Dinamika kepemilikan saham di PT Essa Industries Indonesia Tbk. (ESSA) tengah menjadi sorotan pasar. Salah satu pemegang saham utama sekaligus konglomerat ternama, Theodore Permadi Rachmat (TP Rachmat), terpantau melakukan aksi jual saham untuk pertama kalinya sepanjang tahun berjalan 2026.
Meski ada aksi divestasi dari sang tokoh besar, pergerakan harga saham emiten kongsi Boy Thohir dan TP Rachmat ini justru menunjukkan performa yang menggairahkan di lantai bursa.
Detail Transaksi TP Rachmat di Saham ESSA
Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 5 Maret 2026, TP Rachmat melepas sebanyak 8,95 juta lembar saham ESSA melalui PT Banana Sekuritas. Ini merupakan transaksi pertama TP Rachmat di ESSA setelah ia mempertahankan kepemilikannya dengan setia sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026.
Berikut adalah perubahan posisi kepemilikan TP Rachmat:
- Sebelum Transaksi: 1.233.307.456 lembar (7,16%)
- Setelah Transaksi: 1.224.349.556 lembar (7,11%)
Meskipun menyusut, TP Rachmat masih memegang porsi yang signifikan di perusahaan yang bergerak di bidang energi dan kimia (amonia & LPG) ini.
Harga Saham ESSA Tetap "Menghijau" dan Menguat 29% YtD
Menariknya, aksi jual oleh investor kakap ini tidak menyurutkan optimisme pasar. Pada perdagangan hari ini, Senin (9/3/2026), saham ESSA terpantau menguat ke level Rp795 per lembar pada pukul 11.26 WIB.
Performa saham ESSA belakangan ini cukup impresif bagi para pemegang saham:
- Year-to-Date (YtD): Menguat signifikan sebesar 29,27%.
- 6 Bulan Terakhir: Naik 27,20%.
- Kapitalisasi Pasar: Mencapai Rp13,61 triliun.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa minat beli investor ritel maupun institusi lainnya masih sangat kuat, menutupi tekanan jual dari aksi divestasi minor tersebut.
Menilik Rapor Keuangan ESSA Tahun Buku 2025
Dari sisi fundamental, ESSA baru saja merilis kinerja tahun buku 2025 yang telah diaudit. Meskipun pendapatan dan laba bersih mengalami koreksi tipis, perusahaan tetap mencatatkan angka yang solid:
|
Indikator Keuangan (2025) |
Nilai |
Keterangan |
|
Pendapatan Usaha |
US$295 Juta |
Turun 2% (YoY) |
|
Laba Bersih |
US$40 Juta (~Rp676,76 Miliar) |
Turun 11% (YoY) |
|
Asumsi Kurs |
Rp16.919 per USD |
Data per 6 Maret 2026 |
Koreksi pada laba bersih ini dinilai wajar oleh pasar mengingat volatilitas harga komoditas energi global sepanjang tahun lalu. Namun, posisi ESSA yang kini fokus pada pengembangan amonia rendah karbon (Blue Ammonia) diprediksi akan menjadi motor pertumbuhan baru di masa depan.

0 Komentar