Ticker

4/recent/ticker-posts

January Effect 2024 Meningkatkan Kerentanan Pasar Saham-Obligasi

Daftar Isi [Tampilkan]


Pasar keuangan pada awal 2024 menghadapi ketidakpastian, terutama terkait ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. 

Menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto yang dipublikasikan di website resmi perusahaan sekuritas itu, kecenderungan Federal Open Market Committee (FOMC) yang lebih berhati-hati dalam menghadapi inflasi menandakan pentingnya strategi yang moderat untuk mengendalikan ekspektasi pasar. 

Khususnya, kinerja aset yang kuat belakangan ini dan penurunan yield obligasi pemerintah AS (UST) di bawah 4% menambah kompleksitas situasi. 

"Dalam pandangan kami, pendekatan yang hati-hati ini sangat penting untuk strategi Federal Reserve yang bertujuan untuk menyesuaikan ekspektasi pasar, terutama menyusul kinerja aset yang kuat yang mengakibatkan yield obligasi pemerintah AS (UST) jangka 10 tahun turun di bawah 4%," tulis Helmy dalam rsietnya 8 Januari 2024.

Pernyataan yang lebih tegas dari Fed di pertemuan FOMC mendatang dapat meningkatkan risiko terhadap mata uang, khususnya Rupiah Indonesia (IDR), yang telah menunjukkan peningkatan kerentanan akibat arus masuk asing yang signifikan sejak kuartal keempat tahun 2023.

Rotasi tahunan anggota FOMC menghasilkan postur yang lebih seimbang, seperti yang ditunjukkan oleh spektrometer Fed Bloomberg. 

Meskipun skor keseluruhan para pembuat kebijakan menunjukkan nada yang lebih seimbang di tahun 2024, masih ada risiko terhadap ekspektasi pasar yang cenderung mengharapkan pendekatan yang lebih agresif dari Fed, baik dalam hal waktu maupun tingkat penurunan suku bunga.


Stabilitas Fiskal Pemerintah

Semetara itu, kinerja fiskal pemerintah Indonesia pada 2023 berakhir dengan defisit anggaran yang lebih rendah dari target. 

Ini didukung oleh penerimaan pajak yang kuat, dengan pertumbuhan signifikan di berbagai kategori pajak. 

Pada awal 2024, Kementerian Keuangan menekankan pentingnya alokasi anggaran untuk pemilu yang akan datang. Pajak akan tetap menjadi tulang punggung fiskal di tahun 2024, dengan total pendapatan pajak yang diperkirakan tumbuh 7.7% menjadi IDR 2,309.9 triliun.


Pasar Modal – Arus Masuk Kuat di Awal Tahun

Pasar obligasi menunjukkan tren moderasi di minggu pertama 2024. Yield obligasi AS 10-tahun dan INDOGB mengalami peningkatan. Indeks dolar yang lebih kuat menyebabkan pelemahan Rupiah. 

Sementara itu, kepemilikan asing dalam Sekuritas Pemerintah Negara (SBN) domestik mengalami penurunan, tetapi masih mencatatkan arus masuk bulanan yang signifikan pada Desember.

Pemerintah juga akan mengadakan lelang SBSN pada 9 Januari 2024, dengan target sebesar Rp12 triliun. Lelang terakhir pada 19 Desember 2023 menunjukkan penurunan jumlah tawaran dibandingkan lelang sebelumnya, dengan jumlah penawaran yang tidak mencapai target pemerintah.


Ekuitas – Arus Masuk Kuat ke Saham Kapitalisasi Besar


Di sisi lain arus masuk asing di minggu pertama Januari 2024 mencapai Rp2,7 triliun, mendorong kenaikan indeks saham. 

Inflasi ini terutama didorong oleh aktivitas pembelian di bank-bank besar, dengan saham-saham seperti BBCA, BBRI, TLKM, dan BMRI menjadi yang paling banyak dibeli, sedangkan saham seperti GOTO, MDKA, UNTR, dan KLBF mengalami arus keluar.

Pasar keuangan di awal tahun 2024 ditandai dengan dinamika yang kompleks, termasuk pengaruh kebijakan moneter Fed, stabilitas fiskal pemerintah, dan pergerakan di pasar modal. 

Keseimbangan baru di FOMC, kinerja fiskal pemerintah yang kuat, dan tren di pasar modal dan obligasi menunjukkan tantangan dan peluang yang harus diperhatikan oleh investor dan pembuat kebijakan.


Posting Komentar

0 Komentar