Ticker

6/recent/ticker-posts

'Dirampok' Puluhan Triliun, Ini Portofolio Asabri. Bentjok Bandar Saham? Pikir Lagi


Nilai kerugian yang dicatatkan 
PT Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau Asabri dalam 3 tahun terakhir mencapai Rp11,76 triliun. Pada tahun lalu, angka kerugian komprehensif mencapai Rp4,8 triliun.

Sementara itu, pada 2029 Asabri mencatatkan penurunan nilai wajar investasi hingga Rp19,4 triliun.

Kerugian itu karena portofolio di perusahaan afiliasi atau milik Benny Tjokro dan Heru Hidayat. Ada 17 saham dan 3 reksa dana dalam portofolio itu.

Adapun program yang terdampak adalah Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKm), dan Jaminan Pensiun (JP).

Berikut daftar saham dan reksa dana saham Asabri yang mengalami penurunan nilai, berdasarkan berita Bisnis.com:

No.

Emiten/Manajer Investasi

Lembar saham/ Unit

Rata-rata harga perolehan

Harga pasar 31 Des 2019

1

FIRE

± 287 juta

5.837

326

2

IIKP

± 3,9 M

334

suspended

3

PCAR

± 293 juta

2.992

suspended

4

POLA

± 94 juta

1.847

262

5

POOL

± 336 juta

3.238

256

6

SMRU

± 757 juta

439

suspended

7

TRAM

± 2,5 M

173

suspended

8

ARMY

± 138 juta

288

suspended

9

ASJT

± 13 juta

780

119

10

BALI

± 38 juta

1.695

1.090

11

BCIP

± 18 juta

753

64

12

BTEK

± 716 juta

132

50

13

HOME

± 122 juta

98

suspended

14

MYRX

± 4,7 M

102

suspended

15

INAF

± 44 juta

3.031

870

16

KAEF

± 40 juta

3.660

1.250

17

NIKL

± 63 juta

3.687

675

18

Maybank Asset Management

± 4,3 M

757

307

19

Emco Asset Management

± 295 juta

1.000

1.005

20

Asia Raya Kapital

± 936 juta

924

404

Sementara itu, pada 2018 rugi bersihnya hanya Rp 1 triliun. 

Adapun kerugian investasi PT Asabri sebesar Rp 19,4 triliun pada 2019 disebabkan oleh instrumen saham dan reksadana saham pada perusahaan afiliasi atau milik Benny Tjokro dan Heru Hidayat. 

Menurut Dirut Asabri Wahyu Suparyono, dikutip dari Detik.com, dibutuhkan dana Rp 13,75 triliun untuk memenuhi risk based capital (RBC) 120%. Ini adalah indikator kesehatan solvabilitas Asabri sebagai perusahaan asuransi. 

Saat ini kasus Asabri masih terus bergulir.

Modus Operandi Menurut Asumsi Saya

Apakah kasus Asabri, seperti halnya Jiwasraya, sekadar kerugian investasi, ataukah memang ada skema kejahatan untuk merampok dana perusahaan asuransi dengan sengaja membuatnya rugi?

Sebenarnya kalau dari kaca mata awam terlihat bahwa memang ada kesengajaan untuk mempercayakan dana pada beberapa orang, dan kemudian menanggung rugi besar. Rugi besar yang bukan sekadar rugi. 

Bisa saja skemanya memindahkan dana melalui pasar modal. Artinya, kelompoknya Bentjok atau HH membuat kendaraan lain sebagai lawan trading saham yang akan menyedot dana tersebut. 

Saya pernah masuk dalam beberapa saham milik Bentjok, yang pergerakan harganya sangat cepat berubah. 

Kalau menurut saya, itu bukan sekadar bandar saham yang menggerakkan harga. Itu adalah proses 'transfer' dana ke akun lain melalui sekuritas. 

Butuh waktu lama untuk memindahkan dana puluhan triliun. Perubahan harga dari ARA menjadi ARB pernah terjadi pada saham-saham yang mungkin dipakai sebagai kendaraan untuk transfer dana.  

Bagi awam, atau bandarmologi, ini semacam pergerakan market maker. Padahal, yang terjadi sesungguhnya adalah transfer dana.

Bila kemudian ada pemain saham lain yang ikut nyopet, ya bisa jadi mereka ikut ketiban duit Jiwasraya dan Asabri.  

Jadi, saham-saham itu bukan saham gorengan biasa. Saham-saham itu jadi medium untuk mentransfer dana.

Mungkin para pembela Bentjok dan HH akan bilang itu kerugian investasi biasa, di mana mereka memang bandar saham.

Kalau menurut saya terlalu jelas bahwa yang kalian lihat ketika harga-harga saham naik puluhan persen dalam hitungan detik/menit sebenarnya hanyalah proses transfer dana dari satu akun rekening sekuritas ke akun sekuritas yang lain.

Bisa hanya pakai satu sekuritas. Bisa beda-beda. Mirip dengan teori bandarmologi, tetapi intinya di sini adalah memindahkan dana, bukan sekadar mencari keuntungan. 

Karena, mana mungkin manajer investasi atau lembaga yang dipercaya perusahaan asuransi bisa menelan kerugian segitu besar salam tempo 1 tahun tanpa mitigasi. Kecuali memang sengaja memindahkan dana.

Dana 19 triliun dipindah perlahan selama 1 tahun. Di pasar seperti terlihat sebagai ulah bandar saham, tapi di belakangnya ... ya inilah yang terjadi. 

Jika kamu masih percaya Bentjok dkk adalah orang baik, pikir lagi.

Atau, masih percaya Bentjok bandar saham? Bandar kok rugi puluhan triliun? Mana ada bandar saham rugi!!!

Posting Komentar

0 Komentar