Receh.in — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang rebound 4,90% sepanjang perdagangan 19–23 Oktober 2026. Namun tidak semua saham berkapitalisasi besar ikut menopang kenaikan tersebut.
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) justru menjadi top laggard atau saham yang paling besar menahan laju IHSG selama sepekan.
BBCA turun 2,90% dan memberikan kontribusi negatif sekitar 13,66 poin terhadap indeks.
Di belakangnya ada PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) yang melemah 17,14% dengan kontribusi negatif 11,67 poin, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) turun 3,81% dengan bobot negatif 7,32 poin, PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) terkoreksi 3,59% dengan kontribusi -6,55 poin, serta PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) turun 9,88% dan menekan IHSG sekitar 6,49 poin.
BBCA Jadi Pemberat Terbesar IHSG
| Peringkat | Kode Saham | Perubahan Sepekan | Kontribusi ke IHSG |
|---|---|---|---|
| 1 | BBCA | -2,90% | -13,66 poin |
| 2 | MORA | -17,14% | -11,67 poin |
| 3 | DCII | -3,81% | -7,32 poin |
| 4 | BYAN | -3,59% | -6,55 poin |
| 5 | MDKA | -9,88% | -6,49 poin |
Yang menarik, BBCA tidak mengalami koreksi paling dalam secara persentase. MORA turun jauh lebih besar, yakni 17,14%.
Namun karena bobot BBCA dalam IHSG sangat besar, penurunan 2,90% saja sudah cukup membuatnya menjadi pemberat utama indeks.
Ini menjadi contoh jelas bahwa top laggard tidak sama dengan top loser.
ALDO menjadi top loser mingguan setelah turun hampir 30%, tetapi pengaruhnya terhadap IHSG tidak sebesar BBCA karena kapitalisasi dan bobot indeksnya jauh lebih kecil.
MORA Turun 17,14%
MORA menjadi top laggard kedua dengan kontribusi negatif sekitar 11,67 poin.
Saham perusahaan telekomunikasi tersebut melemah 17,14% sepanjang pekan.
Koreksi MORA menarik karena satu pekan sebelumnya saham ini justru sempat menjadi salah satu top leaders IHSG.
Pada periode 4–9 Oktober 2026, MORA naik 11,88% dan ketika itu menjadi penyumbang kenaikan indeks terbesar dengan kontribusi sekitar 9,24 poin.
Artinya, hanya dalam hitungan pekan, perannya berbalik dari pendorong menjadi pemberat IHSG.
Perubahan cepat seperti ini menunjukkan betapa volatilnya kontribusi saham berkapitalisasi besar ketika pasar bergerak ekstrem.
DCII Turun 3,81%, Efek ke IHSG Tetap Besar
DCII turun relatif moderat dibandingkan MORA maupun MDKA, yakni 3,81%.
Namun saham pusat data tersebut tetap memberikan kontribusi negatif sekitar 7,32 poin terhadap IHSG.
Sama seperti BBCA, besarnya dampak DCII bukan semata-mata ditentukan oleh persentase penurunan harga, tetapi oleh kapitalisasi dan bobotnya dalam indeks.
Karena itu, perubahan beberapa persen pada saham dengan kapitalisasi sangat besar bisa memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan pergerakan ekstrem pada saham kecil.
BYAN dan MDKA Ikut Menahan Indeks
BYAN melemah 3,59% dan menyumbang tekanan sekitar 6,55 poin terhadap IHSG.
MDKA turun lebih dalam, yakni 9,88%, dengan kontribusi negatif sekitar 6,49 poin.
Keduanya berasal dari kelompok saham yang terkait erat dengan komoditas dan sumber daya alam, meskipun karakter bisnisnya berbeda.
Masuknya BYAN dan MDKA ke daftar top laggards menunjukkan bahwa rebound pasar pekan lalu tidak otomatis mengangkat seluruh saham sektor komoditas.
Lima Saham Ini Mengurangi IHSG Sekitar 45,7 Poin
Jika kontribusi negatif BBCA, MORA, DCII, BYAN, dan MDKA dijumlahkan, totalnya mencapai sekitar:
13,66 + 11,67 + 7,32 + 6,55 + 6,49 = 45,69 poin.
Padahal sepanjang pekan IHSG tetap naik sekitar 254,15 poin.
Artinya, tanpa tekanan dari lima saham tersebut, kenaikan indeks secara matematis bisa lebih besar—meskipun perhitungan kontribusi indeks tidak selalu dapat dibaca secara sederhana sebagai skenario “jika saham tertentu tidak bergerak”.
Yang bisa dipastikan adalah ada kekuatan besar dari saham-saham lain yang lebih dari cukup untuk menutup tekanan tersebut.
BMRI, BBRI, TLKM, BREN, dan BBNI, misalnya, secara bersama-sama memberikan kontribusi positif sekitar 146,9 poin.
BBCA Turun di Tengah Foreign Outflow Besar
Tekanan terhadap BBCA juga bertepatan dengan aksi jual investor asing.
Pada perdagangan Jumat, 23 Oktober, BBCA menjadi saham dengan foreign outflow terbesar, sekitar Rp767 miliar.
Pada hari yang sama, BBCA juga tercatat sebagai saham dengan net distribution domestik terbesar sekitar Rp116,1 miliar.
Harga BBCA ditutup turun 2,90% pada Jumat dan sepanjang pekan menjadi pemberat terbesar IHSG. :chatgpt-content-reference{index="0"}
Namun arus asing harian tidak boleh langsung dianggap sebagai satu-satunya penyebab pergerakan mingguan. Harga saham terbentuk dari keseluruhan permintaan dan penawaran pasar, termasuk investor domestik.
IHSG Tetap Naik karena Top Leaders Lebih Kuat
Meski lima saham tersebut memberi tekanan, IHSG tetap naik 4,90% dari 5.185,105 menjadi 5.439,258.
BMRI menjadi top leader dengan kontribusi positif 40,65 poin, disusul BBRI 39,76 poin dan TLKM 31,31 poin.
BREN menambah 20,39 poin dan BBNI 14,79 poin.
Dengan kata lain, tekanan dari BBCA dan kawan-kawan masih kalah besar dibandingkan dorongan dari kelompok saham yang naik.
Ini pula alasan mengapa IHSG bisa menguat cukup tinggi meski salah satu saham terbesarnya, BBCA, justru turun.
Top laggards: BBCA -2,90% dengan kontribusi -13,66 poin; MORA -17,14%/-11,67 poin; DCII -3,81%/-7,32 poin; BYAN -3,59%/-6,55 poin; dan MDKA -9,88%/-6,49 poin. :chatgpt-content-reference{index="1"}
Catatan foreign flow: Pada Jumat, 23 Oktober 2026, foreign outflow BBCA tercatat sekitar Rp767 miliar. Angka ini merupakan data satu hari perdagangan, bukan akumulasi seluruh pekan. :chatgpt-content-reference{index="2"}
Catatan kontribusi: Top laggard adalah saham yang memberi kontribusi negatif terbesar terhadap indeks, bukan selalu saham dengan persentase penurunan paling dalam.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham tertentu.
.jpg)
0 Komentar