Ticker

6/recent/ticker-posts

Laris Manis Saham Bukalapak, Walau Rugi Masih Menghantui



Receh.in - Tudingan harga saham IPO PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) terlalu mahal ternyata tidak menggoyahkan minat investor (terutama ritel) untuk berburu saham unicorn pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia ini.

Beberapa rekan saya yang semula tampak enggan ikut antrean beli saham BUKA, akhirnya memutuskan ikut euforia ini. Pemicunya adalah kabar bahwa terjadi kelebihan permintaan atau disebut oversubscribed 4x.

Artinya, permintaan pasar jauh melebihi target Bukalapak yang berniat menjaring dana sebanyak-banyaknya Rp21,75 triliun. Ini sekaligus jadi catatan sejarah IPO terbesar di BEI atau Indonesia (sebelum nantinya masuk GOTO--katanya sih jadi).

Klaim bahwa harga BUKA terlalu mahal jika dilihat secara "benar" dengan mengukur revenue atau pendapatan perusahaan, bukan transaksi yang terjadi di platform Bukalapak sebenarnya sah-sah saja, dan memang benar demikian.

Tingkat harga yang mahal itu juga tidak bisa  bersembunyi di balik konsep startup yang diklaim punya pertumbuhan (growth) yang cepat.

Apalagi, selepas perubahan pucuk pimpinan ke profesional, dengan sang founder mundur dari posisi CEO, Bukalapak telah berubah jadi korporasi pada umumnya. Toh, mereka juga sudah memberi statement tidak akan lagi jor-joran bakar uang, sesuatu yang khas pada startup.

Maka, kalau ada yang menilai harga Bukalapak terlalu mahal, ya bisa saja benar.

Namun, mahal atau murah, harga saham Bukalapak yang menentukan ya pemiliknya sendiri, atau pemegang saham mayoritas sekarang dan manajemen, bekerjasama dengan underwriter. 

Pada saat ini, mahal murahnya sebuah saham tidak ada atau minim kaitannya dengan naik-turunnya harga saham itu, terutama jika kita investasi dalam jangka pendek. 

Sebuah saham bisa saja dianggap murah, tetapi mungkin perusahaannya kurang berkualitas, dan atas suatu kejadian, misalnya, ternyata di depan mereka mengalami masalah. Contohnya kasus utang yang bisa menyeret perusahaan masuk PKPU. 

Kondisi di atas membuat perdebatan soal saham Bukalapak bukan lagi soal murah atau mahal, tapi bagaimana peluang kenaikan harganya? 

Dengan dana Rp21 triliun di kantong, apa yang bisa dilakukan Bukalapak untuk meningkatkan value perusahaan? 

Dana segitu besar terbakar sia-sia jika orang-orang di balik manajemen Bukalapak tidak punya visi dan profesionalitas yang baik. 

Jika melihat plan korporasi yang tercantum dalam prospektus, sebenarnya tidak ada yang spesial. Mereka menjalankan bisnis yang sudah ada, tidak melakukan akuisisi (atau belum), dan yang jelas bisnis e-commerce ada di lautan merah, meski pemainnya bisa dihitung jari.

Saat ini, kompetitor utama Bukalapak yang benar-benar kelihatan ada dua, Shopee dan Tokopedia. Namun, tentu saja ada ecommerce lain yang siap menyaingi Bukalapak seperti Blibli (milik Grup Djarum).  

Sebagai gambaran, berikut ini strategi usaha Bukalapak seperti tercantum di prospektus:

  • Memanfaatkan Mitra untuk mendapatkan potensi Indonesia di daerah non-Tier 1 yang memiliki inklusi keuangan rendah dan masih mengandalkan penggunaan uang tunai;
  • Meningkatkan penawaran produk Perseroan baik barang fisik maupun digital;
  • Memperdalam dan memperluas kemitraan dengan penyedia produk;
  • Memanfaatkan peningkatan skala untuk meningkatkan unit economics dan profitabilitas;
  • Mendorong manfaat sosial bagi Mitra Perseroan dan komunitas di tempat Perseroan beroperasi.


Posting Komentar

0 Komentar