Receh.in — Struktur kepemilikan PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) berpotensi berubah besar. Low Tuck Kwong dan Elaine Low telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama untuk mengalihkan sekitar 10 miliar saham BYAN atau 30% dari modal perseroan.
Transaksi yang ditandatangani pada 16 September 2026 itu belum selesai. Pengalihan baru akan dilakukan setelah seluruh kondisi pendahuluan dalam perjanjian terpenuhi. Nilai transaksi maupun harga per saham juga belum diungkapkan dalam bahan yang tersedia.
Jika transaksi rampung sesuai rencana, Jhonlin Baratama—perusahaan yang terafiliasi dengan pengusaha Haji Isam—akan memegang sekitar 30% saham Bayan Resources. Sementara kepemilikan gabungan Low Tuck Kwong dan Elaine Low yang saat ini mencapai 62,25% secara matematis akan tersisa sekitar 32,25%, dengan catatan seluruh 10 miliar saham memang berasal dari kepemilikan keduanya seperti dinyatakan dalam rencana transaksi.
Perubahan kepemilikan ini terjadi ketika BYAN sedang memperbesar kapasitas produksi menuju lebih dari 80 juta ton batu bara per tahun. Namun ekspansi tersebut berjalan bersamaan dengan risiko operasional jangka pendek setelah sejumlah anak usaha menghadapi keterlambatan persetujuan perubahan RKAB 2026.
- Low Tuck Kwong dan Elaine Low berencana mengalihkan 10.000.000.500 saham BYAN atau sekitar 30% kepada PT Jhonlin Baratama.
- Transaksi masih bersyarat; harga saham dan total nilai transaksi belum diungkapkan.
- Di sisi operasional, BYAN membidik produksi lebih dari 80 juta ton per tahun, tetapi masih menghadapi ketidakpastian RKAB pada sejumlah anak usaha.
Jhonlin Baratama Akan Masuk dengan Kepemilikan 30%
Direktur Bayan Resources Jenny Quantero menyampaikan bahwa Low Tuck Kwong dan Elaine Low telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama pada 16 September 2026.
Saham yang direncanakan dialihkan mencapai 10.000.000.500 lembar.
Dengan jumlah saham beredar BYAN sebanyak 33.333.335.000 lembar, transaksi tersebut setara hampir tepat 30% dari modal perseroan.
*Dengan asumsi seluruh 10.000.000.500 saham yang dialihkan berasal dari gabungan kepemilikan Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
Per 30 Juni 2026, Low Tuck Kwong memiliki sekitar 13,42 miliar saham atau 40,25%, sedangkan Elaine Low memegang sekitar 7,33 miliar saham atau 22%.
| Pemegang Saham | Jumlah Saham | Porsi |
|---|---|---|
| Low Tuck Kwong | 13,42 miliar | 40,25% |
| Elaine Low | 7,33 miliar | 22,00% |
| SSP | 3,33 miliar | 10,00% |
| Lim Chai Hock | 1,09 miliar | 3,26% |
| Jenny Quantero | 994,98 juta | 2,98% |
| Lainnya | ~7,18 miliar* | ~21,5%* |
*Angka “lainnya” pada bahan sumber dicantumkan sekitar 7,10 miliar saham atau 21,30%; terdapat selisih pembulatan terhadap total saham yang tercatat. Tabel di atas mempertahankan angka utama pemegang saham yang disampaikan.
Manajemen menyatakan rencana transaksi tidak menimbulkan dampak material negatif yang dapat mengganggu kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha.
Apakah Jhonlin Akan Menjadi Pengendali BYAN?
Kepemilikan 30% tentu merupakan posisi yang sangat besar, tetapi besarnya porsi saham saja belum cukup untuk menyimpulkan perubahan pengendalian.
Bahan yang tersedia belum menjelaskan apakah transaksi akan menyebabkan perubahan pengendali secara hukum, bagaimana hak suara pascatransaksi, ataupun apakah ada perjanjian pemegang saham lain.
Demikian pula, belum terdapat informasi mengenai:
- harga transaksi per saham;
- total nilai pembelian;
- sumber pendanaan Jhonlin Baratama;
- pembagian jumlah saham yang dijual masing-masing oleh Low Tuck Kwong dan Elaine Low;
- perubahan susunan direksi atau komisaris;
- serta ada atau tidaknya kewajiban aksi korporasi lanjutan.
Dengan harga BYAN yang secara historis memiliki kapitalisasi pasar besar dan free float relatif terbatas, detail harga transaksi akan menjadi informasi penting untuk menilai valuasi yang digunakan kedua belah pihak.
BYAN Sedang Mengejar Produksi Lebih dari 80 Juta Ton
Masuknya calon pemegang saham besar terjadi ketika kinerja operasional Bayan masih bertumbuh.
Produksi batu bara pada semester I/2026 mencapai 32,9 juta ton, naik 18,8% dibandingkan 27,7 juta ton pada semester I/2025.
Harga jual rata-rata atau ASP juga meningkat dari US$50,3 menjadi US$54 per ton.
Sementara biaya tunai rata-rata naik lebih moderat, dari US$34,2 menjadi US$35 per ton.
| Indikator H1 | 2025 | 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Produksi | 27,7 juta ton | 32,9 juta ton | +18,8% |
| ASP | US$50,3/ton | US$54/ton | +7,4%* |
| Cash cost | US$34,2/ton | US$35/ton | +2,3%* |
| Pendapatan | US$1,62 miliar | US$1,74 miliar | +7,29% |
| Laba bersih | US$349,25 juta | US$410,26 juta | +17,47% |
*Perhitungan Receh.in berdasarkan angka yang disampaikan.
Selisih sederhana antara ASP dan cash cost juga meningkat dari sekitar US$16,1 per ton menjadi US$19 per ton.
Namun angka tersebut bukan margin laba bersih per ton karena belum memasukkan biaya pengangkutan, royalti, overhead, pajak, biaya keuangan, dan komponen lainnya.
Pendapatan semester I/2026 mencapai US$1,74 miliar, tumbuh 7,29%, sedangkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 17,47% menjadi US$410,26 juta.
Dari angka tersebut, net profit margin sederhana berada di kisaran 23,6%, dibandingkan sekitar 21,6% setahun sebelumnya.
Infrastruktur Tabang menjadi fondasi ekspansi
BYAN telah mengeluarkan sekitar US$460 juta expansionary capex selama 2019–2026 untuk Proyek Tabang.
Investasi mencakup pembangunan jalan angkut sekitar 100 kilometer, overland conveyor, barge loader Muara Pahu, dan peningkatan fasilitas BCT.
Kapasitas Muara Pahu disebut telah tersedia penuh sejak 2025 dengan kemampuan lebih dari 45 juta ton per tahun.
Perseroan juga membangun barge loader keempat di Muara Pahu yang ditargetkan selesai pada akhir 2026.
Infrastruktur tersebut menjadi salah satu fondasi rencana meningkatkan produksi tambang Tabang hingga lebih dari 80 juta ton per tahun dalam jangka panjang.
Ekspansi Besar Bertemu Risiko RKAB
Di tengah agenda ekspansi, BYAN sedang menghadapi kendala regulasi pada sejumlah operasi.
Perseroan bersama PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima telah menyampaikan pemberitahuan keadaan kahar atau force majeure kepada pelanggan pada 11 September 2026.
Masalahnya adalah persetujuan perubahan RKAB 2026 yang diperlukan untuk menjalankan produksi secara sah belum diterbitkan.
Kondisi tersebut memengaruhi kemampuan entitas-entitas terkait dalam memenuhi kewajiban pasokan berdasarkan Coal Supply Agreement.
Namun pemberitahuan force majeure tidak sebaiknya diartikan bahwa seluruh operasi BYAN berhenti.
Dampak aktualnya bergantung pada berapa besar kontribusi ketiga anak usaha terhadap total produksi dan penjualan, berapa lama persetujuan RKAB tertunda, apakah terdapat sumber pasokan alternatif, serta bagaimana ketentuan force majeure dalam masing-masing kontrak.
| Katalis BYAN | Risiko yang Perlu Dipantau |
|---|---|
| Produksi H1 naik 18,8% | Persetujuan perubahan RKAB |
| ASP naik menjadi US$54/ton | Volatilitas harga batu bara |
| Margin indikatif membaik | Cash cost dan stripping ratio |
| Kapasitas Tabang bertambah | Eksekusi menuju >80 juta ton |
| Masuknya calon pemegang saham 30% | Harga dan struktur transaksi belum diketahui |
FAQ Jhonlin Baratama dan Saham BYAN
Berapa saham BYAN yang akan dibeli Jhonlin Baratama?
Siapa yang menjual saham BYAN kepada Jhonlin?
Apakah transaksi 30% saham BYAN sudah selesai?
Berapa harga pembelian saham BYAN oleh Jhonlin?
Berapa produksi batu bara BYAN pada semester I 2026?
Apa target produksi jangka panjang BYAN?
Apakah seluruh operasi BYAN terkena force majeure?
Perhitungan Receh.in: Pengalihan 10.000.000.500 saham dibanding total 33.333.335.000 saham setara sekitar 30%. Kepemilikan gabungan Low Tuck Kwong dan Elaine Low sebesar 62,25% secara matematis akan tersisa sekitar 32,25% jika seluruh saham yang dijual berasal dari kepemilikan keduanya. ASP US$54 dikurangi cash cost US$35 menghasilkan spread sederhana US$19/ton, dibandingkan US$16,1/ton pada H1/2025. Laba US$410,26 juta terhadap pendapatan US$1,74 miliar menghasilkan net profit margin sekitar 23,6%.
Catatan: Transaksi saham masih bersyarat. Harga, nilai transaksi, sumber pendanaan, komposisi saham yang dijual masing-masing pihak, dan status pengendalian pascatransaksi belum terdapat dalam bahan. Spread ASP dikurangi cash cost bukan margin laba aktual. Target produksi lebih dari 80 juta ton merupakan kapasitas/ambisi jangka panjang dan bukan volume produksi saat ini.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham BYAN. Investor perlu mempertimbangkan valuasi, struktur pemegang saham, harga batu bara, volume produksi, cash cost, capex, RKAB, kewajiban kontraktual, arus kas, dan risiko regulasi sebelum mengambil keputusan investasi.

0 Komentar