PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) membuka tahun 2026 dengan aktivitas eksplorasi yang cukup agresif. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, perseroan telah menggelontorkan Rp6,67 miliar untuk kegiatan pengeboran tambang di tiga anak usahanya yang memegang izin PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara), yakni PT Indominco Mandiri, PT Trubaindo Coal Mining, dan PT Bharinto Ekatama.
Kegiatan ini bukan aktivitas baru — melainkan kelanjutan dari pengeboran yang sudah berjalan sejak periode sebelumnya, dengan fokus utama pada pengeboran pre-production dan development. Dua metode yang digunakan adalah open hole (lubang terbuka) dan coring (pengeboran inti), masing-masing punya peran berbeda dalam peta eksplorasi batu bara.
Rincian Biaya dan Lokasi Pengeboran per Anak Usaha
Tidak semua anak usaha berkontribusi sama besar. Bharinto Ekatama menjadi yang paling banyak menyedot anggaran, sementara Trubaindo menjadi yang paling efisien secara biaya.
|
Anak Usaha |
Lokasi |
Total Biaya Q1 2026 |
|
PT Trubaindo Coal Mining |
Blok Selatan |
Rp1,07 miliar |
|
PT Indominco Mandiri |
Blok Barat & Blok Timur |
Rp1,43 miliar |
|
PT Bharinto Ekatama |
Kalimantan Timur & Tengah |
Rp4,17 miliar |
PT Bharinto Ekatama menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 62,5% dari total anggaran pengeboran. Aktivitasnya pun paling masif — meliputi 50 lubang pengeboran pra-produksi di Blok Lempanang dan 107 lubang eksplorasi di Blok Tenaik, dengan total kedalaman open hole mencapai lebih dari 6.300 meter hanya di satu blok saja.
Angka-angka ini mencerminkan bahwa ITMG sedang serius memetakan potensi cadangan jangka panjang, bukan sekadar menjalankan kewajiban eksplorasi rutin.
Open Hole vs Coring: Mengapa Keduanya Dipakai Bersamaan?
Bagi investor yang belum familiar dengan teknis pertambangan, perbedaan dua metode ini penting untuk dipahami karena mencerminkan seberapa jauh sebuah emiten tambang sudah melangkah dalam siklus eksplorasi.
Open hole digunakan untuk identifikasi awal — prosesnya lebih cepat dan murah, tetapi hanya menghasilkan serpihan batuan sehingga data yang diperoleh terbatas. Metode ini cocok untuk screening awal kawasan prospektif.
Coring bekerja sebaliknya: menghasilkan sampel batuan utuh berbentuk silinder yang memungkinkan analisis kualitas batu bara dan struktur geologi secara jauh lebih presisi. Data dari coring inilah yang biasanya menjadi dasar perhitungan cadangan dan studi kelayakan (feasibility study).
Fakta bahwa ITMG menggunakan keduanya secara bersamaan menunjukkan bahwa eksplorasi sedang berjalan di berbagai tahap kematangan — ada area yang masih dipetakan, ada pula yang sudah menuju perhitungan cadangan formal.
Eksplorasi Gencar, tapi Analis Sudah Turunkan Rating ITMG
Di sinilah investor perlu bersikap kritis. Aktivitas pengeboran yang aktif tidak otomatis berarti prospek saham ITMG sedang cerah. Analis KB Valbury Sekuritas, Laurencia Hiemas, justru memangkas rating ITMG dari buy menjadi hold, dengan target harga diturunkan dari Rp27.000 menjadi Rp25.000.
Ada tiga tekanan struktural yang mendasari keputusan itu:
- Pemangkasan RKAB 2026 — produksi ITMG tahun ini diproyeksikan hanya sekitar 12,7 juta ton, anjlok hampir 40% dari asumsi sebelumnya di angka 22 juta ton.
- PP No. 18/2025 — regulasi baru ini mendongkrak tarif pajak efektif dari 24,1% menjadi 32,2%, yang diperkirakan menggerus laba tahunan sekitar US$15 juta–US$20 juta.
- Potensi kenaikan porsi DMO — jika porsi domestic market obligation naik ke 30% dengan harga jual ke PLN yang dibatasi US$70 per ton, blended ASP ITMG bisa tertekan ke sekitar US$78,8 per ton.
Valuasi Rp25.000 dihitung menggunakan metode SOTP-DCF hingga masa habis cadangan 2044, dengan asumsi harga batu bara US$70–US$79 per ton dan cash cost 2026 sebesar US$58,9 per ton.
Menariknya, pada penutupan Jumat (10/4/2026), saham ITMG justru berada tepat di angka Rp27.000 — sudah melampaui target analis. Dalam sebulan terakhir harganya memang terkoreksi 4,59%, namun secara year-to-date saham ini masih melambung 23,43% dan sempat menyentuh level tertinggi Rp30.075.
Kesimpulannya: ITMG adalah emiten batu bara yang sedang aktif membangun fondasi cadangan jangka panjang melalui eksplorasi serius, tetapi dihadapkan pada tekanan regulasi dan produksi yang nyata di tahun ini. Investor perlu menimbang keduanya — bukan hanya tergoda oleh aktivitas bor yang masif, melainkan juga memperhitungkan hambatan struktural yang sudah di depan mata.
0 Komentar