Ticker

4/recent/ticker-posts

FUTR Perkuat Manajemen dan Fokus ke Geotermal, PLTS Bali, dan Proyek Karbon Nasional

Daftar Isi [Tampilkan]


Receh.in
— PT Futura Energi Global Tbk (FUTR) melakukan perombakan besar dalam jajaran pengurusnya. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), pemegang saham menyetujui perubahan struktur Direksi dan Komisaris sebagai bagian dari strategi transformasi menuju bisnis energi hijau nasional.

Hasil rapat menetapkan Jenderal Polisi (Purn.) Sutanto sebagai Komisaris Utama, menggantikan H. Khairiansyah Salman, SE yang sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen. Selain itu, Harry Maryanto Supoyo ditunjuk sebagai Komisaris, dan Anggara Suryawan resmi menjadi Direktur Utama (CEO).

 

Arah Baru FUTR: dari Geotermal ke PLTS dan Pasar Karbon

Direktur Utama FUTR, Anggara Suryawan, mengatakan bahwa formasi manajemen baru ini diharapkan menjadi katalis bagi transformasi energi hijau di Indonesia, sejalan dengan visi perseroan untuk membangun bisnis energi bersih dengan tata kelola kelas dunia.

“Kombinasi Sutanto, Supoyo, dan Anggara diyakini akan membawa FUTR ke fase pertumbuhan baru dan dapat menjadi katalis transformasi energi hijau di Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (11/11).

FUTR saat ini menempatkan geotermal (panas bumi) sebagai pilar utama pertumbuhan. Aset geotermal yang telah dimiliki perusahaan akan diaktivasi kembali melalui reaktivasi eksplorasi pada kuartal I/2026, yang dimulai dengan proyek di Purwokerto, Jawa Tengah.

Anggara menjelaskan, tahap awal eksplorasi geotermal ini menargetkan kapasitas 30 megawatt (MW) dengan nilai investasi sekitar US$120 juta.

“Proses pengeboran ditargetkan dapat dimulai pada akhir tahun depan, setelah penyusunan studi kelayakan dan persiapan teknis selesai,” tegasnya.

Selain geotermal, FUTR juga tengah menyiapkan proyek PLTS terapung (floating solar PV) di Danau Nusa Dua, Bali, yang direncanakan mulai konstruksi pada kuartal II/2026. Proyek ini merupakan pengembangan dari area showcase G20 dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.

“PLTS relatif lebih cepat, hanya sekitar enam bulan dari persetujuan sampai operasional, karena sifatnya tinggal integrasi ke grid,” jelas Anggara.

FUTR menilai proyek PLTS ini akan menjadi model implementasi energi surya yang efisien dan ramah lingkungan, sekaligus mendukung agenda Bali Net Zero Emission 2045.

Tak hanya di sektor energi panas bumi dan surya, FUTR juga memperluas visinya ke dekarbonisasi berbasis hutan (carbon absorbance).
Perusahaan tengah mengembangkan proyek sertifikasi karbon internasional di kawasan Indonesia Timur, sekitar Sulawesi, dengan total lahan mencapai 70 ribu hektare.

“Sekarang sedang dalam tahap sertifikasi, bahkan sudah ada pihak luar negeri yang berminat membeli kredit karbonnya. Tapi kami ingin sebagian tetap dijual di dalam negeri karena banyak perusahaan lokal yang juga wajib membeli,” ungkapnya.

Melalui proyek karbon ini, FUTR menargetkan dapat masuk ke bursa karbon nasional pada tahun 2027, menjadikan perusahaan sebagai pemain aktif dalam perdagangan emisi karbon domestik maupun global.

Meski berbagai proyek strategis tersebut masih berada dalam tahap pengembangan, Anggara menilai potensi jangka panjangnya sangat besar.
Menurutnya, fokus ke energi terbarukan tanpa biaya bahan bakar akan menjadi keunggulan kompetitif FUTR dalam beberapa tahun ke depan.

“Seluruh proyek memang belum akan berkontribusi signifikan terhadap pendapatan tahun depan, tetapi akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan berkelanjutan FUTR dan mendukung transisi energi nasional,” ujar Anggara.

Ke depan, FUTR akan memusatkan strategi pada penguatan portofolio energi bersih dan penyiapan aset-aset berpendapatan (revenue-generating assets) agar dapat menopang kinerja jangka menengah perusahaan.

Dengan dukungan manajemen baru dan orientasi bisnis hijau yang kuat, FUTR menegaskan komitmennya untuk menjadi salah satu penggerak utama transisi energi Indonesia menuju masa depan rendah emisi.

 

 

Posting Komentar

0 Komentar