Ticker

6/recent/ticker-posts

7 Kebiasaan Buruk dalam Investasi


Investasi adalah tindakan mengalokasikan sumber daya, seperti dana/uang, dengan harapan menghasilkan keuntungan ataupun pendapatan di masa depan. Investasi bisa di bidang properti, surat berharga, logam mulia, benda seni, dan sebagainya.

Berinvestasi tidak boleh sembarangan dilakukan bila kamu ingin mendapatkan hasil yang optimal atau sesuai harapan. Bisa jadi, bukan untung malah buntung.

Ada sejumlah hal yang harus kamu waspadai sebelum menginvestasikan uang kamu. Berikut 7 hal yang patut kamu hindari sebelum investasi menurut Schroders Indonesia.

1.    Tidak tahu tujuan investasi dan profil risiko

Tujuan investasi itu penting, jadi jangan mengabaikannya. Sama seperti kalau kamu pergi keluar, tentu punya tujuan. Kalau tidak punya tujuan, kamu tidak akan sampai di mana pun.

Kalau mau sukses dalam investasi, tujuan dan perencanaan mencapai tujuan itu penting. Ini akan membuat kamu terarah, fokus dan mampu memilih strategi serta produk investasi yang tepat.

Untuk dapat memilih produk yang tepat, kamu juga mesti paham profil risiko. Jangan sampai memaksakan diri memilih investasi yang tidak sesuai dengan profil risiko yang berujung kekecewaan dan tidak tercapainya tujuan investasi. 

Kalau kamu tidak sanggup menahan kerugian hingga 20% misalnya, maka jangan investasi di saham. Cari produk yang tingkat risikonya bisa kamu tolerir, misalnya seperti pendapatan tetap. Kalau kamu benar-benar konservatif, cari misalnya reksa dana pasar uang yang dananya digulirkan ke deposito.

Menurut Investopedia, dalam berinvestasi, risiko dan keuntungan adalah dua sisi dari mata uang yang sama; Risiko rendah umumnya berarti hasil yang diharapkan rendah, sedangkan hasil yang lebih tinggi biasanya disertai dengan risiko yang lebih tinggi.

2.   Membeli produk investasi karena tren

Ini sering banget terjadi, istilahnya FOMO atau fear of missing out. Takut ‘ketinggalan kereta’.

Membeli produk investasi yang sedang tren itu tidak masalah, yang jadi persoalan kalau kamu beli hanya karena lagi booming padahal kamu tidak paham. Contohnya belakangan ini ya saham dan aset kripto.

Saham kan sudah lama? Iya, tapi bagi sejumlah orang itu baru ngetren belakangan.

Saham kan legal dan dilindungi regulasi? Iya, tapi kan banyak yang terjun ke saham karena ikut-ikut saja. Hasil akhirnya, pinjam uang buat beli saham, trus dananya nyangkut di saham farmasi hehehehe.

Karena itu, luangkan waktu untuk investasi “leher ke atas” alias belajar. Dengan belajar kamu bisa mengurangi risiko karena jadi lebih paham terhadap produk investasi yang kamu beli. Jangan sampai menyesal di lain hari.

Contoh kasus investasi karena tren itu seperti investasi bodong. Biasanya booming karena memberi iming-iming imbal hasil fantastis dan pasti. Lalu orang-orang yang nggak paham berbondong-bondong tanam duit di sana.

3.    Panik saat pasar berfluktuasi

Ini khususnya terkait dengan investasi di pasar modal maupun produk derivatif dan aset kripto. Apalagi kripto, naik dan turunnya tidak ada batasan.

Kalau di Bursa Efek Indonesia masih membatasi fluktuasi harga. Selama pandemi, penurunan harga maksimal dalam sehari adalah 7%, sedangkan kenaikannya dibatasi bervariasi hingga maksimal 25% kalau nggak salah.

Fluktuasi adalah hal yang wajar di pasar modal karena itu jangan mudah panik. Terutama bagi investor pemula. Jika kita sudah menetapkan tujuan investasi maka kita jga sudah punya strategi menghadapi flutuasi pasar. Misalnya, pada penurunan berapa kita harus berani cut loss, atau justru top up atau menambah modal.

Apalagi jika Anda memiliki tujuan jangka panjang, tetaplah fokus pada tujuan investasi Anda. Jangan tergoda untuk mengambil keputusan investasi yang terburu-buru karena fluktuasi yang terjadi.

4.    Mencoba melakukan market timing

Market timing merupakan satu hal yang sulit dilakukan, karena tidak seorang pun tahu kapan pasar mencapai titik terendahnya. Bahkan mereka yang sudah bergelut di pasat modal bertahun-tahun juga tak mudah melakukannya.

Lakukanlah DCA. Dollar-cost averaging (DCA) adalah strategi investasi di mana investor membagi jumlah total yang akan diinvestasikan di seluruh pembelian berkala aset target dalam upaya untuk mengurangi dampak volatilitas pada pembelian secara keseluruhan.

Atau investasi reguler, tanpa melihat kondisi pasar, yang akan memberikan potensi keuntungan dalam jangka panjang.

5.    Konsentrasi pada satu jenis investasi, tidak membentuk portofolio

Lawannya adalah diversifikasi. Ingat soal risiko. Namun, setiap investasi punya karakter dan risiko masing-masing. Karena itu, bagi dana kamu pada beberapa investasi yang beda karakter.

Penting tuh, beda karakter. Jangan karena kamu sudah buka akun saham di broker, lalu kamu investasikan duitmu di saham JPFA, CPIN, MAIN … meski itu 3 saham yang beda, itu masih saham. Apalagi, semuanya saham unggas.

Misalnya, 30% di saham (inipun dibagi dalam beberapa saham), 40% di reksa dana pasar uang, 20% di reksa dana pendapatan tetap, 10% di kripto. Ya tinggal utak-atik saja sesuai dengan risiko yang bisa kamu tolerir.

Ini juga terkait dengan tujuan investasi kamu. Apakah dana akan dipakai dalam waktu dekat, atau investasi jangka panjang.

6. Menggunakan dana darurat untuk investasi berisiko tinggi

Kebiasaan nih. Biasanya kalau orang belu mengalami namanya loss investasi masih berani pakai dana darurat atau bahkan dana pinjaman. Lebih haram lagi tuh pakai duit pinjam untuk investasi. Kalau institusi sih terserah ya, tapi kalau individu jangan deh.

Dana darurat, kalau menurut saya, masih bisa sebagian ditaruh di reksa dana pasar uang karena likuid dan risikonya paling rendah. Tapi jangan semua.

7.   Tidak memonitor investasi Anda

Kalau model investasimu jangka panjang, kamu tidak perlu memonitor setiap hari. Namun, tetap perlu tahu mereview rutin agar tujuan investasimu tercapai.

Lihat saja waktu awal pandemi, semua saham rontok. Saat seperti itu kamu juga harus berani melakukan cut loss dan memindahkan dana sementara ke produk yang lebih tahan banting seperti reksa dana pasar uang atau pendapatan tetap.

Baru setelah terlihat pembalikan kamu bisa perlahan masukin lagi dana ke saham.

Posting Komentar

0 Komentar