Receh.in - Hai Recehiner! Pernahkah Anda mendengar mitos bahwa konten yang dibuat oleh Artificial Intelligence (AI) akan dihukum oleh Google?
Banyak SEO dan digital marketer yang masih percaya hal ini, padahal Google sendiri sudah berulang kali menyatakan posisi mereka. Bahkan, Google sudah meluncurkan AI Overviews dan AI Mode, yang notabene adalah konten hasil AI.
Jadi, sebenarnya bagaimana posisi Google terhadap konten AI? Apakah mereka menghukum, memberi penghargaan, atau justru tidak peduli sama sekali? Ahrefs dalam tulisan berjudul "AI-Generated Content Does Not Hurt Your Google Rankings (600,000 Pages Analyzed)" punya jawabannya! Ahrefs telah menganalisis 600.000 halaman website untuk membongkar mitos ini.
Mari kita selami temuannya!
Metodologi Penelitian
Untuk menjawab pertanyaan besar ini, Ahrefs melakukan penelitian ekstensif dengan metodologi yang transparan:
- Pengambilan Data: Ahrefs mengambil 100.000 kata kunci acak dari Ahrefs Keywords Explorer.
- Ekstraksi URL: Dari setiap kata kunci, Ahrefs mengekstrak 20 URL teratas yang muncul di hasil pencarian. Total ada 600.000 URL yang masuk dalam database Ahrefs.
- Analisis Konten AI: Setiap artikel dari URL tersebut kemudian Ahrefs jalankan melalui detektor konten AI internal Ahrefs, yang merupakan bagian dari Page Inspect di Site Explorer.
Apa yang Ditemukan Detektor Konten AI Ahrefs?
Hasil analisis detektor AI Ahrefs menunjukkan gambaran yang menarik:
- 4,6% halaman dikategorikan sebagai "murni AI."
- 13,5% dikategorikan sebagai "murni manusia."
- 81,9% dikategorikan sebagai campuran keduanya (AI dan manusia).
Dari halaman yang merupakan campuran AI dan manusia, Ahrefs menemukan distribusi penggunaan AI sebagai berikut:
- 13,8% menunjukkan penggunaan AI minimal (1-10% konten AI).
- 40% menunjukkan penggunaan AI moderat (11-40% konten AI).
- 20,3% menunjukkan penggunaan AI substansial (41-70% konten AI).
- 7,8% menunjukkan penggunaan AI dominan (71-99% konten AI).
Catatan Penting: Perlu diingat bahwa tidak ada detektor konten AI yang sempurna. Sama seperti model bahasa besar (LLMs), detektor AI bekerja berdasarkan probabilitas, bukan kepastian mutlak. Mereka bisa sangat akurat, tetapi selalu ada risiko positif palsu.
Sebagian Besar Halaman Peringkat Teratas Dibantu AI
Salah satu temuan paling mengejutkan adalah bahwa konten yang sepenuhnya ditulis oleh manusia hanya menyumbang 13,5% dari 20 halaman peringkat teratas. Ini berarti 86,5% halaman peringkat teratas mengandung sejumlah konten yang dihasilkan atau dibantu AI.
Angka ini sebenarnya bisa kita duga. AI kini punya banyak fungsi selain sekadar membuat konten, seperti memeriksa ejaan, meningkatkan tata bahasa, menyempurnakan tulisan, mengoptimalkan judul, bahkan menantang ide-ide kita. Bahkan Google Docs yang saya gunakan untuk menulis ini punya fitur AI bawaan!
Jika Google memang ingin menghukum konten AI secara aktif, hasil seperti ini tidak akan mungkin terjadi. Bahkan, fakta bahwa ada konten "murni AI" (walaupun langka, hanya 4,6%) di halaman peringkat teratas sudah menjadi bukti kuat bahwa Google tidak menghukum konten AI. Dalam laporan State of AI in Content Marketing Ahrefs, di mana Ahrefs mensurvei 879 pemasar, 87% responden menggunakan AI untuk membantu membuat konten.
Sama seperti kini sulit menemukan baja hasil manufaktur yang tak tersentuh oleh dampak nuklir, sebentar lagi takkan ada satu pun konten yang tak 'ternoda', atau terasistensi, oleh AI.
Google Tidak Menghukum Maupun Memberi Penghargaan Konten AI
Ahrefs menghitung korelasi antara persentase konten AI dan posisi peringkat pencarian di seluruh dataset Ahrefs. Hasilnya? Korelasi hanya 0,011, yang secara efektif berarti nol.
Secara sederhana, tidak ada hubungan yang jelas antara seberapa banyak konten yang dihasilkan AI dalam sebuah halaman dengan seberapa tinggi peringkatnya di Google. Ini menunjukkan bahwa Google tidak secara signifikan memberi penghargaan maupun menghukum halaman hanya karena mereka menggunakan AI.
Konten Murni AI Jarang Mencapai Posisi #1
Jika Anda mencari sedikit "angin segar" atau celah, ada satu hal yang mungkin membuat Anda senang: halaman-halaman dengan peringkat tertinggi, yaitu posisi #1, cenderung memiliki sedikit lebih sedikit konten yang dihasilkan AI.
Bahkan, jika kita mengelompokkannya menjadi tiga kategori (penggunaan AI minimal 0-30%, penggunaan AI sedang 30-70%, dan penggunaan AI substansial 70-100%), kelompok dengan penggunaan AI minimal berkorelasi sangat sedikit dengan peringkat yang lebih tinggi.
Ini menunjukkan adanya preferensi minor untuk konten yang lebih banyak dibuat manusia atau dibantu AI secara ringan di posisi paling atas hasil pencarian (SERP). Namun, perlu diingat bahwa korelasi ini sangat lemah.
Jangan Takut Menggunakan AI!
Dari penelitian Ahrefs, jelas terlihat bahwa Google tidak secara aktif menghukum maupun memberi penghargaan pada konten AI. Jadi, Anda tidak perlu takut dan menghindari konten AI sepenuhnya.
Pada akhirnya, Google kemungkinan besar tidak peduli bagaimana Anda membuat konten. Mereka hanya peduli apakah pengguna menemukan konten tersebut bermanfaat.
Jika Anda bisa membuat konten murni AI yang unik, bermanfaat, dan diinginkan oleh pencari, maka tidak ada alasan untuk tidak melakukannya. Namun, dari pengalaman Ahrefs dan data yang ada, sulit membuat konten berkualitas tinggi hanya dari AI semata.
Itulah mengapa sebagian besar pembuat konten memanfaatkan AI sebagai alat bantu dalam membuat konten, bukan sekadar menghasilkan konten secara otomatis. AI adalah alat yang powerful, gunakanlah dengan bijak untuk meningkatkan kualitas konten Anda!
0 Komentar