Receh.in — Kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) membersihkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari saham-saham ber-High Shareholding Concentration (HSC) memukul salah satu kelompok usaha terbesar di Tanah Air. Grup Sinar Mas milik keluarga Widjaja menjadi konglomerasi penyumbang emiten terbanyak dalam daftar saham HSC yang dikeluarkan dari perhitungan pergerakan IHSG.
Tercatat sebanyak lima emiten di bawah naungan Grup Sinar Mas resmi dikeluarkan dari perhitungan acuan bursa karena memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan sangat tinggi—bahkan ada yang menembus lebih dari 99% pada satu pihak utama. Kondisi ini membuat likuiditas transaksi publik sangat terbatas serta dinilai berisiko mengganggu objektivitas pembentukan angka IHSG.
Kelima emiten tersebut meliputi PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA).
Ringkasan Utama
- Sinar Mas Penyumbang HSC Terbanyak: Lima saham utama Grup Widjaja dikeluarkan dari perhitungan IHSG karena tingkat konsentrasi kepemilikan pada satu pihak melampaui 95%.
- Tetap Terdaftar & Dapat Diperdagangkan: Langkah ini bukan merupakan pencederaan status pencatatan (delisting). Saham-saham tersebut tetap dapat ditransaksikan di bursa seperti biasa.
- DUTI Catat Konsentrasi Tertinggi: Saham DUTI terkonsentrasi 99,88% pada satu pihak dengan porsi free float publik hanya 0,54%—jauh di bawah ambang batas kewajaran bursa.
Rincian Profil & Konsentrasi Kepemilikan 5 Saham Sinar Mas
Status HSC mengacu pada kondisi di mana pemegang saham pengendali atau kelompok terafiliasi menguasai mayoritas mutlak saham perusahaan. Hal ini berdampak pada sangat terbatasnya porsi saham publik yang riil dapat diperdagangkan di pasar reguler.
← Geser tabel ke samping untuk melihat seluruh kolom →
| Kode | Nama Emiten | Konsentrasi Kepemilikan | Free Float | Market Cap (Rp) | Kinerja YTD | Pemilik Manfaat Akhir (Ultimate Beneficial Owner) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| DUTI | Duta Pertiwi Tbk | 99,88% | 0,54% | 8,67 Triliun | +12,20% | Margaretha Natalia Widjaja (via BSDE 99,41%) |
| SMAR | Sinar Mas Agro Resources & Tech Tbk | 99,58% | 7,54% | 19,60 Triliun | +43,08% | Jesslyne Widjaja (via PT Purimas Sasmita 92,40%) |
| DSSA | Dian Swastatika Sentosa Tbk | 95,76% | 21,46% | - | -81,56% | Franky Oesman Widjaja (via PT Sinar Mas Tunggal 59,90%) |
| GEMS | Golden Energy Mines Tbk | 99,24% | 10,08% | 42,94 Triliun | -81,56% | Franky Oesman Widjaja & Indra Widjaja |
| MORA | Ekamas Mora Republik Tbk | 95,65% | 15,80% | 161,95 Triliun | -71,87% | Franky Oesman Widjaja & Farida Bau |
Sumber: Keterangan Resmi Bursa Efek Indonesia, Selasa (20/10/2026).
Bedah Struktur Kepemilikan Emiten Sinar Mas
Penelusuran Keterangan Resmi BEI per Selasa (20/10/2026) mengungkapkan latar belakang pengeluaran kelima emiten tersebut dari kalkulasi IHSG:
- Duta Pertiwi (DUTI): Penguasaan agregat pihak terafiliasi mencapai 99,88%, di mana PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) memegang 99,41% saham. Kondisi ini membuat porsi saham publik riil hanya tersisa 0,59% (free float tercatat 0,54%). Meski likuiditasnya minim, harga DUTI mampu menguat 12,20% YTD ke level Rp4.690.
- Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMAR): Emiten sawit ini terkonsentrasi 99,58%, dengan Jesslyne Widjaja sebagai pemilik manfaat akhir melalui PT Purimas Sasmita yang menguasai 92,40% saham. SMAR mencatatkan kenaikan harga 43,08% YTD.
- Dian Swastatika Sentosa (DSSA): Memiliki tingkat konsentrasi 95,76% dengan pemilik manfaat akhir Franky Oesman Widjaja via PT Sinar Mas Tunggal (59,90%). Meski porsi free float secara teknis memenuhi ketentuan sebesar 21,46%, tingginya konsentrasi pada kelompok pemegang saham terafiliasi membuat harganya anjlok 81,56% YTD.
- Golden Energy Mines (GEMS): Saham produsen batu bara ini terkonsentrasi 99,24% pada pihak pengendali (Franky dan Indra Widjaja). GEMS mengantongi nilai pasar Rp42,94 triliun namun mengalami koreksi tajam 81,56% sejak awal tahun.
- Ekamas Mora Republik (MORA): Emiten jaringan telekomunikasi dengan nilai pasar menembus Rp161,95 triliun ini memiliki konsentrasi kepemilikan 95,65% yang dikuasai Franky Oesman Widjaja bersama Farida Bau. Saham MORA telah terkoreksi 71,87% YTD.
Pengecualian saham-saham berbobot besar namun terkonsentrasi tinggi seperti MORA, GEMS, dan SMAR bertujuan menjaga keandalan indeks. Dengan menyingkirkan emiten berbuntut free float tipis dari kalkulasi, angka pergerakan IHSG tidak akan terdistorsi oleh transaksi dengan volume relatif kecil di saham-saham ber-HSC.
Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)
Mengapa 5 saham Grup Sinar Mas dikeluarkan dari perhitungan IHSG?
Apakah kebijakan HSC ini berarti saham Sinar Mas di-delisting?
Siapa pemilik manfaat akhir (Ultimate Beneficial Owner) dari saham-saham tersebut?
Disclaimer: Artikel ini disajikan untuk edukasi dan penyampaian informasi data pasar modal. Bukan merupakan ajakan atau rekomendasi langsung untuk membeli/menjual saham tertentu.
.jpg)
0 Komentar