Daftar IsiTampilkan


Receh.in —
Ledakan kebutuhan data center akibat pertumbuhan cloud dan artificial intelligence (AI) mulai menciptakan tema investasi baru di Bursa Efek Indonesia. Namun investor perlu membedakan tiga hal yang sering tercampur: kapasitas yang sudah beroperasi, kapasitas yang sedang dibangun, dan kapasitas yang baru berada dalam pipeline.

Perbedaannya krusial karena megawatt yang diumumkan belum tentu sudah menghasilkan pendapatan. Kontrak pelanggan, ketersediaan listrik, utilisasi, capex, dan waktu penyelesaian proyek menjadi jembatan antara cerita pertumbuhan dan laba yang benar-benar masuk ke laporan keuangan.

Dari sedikitnya 16 emiten yang berada dalam ekosistem data center, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) memiliki eksposur langsung sebagai operator. PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk. (MGLV) berada dalam proses transformasi menuju operator langsung melalui rencana akuisisi aset data center.

Pasar sudah memberi valuasi besar terhadap tema tersebut. DCII diperdagangkan dengan PER lebih dari 300 kali, MGLV telah melonjak lebih dari 500% sepanjang tahun meski masih merugi, sedangkan DSSA tetap membawa ekspektasi pertumbuhan data center di tengah bisnis grup yang jauh lebih beragam.

Ringkasan
  • Kapasitas data center Indonesia sekitar 580 MW pada H1/2026 dan diproyeksikan mencapai 3,5 GW pada 2030.
  • DCII menjadi pure-play paling langsung, DSSA mengembangkan jaringan SM+ dan SMX01, sedangkan MGLV masih menunggu penyelesaian akuisisi sebelum kontribusi ekonomi target dapat dikonsolidasikan.
  • Risiko terbesar investor adalah membayar valuasi berdasarkan pipeline yang belum beroperasi, belum terisi, atau bahkan belum selesai transaksinya.

DCII, DSSA, dan MGLV: Sama-sama Data Center, Tahapnya Berbeda

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai DCII memiliki eksposur paling langsung terhadap penyewaan kapasitas data center domestik, terutama untuk pelanggan cloud besar dan komputasi AI.

Keunggulannya terletak pada rekam jejak operasional yang sudah terbukti.

Situs perusahaan terbaru yang dikutip dalam riset mencatat 132 MW shell capacity pada sembilan data center di Cibitung, Karawang, Jakarta, dan Surabaya. Di luar itu, proyek H5 Sky Bintan masih berada dalam rencana pengembangan.

Angka 132 MW tersebut perlu dibedakan dengan angka 128 MW kapasitas operasional yang digunakan dalam riset BRI Danareksa Sekuritas. Dua angka ini tidak harus saling bertentangan karena shell capacity dan kapasitas yang benar-benar sudah beroperasi dapat menggunakan definisi berbeda.

Emiten Eksposur Data Center Kapasitas/Proyek Status Utama
DCII Operator langsung / pure-play 132 MW shell capacity; riset lain menyebut 128 MW operasional Sudah beroperasi
DSSA Melalui SM+ Data Center 25 data center, hampir 40 MW Sudah beroperasi
DSSA SMX01 Jakarta Berbagai bahan menyebut desain 27 MW atau scalable hingga 60 MW Dalam pembangunan
MGLV Melalui rencana akuisisi NAC dan NGC NAC 6 MW sudah beroperasi Akuisisi belum selesai
MGLV MettaDC Jababeka 36 MW Rencana mulai 2027
MGLV NGC Batang 60 MW Pipeline

DSSA punya eksposur langsung, tetapi bukan pure-play

DSSA memiliki eksposur data center melalui SM+ yang mengoperasikan sekitar 25 fasilitas dengan kapasitas hampir 40 MW.

Perusahaan juga sedang mengembangkan SMX01 di Jakarta untuk kebutuhan komputasi AI.

Di sini terdapat perbedaan angka dalam bahan. Kiwoom menyebut SMX01 dirancang mencapai 27 MW dengan tahap pertama 6 MW yang ditargetkan beroperasi pada kuartal IV/2026.

Sementara BRI Danareksa mencatat proyek tersebut ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV/2026 dengan kapasitas 18 MW dan dapat ditingkatkan menjadi 60 MW.

Perbedaan ini sebaiknya tidak dipaksakan menjadi satu angka tunggal. Kemungkinan terdapat perbedaan definisi antara fase pembangunan, kapasitas IT load, shell capacity, atau rancangan pengembangan akhir. Investor perlu menunggu keterbukaan terbaru perusahaan untuk memastikan kapasitas yang benar-benar siap dikomersialkan.

Ini kesalahan paling umum membaca bisnis data center: 60 MW pipeline bukan berarti 60 MW sudah menghasilkan pendapatan. Yang bernilai ekonomi adalah kapasitas yang selesai, tersambung listrik, mendapat pelanggan, dan terisi.

MGLV masih berada di tahap transformasi

Posisi MGLV bahkan lebih awal lagi.

Perseroan berencana menjadi operator langsung melalui akuisisi PT Nextier Askara Center (NAC) dan PT Nextier GenAi Center (NGC).

RUPS sudah menyetujui transformasi tersebut, tetapi transaksi belum otomatis selesai.

Masih terdapat proses akuisisi, pengalihan piutang, rights issue hingga 285,7 juta saham, serta pinjaman pemegang saham yang harus dilaksanakan.

Artinya, pendapatan dan laba NAC maupun NGC belum serta-merta dapat dianggap sebagai pendapatan dan laba MGLV sebelum transaksi selesai dan laporan keuangannya dikonsolidasikan.

Valuasi Saham Sudah Mendahului Pertumbuhan?

Pergerakan harga ketiga saham menunjukkan kuatnya ekspektasi investor terhadap tema data center dan AI.

DCII ditutup di sekitar Rp201.100 pada 10 September 2026 dengan PER 327,20 kali dan PBV 103,55 kali.

Jika dibandingkan harga IPO Rp420 pada Januari 2021, harga saham tersebut telah menjadi sekitar 479 kali harga penawaran awal.

Secara matematis, kenaikannya mencapai sekitar 47.781% dari harga IPO.

327,2x PER DCII
103,55x PBV DCII
+500%+ Kenaikan YtD MGLV
-72% Perubahan YtD DSSA

MGLV juga mencerminkan kuatnya ekspektasi. Sahamnya telah melonjak lebih dari 500% YtD menuju sekitar Rp15.000, padahal hingga Juni 2026 perusahaan masih mencatat rugi bersih Rp14,10 miliar.

Dengan kata lain, pasar saat ini menilai MGLV berdasarkan cerita transformasi dan aset yang akan masuk, bukan berdasarkan earning power historis perusahaan saat ini.

DSSA berada pada posisi berbeda. Sahamnya telah turun sekitar 72% YtD menuju kisaran Rp1.100 setelah sebelumnya menikmati kenaikan besar dalam tiga tahun terakhir.

PER yang disebut dalam bahan sekitar 54,71 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata historis 79,77 kali. Di sisi fundamental, DSSA membukukan laba bersih US$82,26 juta hingga akhir Maret 2026.

Emiten Harga/Pergerakan Valuasi/Kinerja Yang Sedang Dihargai Pasar
DCII Rp201.100 PER 327,2x; PBV 103,55x Pure-play, utilisasi dan pipeline AI
MGLV +500%+ YtD Rugi Rp14,10 miliar Transformasi dan akuisisi data center
DSSA -72% YtD PER 54,71x SM+, SMX01, tetapi bercampur bisnis lain

Perbandingan itu juga menunjukkan bahwa PER antar-emiten tidak bisa dibaca secara mentah.

DCII merupakan pure-play data center. DSSA adalah grup multi-bisnis dengan eksposur besar terhadap pertambangan dan energi. Sementara MGLV sedang mengalami perubahan fundamental sehingga laba historisnya belum merepresentasikan bisnis yang sedang dibangun.

Valuasi tinggi tidak otomatis salah. Tetapi semakin mahal multiple yang dibayar, semakin sedikit ruang untuk kesalahan eksekusi. Pada PER ratusan kali, keterlambatan proyek, utilisasi di bawah target, atau capex yang terlalu besar dapat memberi dampak valuasi yang jauh lebih tajam.

Pasar Data Center Indonesia Bisa Naik 6 Kali Lipat

BRI Danareksa memperkirakan kapasitas data center terpasang Indonesia mencapai sekitar 580 MW pada semester I/2026.

Pada 2030 kapasitas tersebut diproyeksikan mencapai 3,5 GW atau 3.500 MW.

Secara sederhana, itu berarti kapasitas nasional berpotensi meningkat menjadi sekitar 6 kali posisi saat ini.

580 MW Kapasitas Indonesia H1/2026
3,5 GW Proyeksi kapasitas 2030
~6x Potensi kenaikan kapasitas*
AI + Cloud Penggerak permintaan

*Perhitungan Receh.in dari 3.500 MW dibandingkan 580 MW.

Permintaan tersebut didorong dua tren utama: migrasi cloud dan kebutuhan komputasi AI yang menggunakan GPU dalam jumlah besar.

AI membutuhkan densitas daya jauh lebih tinggi dibandingkan komputasi tradisional. Artinya, faktor pembeda tidak hanya luas gedung tetapi juga kemampuan memperoleh pasokan listrik, sistem pendinginan, konektivitas, dan reliabilitas.

Jakarta punya pipeline 5,3 kali kapasitas operasional

Pasar Jakarta saat ini disebut memiliki sekitar 322 MW kapasitas operasional dengan pipeline sekitar 1,7 GW.

Rasionya sekitar 5,3 kali.

Batam bahkan lebih ekstrem. Kapasitas yang sudah beroperasi sekitar 126 MW, sedangkan pipeline mencapai 1,4 GW.

Secara matematis, pipeline Batam sekitar 11,1 kali kapasitas yang sudah beroperasi.

Pasar Kapasitas Operasional Pipeline Pipeline/Operasional*
Jakarta 322 MW 1.700 MW ~5,3x
Batam 126 MW 1.400 MW ~11,1x

*Perhitungan Receh.in.

Pipeline sebesar itu mencerminkan peluang, tetapi sekaligus risiko eksekusi.

Jika seluruh pemain mengejar kapasitas secara bersamaan tetapi permintaan datang lebih lambat, tingkat keterisian dapat tertekan dan return atas capex menjadi lebih rendah.

Sebaliknya, jika permintaan hyperscaler dan AI berkembang secepat proyeksi, operator yang sudah memiliki lahan, listrik, kontrak, dan eksekusi cepat akan berada pada posisi jauh lebih baik.

Singapura dan Malaysia membuka peluang Indonesia

Peluang Indonesia juga datang dari keterbatasan regional.

Singapura membatasi ekspansi kapasitas baru melalui kebijakan Data Center – Call for Application. Sementara Malaysia mulai menghadapi kendala ketersediaan daya di sejumlah kawasan.

Hal ini mendorong hyperscaler dan operator data center mencari alternatif lokasi di kawasan yang tetap dekat dengan pusat permintaan Asia Tenggara.

Jakarta dan Batam menjadi dua kandidat utama Indonesia.

Mana yang Paling Menarik: DCII, DSSA, atau MGLV?

Ketiganya menawarkan profil yang sangat berbeda.

DCII: eksposur paling murni, valuasi paling menuntut

DCII memiliki keuntungan dari posisi sebagai operator yang sudah mapan, kapasitas berjalan, pelanggan besar, dan pengalaman operasional.

Tetapi valuasinya juga paling menuntut.

Investor DCII perlu memantau:

  • tingkat keterisian kapasitas baru;
  • penambahan kontrak hyperscaler dan pelanggan AI;
  • return atas capex;
  • eksekusi pipeline Bintan;
  • pertumbuhan laba terhadap valuasi; dan
  • likuiditas serta porsi saham publik.

DSSA: valuasi data center tertutup konglomerasi

DSSA mempunyai jaringan SM+ yang sudah beroperasi dan proyek SMX01 yang dapat menjadi katalis berikutnya.

Namun kelemahannya sebagai proxy data center adalah struktur bisnisnya yang luas.

Pendapatan dan laba data center dapat tertutup kontribusi pertambangan, energi, serta bisnis grup lainnya.

Karena itu, salah satu katalis rerating adalah apabila perusahaan mulai melaporkan pendapatan dan laba data center dengan transparansi lebih tinggi.

MGLV: upside besar, tetapi execution risk juga paling tinggi

MGLV menawarkan cerita kapasitas yang sangat agresif.

NAC sudah mengoperasikan data center 6 MW dan secara mandiri membukukan pendapatan Rp36,3 miliar serta laba bersih Rp9,49 miliar hingga Juni 2026.

Secara sederhana, net profit margin NAC mencapai sekitar 26,1%.

Namun laba tersebut masih merupakan laba NAC sebagai entitas target, bukan otomatis laba MGLV.

Pengembangan berikutnya mencakup MettaDC 36 MW di Jababeka serta NGC 60 MW di Batang.

Jika dijumlahkan secara sederhana, NAC 6 MW ditambah dua proyek tersebut menghasilkan skala rencana sekitar 102 MW. Tetapi 96 MW di antaranya masih berupa pengembangan/pipeline sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai kapasitas produktif saat ini.

Emiten Kekuatan Risiko Utama
DCII Pure-play, track record, kapasitas sudah berjalan Valuasi sangat tinggi dan execution expectation besar
DSSA SM+ sudah berjalan, proyek AI baru Kontribusi data center tertutup bisnis grup lain
MGLV Pipeline pertumbuhan besar Akuisisi belum selesai dan pipeline belum operasional
Intinya: tema data center Indonesia memang struktural. Kapasitas nasional diproyeksikan naik dari 580 MW menjadi 3,5 GW pada 2030, tetapi investor tidak boleh menyamakan pipeline dengan revenue. DCII menawarkan bisnis yang paling terbukti tetapi dengan valuasi sangat premium. DSSA mempunyai aset nyata tetapi kontribusinya bercampur dengan bisnis lain. MGLV menawarkan cerita pertumbuhan paling agresif, tetapi juga memiliki execution risk paling besar karena transaksi dan proyeknya belum seluruhnya selesai. Dalam bisnis ini, pemenang akhirnya bukan yang mengumumkan megawatt terbesar, melainkan yang mampu mengubah megawatt menjadi kontrak, utilisasi, arus kas, dan return atas modal.

FAQ Saham Data Center DCII, DSSA, dan MGLV

Berapa kapasitas data center Indonesia saat ini?
BRI Danareksa memperkirakan kapasitas terpasang Indonesia sekitar 580 MW pada semester I/2026 dan berpotensi mencapai sekitar 3,5 GW pada 2030.
Berapa kapasitas data center DCII?
Riset Kiwoom menyebut situs terbaru DCII mencatat sekitar 132 MW shell capacity pada sembilan data center, sedangkan riset BRI Danareksa menggunakan sekitar 128 MW kapasitas operasional. Perbedaan ini dapat berasal dari definisi kapasitas yang digunakan.
Berapa kapasitas data center DSSA?
SM+ disebut memiliki dan mengelola 25 data center dengan kapasitas hampir 40 MW. DSSA juga mengembangkan proyek SMX01 di Jakarta, tetapi terdapat perbedaan angka kapasitas antar-riset mengenai fase awal dan kapasitas akhir proyek.
Apakah MGLV sudah menjadi operator data center?
MGLV sedang bertransformasi melalui rencana akuisisi NAC dan NGC. Persetujuan RUPS sudah diperoleh, tetapi transaksi belum otomatis selesai sehingga kinerja target belum dapat langsung dianggap sebagai kinerja konsolidasi MGLV.
Kenapa valuasi DCII sangat tinggi?
Pasar memberi premium terhadap status DCII sebagai pure-play data center dengan rekam jejak operasi dan eksposur terhadap pelanggan cloud serta AI. Namun valuasi tinggi juga membuat ekspektasi pertumbuhan dan eksekusi menjadi sangat besar.
Apa indikator terpenting untuk menilai saham data center?
Investor perlu melihat kapasitas yang benar-benar operasional, tingkat utilisasi, kontrak pelanggan, ketersediaan listrik, capex, return on invested capital, pertumbuhan EBITDA dan free cash flow, bukan hanya kapasitas pipeline.
Sumber: Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia oleh Liza Camelia Suryanata, riset BRI Danareksa Sekuritas oleh Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan, data perusahaan, serta bahan pasar yang diterima Receh.in per September 2026.

Perhitungan Receh.in: Harga DCII Rp201.100 dibandingkan harga IPO Rp420 setara sekitar 478,8 kali atau kenaikan sekitar 47.781%. Kapasitas nasional 3.500 MW dibandingkan 580 MW setara sekitar 6,03 kali. Pipeline Jakarta 1.700 MW dibandingkan 322 MW sekitar 5,28 kali, sedangkan Batam 1.400 MW dibandingkan 126 MW sekitar 11,11 kali. Laba NAC Rp9,49 miliar atas pendapatan Rp36,3 miliar menghasilkan net margin sekitar 26,1%. NAC 6 MW ditambah rencana MettaDC 36 MW dan NGC 60 MW menghasilkan total skala proyek sekitar 102 MW, tetapi sebagian besar belum operasional.

Catatan: Terdapat perbedaan angka kapasitas dalam bahan. DCII disebut memiliki 132 MW shell capacity dalam satu sumber dan sekitar 128 MW kapasitas operasional dalam sumber lain. Untuk SMX01 DSSA, Kiwoom menyebut desain 27 MW dengan fase awal 6 MW, sedangkan BRI Danareksa menyebut proyek 18 MW yang dapat ditingkatkan menjadi 60 MW. Artikel mempertahankan perbedaan tersebut karena istilah kapasitas, tahapan proyek, dan waktu pengukuran dapat berbeda. Pipeline dan kapasitas rencana tidak diperlakukan sebagai kapasitas yang sudah menghasilkan pendapatan.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informasi dan analisis, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham DCII, DSSA, MGLV, atau saham lain yang terkait ekosistem data center. Investor perlu mempertimbangkan valuasi, likuiditas, capex, pendanaan, kontrak pelanggan, utilisasi, pasokan listrik, eksekusi proyek, arus kas, dan risiko teknologi sebelum mengambil keputusan investasi.