan DSST?
DSST Mas Gemilang merupakan anak usaha yang dimiliki 100% oleh DSSA dan menjadi lengan bisnis infrastruktur digital Grup Sinarmas.
Berapa kapasitas data center SM+ saat ini?
Dalam riset Indo Premier, SM+ disebut memiliki kapasitas sekitar 10 MW di 24 lokasi.
Berapa target kapasitas SM+ pada 2026?
Kapasitas diperkirakan meningkat menjadi 43 MW pada akhir 2026, terdiri dari 12 MW di Tangerang dan 21 MW di Kuningan.
Apakah fasilitas Kuningan sudah punya tenant?
Ya. Menurut riset Indo Premier berdasarkan diskusi dengan manajemen, fasilitas 21 MW Kuningan disebut fully sold out, terdiri dari 1 MW enterprise dan 20 MW hyperscaler.
Apakah DSST sudah masuk bisnis GPU dan AI compute?
Belum sepenuhnya. Riset menyebut DSST masih menjajaki ekspansi ke GPU, compute, dan storage infrastructure.
Berapa valuasi data center DSST jika mencapai 1 GW?
Dengan asumsi Indo Premier berupa utilisasi 80%, lease rate US$150/kW/bulan, capex US$9 juta/MW, dan valuasi 20x EV/EBITDA, equity value data center diperkirakan sekitar Rp338,98 triliun.
Sumber: Riset Indo Premier Sekuritas “DSST: potential further data center expansion and AI ecosystem entry” tertanggal 8 September 2026 oleh Aurelia Barus dan Belva Monica.

Perhitungan Receh.in: Kenaikan kapasitas dari 10 MW menjadi 43 MW setara sekitar 4,3 kali. Tambahan kapasitas Kuningan sekitar 40 MW dapat membawa total jangka pendek mendekati 83 MW. Selisih equity value data center antara skenario kepemilikan 100% dan 50% sekitar Rp169,49 triliun.

Catatan: Riset berstatus non-rated dan tidak memberikan target harga untuk DSST. Skenario kapasitas 1 GW, utilisasi 80%, tarif sewa US$150/kW/bulan, dan multiple 20x EV/EBITDA merupakan asumsi valuasi Indo Premier, bukan guidance operasional yang sudah terealisasi. Potensi masuk GPU, compute, dan storage juga masih tahap eksplorasi.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham DSSA. Investor perlu mempertimbangkan valuasi, capex, struktur kepemilikan, leverage, utilisasi, tarif sewa, pasokan listrik, serta risiko eksekusi ekspansi sebelum mengambil keputusan.