Receh.in — PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) berencana melepas seluruh kepemilikan sahamnya sebesar 47,18% di PT Jasamarga Jogja Solo (JMJ) kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI dengan nilai transaksi sekitar Rp1,8 triliun.
Divestasi tersebut menjadi bagian dari strategi asset recycling sekaligus penataan portofolio investasi BUMN Karya. Bagi ADHI, transaksi ini berpotensi mengubah aset investasi menjadi kas yang dapat digunakan untuk mengurangi utang berbunga dan memperkuat modal kerja.
Langkah tersebut sekaligus menandai pergeseran fokus ADHI kembali ke bisnis inti konstruksi. Perseroan sebelumnya menanamkan modal cukup besar pada sejumlah proyek infrastruktur, termasuk konsesi jalan tol yang membutuhkan dana jangka panjang sebelum menghasilkan arus kas stabil.
Rencana divestasi dan perubahan penggunaan sisa dana rights issue akan dimintakan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB 13 November 2026.
- ADHI akan menjual seluruh 47,18% saham PT Jasamarga Jogja Solo kepada SMI dengan nilai sekitar Rp1,8 triliun.
- Dana divestasi diarahkan untuk membayar utang berbunga, memperkuat modal kerja, dan mempertajam fokus bisnis konstruksi.
- ADHI juga ingin mengalihkan sisa dana rights issue sekitar Rp378,7 miliar menjadi modal kerja proyek.
ADHI Jual Seluruh Saham Jasamarga Jogja Solo
Objek transaksi adalah seluruh kepemilikan ADHI di PT Jasamarga Jogja Solo, badan usaha jalan tol yang mengelola investasi Jalan Tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulon Progo.
Sebelum transaksi, struktur pemegang saham JMJ terdiri atas PT Jasa Marga (Persero) Tbk. sebagai pemegang saham mayoritas sebesar 52,82% dan ADHI sebesar 47,18%.
Dengan penjualan seluruh kepemilikan tersebut, ADHI akan keluar dari struktur kepemilikan JMJ apabila seluruh persyaratan transaksi terpenuhi dan penyelesaian jual beli dilaksanakan.
| Transaksi | Keterangan |
|---|---|
| Penjual | PT Adhi Karya (Persero) Tbk. |
| Pembeli | PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) |
| Aset | Saham PT Jasamarga Jogja Solo |
| Porsi yang dilepas | 47,18% |
| Nilai transaksi | ±Rp1,8 triliun |
JMJ merupakan perusahaan investasi jalan tol dengan proyek Jalan Tol Solo-Yogyakarta-YIA Kulon Progo. ADHI sebelumnya menyebut total investasi proyek jalan tol tersebut mencapai sekitar Rp27,48 triliun.
Karena saham yang dilepas merupakan investasi dalam entitas jalan tol, transaksi ini berbeda dengan penjualan proyek konstruksi biasa. Dana yang diterima ADHI berasal dari pengalihan investasi, bukan pendapatan kontrak konstruksi baru.
Kenapa ADHI Memilih Menjual Investasi Jalan Tol?
Strategi yang ditempuh ADHI adalah asset recycling: modal yang sebelumnya tertanam dalam aset investasi dijual untuk menghasilkan likuiditas yang dapat diputar kembali ke kebutuhan dengan prioritas lebih tinggi.
Strategi semacam ini relevan bagi perusahaan konstruksi karena proyek konsesi jalan tol membutuhkan modal besar, sementara arus kas dari investasi baru biasanya diperoleh dalam jangka panjang.
Dengan divestasi JMJ, ADHI ingin mengurangi kebutuhan pendanaan investasi sekaligus membatasi eksposur terhadap potensi kerugian pada fase awal operasi jalan tol.
Perseroan juga dapat menghindari kebutuhan tambahan setoran modal pada JMJ di masa mendatang apabila proyek masih membutuhkan pendanaan lanjutan.
| Sebelum Divestasi | Setelah Divestasi |
|---|---|
| Modal tertanam pada investasi tol | Investasi dikonversi menjadi kas |
| Berpotensi membutuhkan tambahan equity | Eksposur kebutuhan setoran modal berkurang |
| Menanggung risiko fase awal operasi | Risiko investasi tersebut dialihkan |
| Potensi memperoleh keuntungan jangka panjang | Melepas potensi dividen/upside investasi di masa depan |
Artinya, divestasi membawa konsekuensi dua sisi. ADHI memperoleh likuiditas lebih cepat, tetapi pada saat yang sama kehilangan kepemilikan atas aset jalan tol yang berpotensi menghasilkan arus kas setelah operasi semakin matang.
Dana Divestasi untuk Bayar Utang dan Modal Kerja
Salah satu alasan utama transaksi adalah memperkuat struktur keuangan.
ADHI berencana menggunakan likuiditas hasil divestasi antara lain untuk memenuhi kewajiban utang berbunga, mendukung modal kerja, serta kebutuhan operasional lainnya.
Bagi perusahaan konstruksi, modal kerja menjadi isu penting karena ada jeda antara pengerjaan proyek dan penerimaan pembayaran dari pemberi kerja.
Kas tambahan dapat membantu membiayai pekerjaan yang sedang berjalan tanpa seluruhnya mengandalkan pinjaman baru.
Strategi tersebut sejalan dengan arah penyehatan bisnis ADHI yang belakangan lebih menekankan penguatan bisnis inti konstruksi dan streamlining investasi.
Dalam laporan kinerja sebelumnya, perusahaan juga menyatakan program perbaikan BUMN Karya dilakukan sejalan dengan arah kebijakan Danantara sebagai holding operasional.
ADHI Juga Ubah Penggunaan Rp378,7 Miliar Dana Rights Issue
Divestasi JMJ bukan satu-satunya agenda yang akan dibawa ke RUPSLB.
ADHI juga mengusulkan perubahan penggunaan sisa dana hasil Penawaran Umum Terbatas melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau rights issue 2022 senilai sekitar Rp378,7 miliar.
Dana tersebut sebelumnya diarahkan untuk setoran modal kepada sejumlah entitas investasi.
Rencana baru adalah mengalokasikan seluruh sisa dana menjadi modal kerja, terutama untuk mendukung penyelesaian proyek carry-over atau proyek yang masih berlanjut dari periode sebelumnya.
Tujuannya adalah mempercepat penyelesaian pekerjaan sehingga termin proyek dapat ditagihkan dan dikonversi menjadi penerimaan kas.
| Agenda Strategis ADHI | Tujuan |
|---|---|
| Divestasi saham JMJ | Melepas investasi dan menambah likuiditas |
| Pembayaran utang berbunga | Mengurangi beban pembiayaan |
| Penguatan modal kerja | Mendukung pengerjaan proyek konstruksi |
| Realokasi Rp378,7 miliar | Mempercepat proyek carry-over dan penerimaan kas |
| Fokus bisnis | Kembali memperkuat core business konstruksi |
Apa Dampaknya terhadap Saham ADHI?
Dari sudut pandang investor, divestasi berpotensi positif bagi likuiditas dan struktur neraca apabila dana benar-benar diarahkan untuk menurunkan kewajiban berbunga.
Namun efek terhadap valuasi ADHI tidak hanya ditentukan oleh besarnya dana masuk.
Investor perlu menghitung setidaknya tiga hal: keuntungan atau kerugian atas penjualan investasi, berapa utang yang dapat diturunkan, dan berapa besar potensi pendapatan masa depan yang dilepas bersama kepemilikan JMJ.
Dengan demikian, transaksi Rp1,8 triliun tidak otomatis berarti nilai perusahaan bertambah Rp1,8 triliun. ADHI menukar satu jenis aset—investasi saham JMJ—menjadi aset berupa kas.
| Katalis Potensial | Risiko/Trade-off |
|---|---|
| Likuiditas meningkat | Kehilangan potensi dividen JMJ |
| Utang berbunga dapat turun | Potensi capital appreciation investasi dilepas |
| Beban bunga berpotensi mengecil | Manfaat tergantung penggunaan dana |
| Modal kerja konstruksi bertambah | Eksekusi proyek tetap menentukan cash flow |
FAQ Divestasi ADHI di Jasamarga Jogja Solo
Berapa saham Jasamarga Jogja Solo yang dijual ADHI?
Siapa yang membeli saham Jasamarga Jogja Solo milik ADHI?
Berapa nilai divestasi saham JMJ oleh ADHI?
Untuk apa dana hasil divestasi digunakan?
Berapa sisa dana rights issue yang akan dialihkan ADHI?
Kapan RUPSLB ADHI digelar?
Catatan: Divestasi masih merupakan transaksi yang memerlukan pemenuhan persyaratan dan persetujuan sebagaimana ditentukan perusahaan. Nilai hasil penjualan investasi tidak sama dengan tambahan pendapatan konstruksi.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham ADHI.
0 Komentar