Ticker

8/recent/ticker-posts

27 Risiko Usaha yang Membayangi Saham Blibli (BELI)


Receh.in
- Sudah siap beli saham PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli.com)? Startup ecommerce yang dibekingi Grup Djarum. 

Sebelum membeli tentunya kalian harus memperhatikan kondisi perusahaan berdasarkan prospektus penawaran umum perdana saham (IPO).

Nah, prospektus tentunya bukan hanya berisi prospek dan peluang bisnis calon emiten yang akan melantaidi Bursa Efek Indonesia. Di dalamnya juga dijabarkan risik-risiko yang membayangi perseroan. 

Salah satu risiko usaha itu bersifat material baik secara langsung maupun tidak langsung yang dapat mempengaruhi hasil usaha dan kondisi keuangan perseroan.

Nah, berikut ini kami sajikan risiko usaha seperti apa saja yang membayangi kinerja usaha Blibli.com (BELI) ke depan. 

  1. Perseroan memiliki riwayat rugi komprehensif dan mungkin tidak dapat meraih profitabilitas di masa depan
  2. Skala usaha Perseroan saat ini mungkin bukan merupakan indikasi prospek pertumbuhan Perseroan di masa depan. 
  3. Apabila gagal mengantisipasi kebutuhan konsumen, adaptasi dalam layanan dan/atau model bisnis Perseroan atau standar industri yang berkembang.
  4. Kegagalan Perseroan untuk bersaing secara efektif.
  5. Apabila Perseroan tidak mampu mengelola pertumbuhan atau melaksanakan strategi Perseroan secara efektif.
  6. Kerugian akibat tidak mampu melakukan inovasi, pengembangan teknologi, gagal meraih penawaran atau inisiatif tambahan, atau gagal investasi.
  7. Apabila tidak berhasilnya untuk mengembangkan ekosistem omnichannel Perseroan dan sinergi dengan Grup Perseroan.
  8. Apabila Gagal dalam memelihara dan mengembangkan hubungan Perseroan dengan para penjual 3P.
  9. Ketergantungan pada pemasok tunggal seperti Samsung dan brand besar lainnya.
  10. Ketergantung pada upaya berkesinambungan manajemen dan tenaga ahli Perseroan.
  11. Perseroan mungkin menghadapi tuntutan hukum dan perkara hukum.
  12. Tidak berhasilnya dalam memperoleh modal tambahan dengan menerbitkan efek berbasis ekuitas.
  13. Gangguan terhadap sistem TI Perseroan.
  14. Tuntutan berdasarkan undang-undang perlindungan konsumen, termasuk tuntutan kesehatan dan keselamatan dan tuntutan liabilitas produk.
  15. Kerusakan terhadap merek-merek atau reputasi Perseroan.
  16. Apabila gagal dalam mendeteksi kegiatan pencucian uang atau pendanaan terorisme atau kegiatan ilegal atau tidak patut lainnya secara penuh atau tepat waktu.
  17. Malfungsi, keterbatasan kapasitas dan gangguan operasional pada platform seluler, infrastruktur internet, atau jaringan telekomunikasi.
  18. Ketergantungan pada app store untuk menyebarluaskan aplikasi seluler Perseroan.
  19. Kegagalan dalam menghasilkan dan mengolah data dalam jumlah besar, dan penggunaan atau pengungkapan data yang tidak pada tempatnya.
  20. Apabila ada kegagalan untuk melindungi informasi rahasia dan platform Perseroan terhadap pelanggaran keamanan.
  21. Tidak terpenuhinya persetujuan atau izin yang diperlukan, serta kegagalan mematuhi ketentuan yang berlaku.
  22. Fluktuasi penjualan musiman yang dapat menimbulkan volatilitas atau dampak merugikan terhadap harga pasar Saham Yang Ditawarkan di masa depan.
  23. Perubahan peraturan perpajakan Indonesia.
  24. Perseroan mungkin menjadi target pengawasan publik, termasuk penyebaran laporan negatif atau tuduhan tentang kegiatan usahanya.
  25. Perseroan mungkin tidak memiliki pertanggungan asuransi yang memadai untuk menutup risiko usaha Perseroan.
  26. Perubahan pembatasan dan persyaratan layanan pembayaran oleh pihak ketiga.
  27. Ketidakakuratan pada data industri untuk memperkirakan peluang pasar dan pertumbuhan pasar.

Nah, kalau sudah membacanya tentunya kalian bakal lebih aware terhadap masa depan perusahaan.

Di sisi lain, psikologi pasar juga akan sangat menentukan keberhasilan IPO ini. Mengingat IPO startup sebelumnya bisa berpengaruh terhadap keputusan investor untuk membeli atau tidak membeli saham perdana BELI.


Baca Juga:

Posting Komentar

0 Komentar