Daftar IsiTampilkan


Di tengah perdebatan mengenai kuota produksi batu bara, angka setoran royalti mulai memiliki arti lebih besar daripada sekadar biaya yang muncul dalam laporan perusahaan.
Pemerintah memberi sinyal bahwa perusahaan dengan kontribusi royalti lebih besar akan mendapatkan perhatian ketika relaksasi atau perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dipertimbangkan.

Kebijakan tersebut membuat daftar pembayar royalti terbesar menjadi menarik bagi investor. Dari sembilan emiten batu bara yang dihimpun sepanjang semester I/2026, pembayaran royalti mencapai US$608,65 juta. Jika sekadar dikonversi menggunakan kurs JISDOR Rp17.899 per dolar AS pada 30 Juni 2026, nilainya setara sekitar Rp10,89 triliun.

PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) berada di posisi teratas dengan pembayaran US$140,83 juta atau sekitar Rp2,52 triliun berdasarkan kurs tersebut. Di belakangnya terdapat PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) sebesar US$136,52 juta dan PT Indika Energy Tbk. (INDY) US$136,51 juta. Selisih BYAN dengan INDY bahkan hanya sekitar US$10.000.

Empat perusahaan teratas—BUMI, BYAN, INDY, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG)—secara bersama-sama menyetor sekitar US$524,8 juta atau 86,2% dari total royalti sembilan emiten. Konsentrasi ini menunjukkan betapa besarnya kontribusi segelintir produsen batu bara terhadap penerimaan negara dari kelompok emiten yang dibandingkan.

Tetapi angka royalti tidak boleh langsung dibaca sebagai ukuran perusahaan yang paling untung. Besarnya setoran dipengaruhi volume penjualan, harga dasar, kualitas batu bara, tarif yang berlaku, serta rezim izin atau kontrak perusahaan. Bahkan dua perusahaan dengan laba sama dapat membayar royalti yang sangat berbeda apabila kualitas dan volume komoditas yang dijual berbeda.

Ringkasan
  • Sembilan emiten batu bara membayar royalti US$608,65 juta pada H1/2026, naik sekitar 1,69% YoY dan setara sekitar Rp10,89 triliun dengan kurs Rp17.899/US$.
  • BUMI menjadi pembayar terbesar US$140,83 juta, disusul BYAN US$136,52 juta, INDY US$136,51 juta, dan ITMG US$110,94 juta. Empat emiten ini menyumbang 86,2% total.
  • Royalti kini semakin relevan terhadap prospek operasional karena Menteri ESDM memberi sinyal perusahaan dengan pembayaran royalti besar akan diprioritaskan dalam relaksasi RKAB. Namun besarnya royalti bukan jaminan tambahan kuota produksi.
US$608,65 Jt Total Royalti 9 Emiten
Rp10,89 T Setara Rupiah*
86,2% Porsi 4 Emiten Terbesar
+49,02% Pertumbuhan Royalti ARII

*Perhitungan Receh.in menggunakan kurs JISDOR 30 Juni 2026 sebesar Rp17.899 per dolar AS untuk memberikan gambaran skala. Pembayaran royalti aktual tidak seluruhnya harus dikonversi menggunakan kurs tersebut.

Daftar Royalti Emiten Batu Bara: BUMI Tipis Mengungguli BYAN dan INDY

Jika hanya melihat peringkat, persaingan di tiga besar sangat ketat.

BUMI membayar royalti US$140,83 juta pada semester I/2026, meningkat 7,06% dari US$131,55 juta tahun lalu. Dengan kurs Rp17.899, nilainya secara ilustratif sekitar Rp2,52 triliun.

BYAN berada di posisi kedua dengan US$136,52 juta atau sekitar Rp2,44 triliun. Pembayarannya meningkat 9,90% secara tahunan.

INDY nyaris identik dengan BYAN pada US$136,51 juta. Bedanya, royalti INDY justru turun 13,76% dari US$158,29 juta tahun sebelumnya.

ITMG menjadi emiten terakhir yang setoran enam bulannya menembus US$100 juta, yakni US$110,94 juta atau sekitar Rp1,99 triliun.

Peringkat Emiten Royalti H1 2026 H1 2025 Perubahan YoY Setara Rp*
1 BUMI US$140,83 juta US$131,55 juta +7,06% ~Rp2,52 T
2 BYAN US$136,52 juta US$124,22 juta +9,90% ~Rp2,44 T
3 INDY US$136,51 juta US$158,29 juta -13,76% ~Rp2,44 T
4 ITMG US$110,94 juta US$103,65 juta +7,04% ~Rp1,99 T
5 CUAN US$26,68 juta US$22,29 juta +19,70% ~Rp478 M
6 HRUM US$22,12 juta US$31,14 juta -28,98% ~Rp396 M
7 ARII US$20,93 juta US$14,05 juta +49,02% ~Rp375 M
8 KKGI US$9,12 juta US$9,35 juta -2,46% ~Rp163 M
9 SMMT US$5,00 juta US$3,97 juta +26,02% ~Rp89 M

*Konversi Receh.in dengan kurs Rp17.899/US$ dan dibulatkan. Digunakan hanya untuk menggambarkan skala pembayaran.

Total US$608,65 juta tersebut hanya meningkat sekitar 1,69% dibandingkan US$598,51 juta pada semester I/2025. Artinya, secara agregat tidak terjadi ledakan pembayaran royalti meskipun beberapa emiten mencatat pertumbuhan dua digit.

Perubahan antarperusahaan justru sangat lebar.

ARII mencatat pertumbuhan royalti tertinggi sebesar 49,02%. SMMT menyusul dengan 26,02%, sedangkan CUAN meningkat 19,70%. Di sisi lain, HRUM turun hampir 29% dan INDY turun 13,76%.

Perbedaan tersebut menjadi pengingat bahwa tren royalti satu perusahaan tidak selalu sama dengan tren sektor. Setoran dapat turun ketika volume, harga dasar, atau komposisi penjualan berubah meskipun harga Newcastle sedang kuat.

Hal menarik lain adalah konsentrasinya. BUMI, BYAN, INDY, dan ITMG mengeluarkan US$524,8 juta dari US$608,65 juta keseluruhan.

Dengan kata lain, sekitar Rp86 dari setiap Rp100 royalti sembilan emiten dalam daftar ini berasal dari empat perusahaan tersebut.

Perhitungan Receh.in:
Total royalti BUMI, BYAN, INDY, dan ITMG mencapai US$524,80 juta. Dibandingkan total US$608,65 juta, porsinya sekitar 86,22%. Ini menunjukkan distribusi setoran royalti di antara sembilan emiten sangat terkonsentrasi pada empat produsen utama.

Tetapi peringkat ini tidak serta-merta dapat dipakai untuk menentukan saham batu bara terbaik.

Royalti adalah penerimaan negara, sedangkan investor membutuhkan laba dan arus kas yang tersisa setelah perusahaan membayar biaya operasional, royalti, pajak, bunga, belanja modal, dan kewajiban lainnya.

Karena itu, pembayaran royalti tinggi bisa berarti perusahaan mempunyai volume dan nilai penjualan besar, tetapi pada saat yang sama menjadi komponen biaya ekonomi yang harus diperhitungkan dalam profitabilitas.

Kenapa Royalti Bisa Jumbo? Bukan Sekadar Karena Perusahaan Lebih Untung

Untuk memahami angka tersebut, investor perlu mengetahui bagaimana royalti batu bara dibentuk.

Dalam aturan PNBP minerba, secara prinsip jumlah iuran produksi atau royalti dihitung berdasarkan volume penjualan dikalikan harga dasar dikalikan tarif yang berlaku. Tarif dapat mengacu pada peraturan pemerintah ataupun kontrak/perjanjian sesuai rezim pertambangan perusahaan.

Karena itu, ada beberapa variabel yang menentukan besar kecilnya pembayaran:

  • volume batu bara yang dijual;
  • harga dasar atau harga yang digunakan dalam penghitungan;
  • kalori dan kualitas batu bara;
  • Harga Batubara Acuan atau HBA;
  • jenis tambang; dan
  • status izin atau rezim kontrak perusahaan.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2025, misalnya, menetapkan tarif progresif untuk batu bara tambang terbuka pada skema yang dicakup aturan tersebut.

Untuk batu bara dengan nilai kalor sampai 4.200 kcal/kg GAR, tarif royalti berada pada kisaran 5%-9% tergantung HBA. Untuk kalori di atas 4.200 sampai 5.200 kcal/kg, tarifnya berkisar 7%-11,5%. Sementara batu bara di atas 5.200 kcal/kg memiliki tarif 9,5%-13,5% tergantung tingkat HBA.

Kalori Batu Bara Open Pit* HBA < US$70 HBA US$70–<90 HBA ≥ US$90
≤ 4.200 kcal/kg GAR 5% 6% 9%
>4.200–5.200 kcal/kg GAR 7% 8,5% 11,5%
>5.200 kcal/kg GAR 9,5% 11,5% 13,5%

*Ringkasan tarif dalam PP No. 19 Tahun 2025 untuk kategori batu bara open pit yang dicakup ketentuan tersebut. Tarif aktual masing-masing perusahaan tidak dapat ditentukan hanya dari tabel ini karena status izin, kontrak, dan ketentuan lainnya dapat berbeda.

Struktur progresif tersebut menjelaskan mengapa kenaikan harga batu bara dapat mempunyai efek ganda. Nilai penjualan meningkat, tetapi tarif royalti juga dapat masuk ke lapisan lebih tinggi ketika HBA melewati ambang tertentu.

Kementerian ESDM menetapkan HBA batu bara 6.322 GAR untuk periode pertama Agustus 2026 sebesar US$124,44 per ton. Untuk kalori 5.300 GAR, HBA I berada di US$93,27, sedangkan HBA II 4.100 GAR sebesar US$65,48.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa satu angka Newcastle tidak cukup untuk memperkirakan penerimaan atau margin setiap produsen Indonesia. Batu bara kalori tinggi dan rendah mempunyai harga acuan, struktur biaya, dan tarif yang berbeda.

Investor juga perlu berhati-hati menggunakan royalti untuk membandingkan profitabilitas.

BUMI, misalnya, membayar royalti US$140,83 juta pada enam bulan pertama. Pada periode yang sama, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$58,9 juta.

Secara nominal, royalti tersebut sekitar 2,39 kali laba attributable BUMI. Namun perbandingan ini bukan berarti “tarif efektif royalti BUMI 239%”. Keduanya merupakan pos dengan basis dan posisi laporan keuangan berbeda. Angka tersebut hanya menggambarkan bahwa penerimaan negara dari kegiatan batu bara dapat mempunyai skala yang sangat material dibandingkan laba yang akhirnya tersisa bagi pemegang saham.

Royalti besar tidak identik dengan margin besar.
Perusahaan dapat membayar royalti tinggi karena volume dan nilai penjualannya besar. Investor tetap perlu memeriksa ASP, cash cost, stripping ratio, biaya logistik, tarif royalti, pajak, dan volume sebelum menilai kualitas keuntungan perusahaan.

Kondisi BUMI pada semester pertama memberikan contoh yang cukup jelas.

Pendapatan berdasarkan laporan PSAK 111 naik 27,9% menjadi US$866,8 juta, sementara laba attributable meningkat 188,4% menjadi US$58,9 juta.

Data tambahan dari kinerja perusahaan menunjukkan harga FOB rata-rata batu bara pulih sekitar 2,6% menjadi US$62,90 per ton pada akhir semester I/2026. Produksi meningkat 7,1% menjadi 38,5 juta ton dan volume penjualan naik 11,7% menjadi 38,8 juta ton.

Perbaikan tidak hanya datang dari harga. Strip ratio turun dari 8,1 kali menjadi 7,5 kali, sementara volume pengupasan tanah penutup relatif stabil. Artinya, perusahaan dapat menghasilkan lebih banyak batu bara tanpa harus menaikkan volume material penutup dengan proporsi yang sama.

Persediaan juga turun menjadi 1,7 juta ton dari 2,7 juta ton karena penjualan bergerak lebih cepat daripada produksi.

Angka tersebut membantu menjelaskan mengapa BUMI mampu membayar royalti lebih besar sekaligus meningkatkan laba: volume naik, harga pulih, dan efisiensi penambangan membaik dalam periode yang sama.

Royalti Kini Bisa Ikut Menentukan RKAB, BUMI dan BYAN Dapat Keuntungan?

Bagian paling menarik dari cerita royalti tahun ini justru datang dari kebijakan pemerintah.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan perusahaan yang membayar royalti besar akan diprioritaskan ketika pemerintah memberikan relaksasi RKAB.

Logikanya, pemerintah tidak semata mengejar sebanyak mungkin volume batu bara. Produksi diharapkan juga menghasilkan penerimaan negara yang optimal sekaligus menjaga harga komoditas.

Secara kebijakan, pendekatan tersebut masuk akal. Menambah produksi dari perusahaan yang memiliki kontribusi fiskal lebih besar dapat memberikan tambahan PNBP lebih tinggi dibandingkan sekadar mengejar tonase tanpa memperhatikan nilai ekonominya.

Bagi emiten, implikasinya cukup besar.

Sepanjang semester I/2026, keterlambatan dan perubahan RKAB disebut menjadi salah satu penyebab kinerja produksi sejumlah perusahaan tidak seragam. Perusahaan yang memperoleh persetujuan lebih cepat mempunyai kesempatan menambang dan menjual volume lebih besar.

Jika besarnya kontribusi royalti menjadi salah satu pertimbangan relaksasi, perusahaan di kelompok atas—BUMI, BYAN, INDY, dan ITMG—memiliki rekam jejak setoran yang secara nominal sangat besar.

Namun investor tidak sebaiknya langsung menyimpulkan bahwa keempatnya pasti memperoleh tambahan produksi. Pernyataan pemerintah menunjukkan arah prioritas, bukan keputusan kuota spesifik untuk setiap emiten.

Emiten Royalti H1 2026 Porsi dari Total 9 Emiten*
BUMI US$140,83 Jt ~23,1%
BYAN US$136,52 Jt ~22,4%
INDY US$136,51 Jt ~22,4%
ITMG US$110,94 Jt ~18,2%
Lima emiten lainnya US$83,85 Jt ~13,8%

*Perhitungan Receh.in terhadap total US$608,65 juta.

BUMI sendiri menyumbang sekitar 23,1% dari seluruh royalti sembilan emiten. BYAN dan INDY masing-masing sekitar 22,4%, sedangkan ITMG sekitar 18,2%.

Empat perusahaan itu saja sudah mendominasi penerimaan dari sampel tersebut.

Tetapi jika revisi RKAB benar-benar menaikkan volume, ada paradoks yang perlu diperhatikan investor.

Tambahan kuota memang dapat meningkatkan volume penjualan dan laba. Namun produksi yang terlalu agresif secara nasional juga berpotensi menambah pasokan dan menekan harga batu bara apabila permintaan tidak meningkat sebanding.

Karena itu, pemerintah beberapa kali menekankan relaksasi akan dilakukan secara terukur.

Pada Juni 2026, Bahlil juga memberi sinyal kuota dapat ditingkatkan ketika harga batu bara mendukung. Dengan kata lain, kebijakan produksi sekarang semakin berkaitan dengan keseimbangan antara volume, harga, dan penerimaan negara.

Yang perlu diperhatikan investor:
Tambahan RKAB merupakan katalis positif bagi emiten yang sebelumnya terhambat volume. Tetapi jika terlalu banyak produsen mendapatkan kenaikan kuota secara bersamaan, kenaikan pasokan Indonesia dapat menjadi faktor penekan harga. Jadi, katalis terbesar bukan sekadar “kuota naik”, melainkan apakah tambahan tonase dapat dijual dengan ASP dan margin yang tetap menarik.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, seperti dikutip dari media, melihat revisi RKAB sebagai faktor yang dapat mengubah peta persaingan pada semester kedua. Emiten yang produksinya tertahan di paruh pertama mempunyai peluang mengejar volume ketika izin tambahan tersedia.

Analis Panin Sekuritas Elandry Pratama, seperti dikutip dari media, juga melihat revisi tersebut lebih sebagai potensi kenaikan kuota ketimbang pemangkasan. Apabila persetujuan selesai, normalisasi produksi dapat membantu kinerja semester kedua.

Namun hasilnya tidak akan seragam karena setiap perusahaan memasuki paruh kedua dengan posisi biaya, kalori batu bara, ASP, dan kapasitas produksi yang berbeda.

Royalti Tinggi Belum Tentu Saham Terbaik, Ini yang Perlu Dilihat Investor

Daftar pembayar royalti memberi perspektif baru terhadap sektor batu bara, tetapi tidak cukup untuk membuat keputusan investasi.

BUMI menjadi pembayar terbesar, tetapi investor tetap perlu menilai apakah peningkatan volume dan efisiensi mampu mempertahankan pertumbuhan laba. BYAN membayar royalti terbesar kedua, tetapi kinerja perusahaan juga perlu dibaca terhadap harga jual dan realisasi produksi.

ITMG berada di posisi keempat dalam royalti, sementara perusahaan dikenal memiliki struktur neraca dan kebijakan distribusi kas yang berbeda dengan perusahaan lain. CUAN menunjukkan pertumbuhan setoran 19,7%, tetapi skala royalti masih jauh di bawah empat pemain utama.

ARII bahkan mencatat pertumbuhan royalti tertinggi 49%, tetapi angka tersebut berasal dari basis nominal yang jauh lebih kecil daripada BUMI atau BYAN.

Dengan demikian, persentase pertumbuhan royalti juga harus dibaca bersama nominalnya.

Indikator Apa yang Diceritakan? Apa yang Belum Diceritakan?
Royalti Skala nilai produksi/penjualan dan kontribusi PNBP Tidak langsung menunjukkan laba bersih
Volume produksi Kapasitas dan realisasi operasional Tidak menunjukkan margin
ASP Harga rata-rata yang diterima perusahaan Tidak menunjukkan biaya produksi
Cash cost Efisiensi produksi Belum mencakup seluruh beban perusahaan
Arus kas bebas Kas yang tersisa setelah kebutuhan bisnis Tetap perlu dibaca bersama utang dan capex

Ada pula persoalan harga komoditas.

Harga Newcastle yang tinggi memberi bantalan untuk produsen batu bara berkalori tinggi, tetapi bukan berarti seluruh emiten Indonesia menerima ASP yang sama. Indonesia merupakan produsen berbagai jenis batu bara, dari kalori rendah sampai tinggi.

Dengan sistem royalti yang turut mempertimbangkan harga dan kualitas, kenaikan harga dapat menaikkan penerimaan negara sekaligus keuntungan perusahaan. Namun bagian kenaikan harga yang sampai ke laba bersih tidak akan sama dengan kenaikan benchmark.

Investor yang ingin mencari saham batu bara untuk semester II/2026 karena isu RKAB sebaiknya memeriksa setidaknya enam angka: realisasi produksi versus target, volume penjualan, ASP, cash cost, royalti per ton, dan arus kas operasi.

Emiten yang memperoleh tambahan kuota tetapi memiliki biaya tinggi belum tentu menjadi pemenang. Demikian pula produsen yang royalti nominalnya kecil belum tentu buruk apabila bisnisnya menghasilkan margin tinggi dan arus kas kuat pada volume yang lebih rendah.

Dari sisi preferensi analis, Elandry Pratama dalam bahan menempatkan ITMG, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) sebagai beberapa saham utama yang layak dicermati, sementara BUMI, CUAN, BSSR, ADRO, dan MCOL juga dinilai memiliki katalis pemulihan operasional.

Muhammad Wafi, seperti dikutip dari media, melihat PTBA, AADI, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) menarik dengan karakter masing-masing: PTBA memiliki eksposur domestik dan dividen, AADI ditopang efisiensi serta batu bara premium, sedangkan ADRO membawa narasi diversifikasi di luar batu bara.

Daftar tersebut juga memperlihatkan mengapa tabel pembayar royalti dan daftar saham pilihan analis tidak identik. Royalti mengukur kontribusi terhadap negara; investasi saham mencari kombinasi laba, arus kas, pertumbuhan, risiko, dan valuasi.

Bottom Line:
Sembilan emiten batu bara dalam daftar membayar royalti US$608,65 juta atau secara ilustratif sekitar Rp10,89 triliun pada semester I/2026. BUMI menjadi pembayar terbesar US$140,83 juta, hanya tipis di atas BYAN dan INDY, sementara ITMG melengkapi empat besar yang secara bersama-sama menyumbang 86,2% total royalti. Angka ini menjadi semakin relevan karena pemerintah memberi sinyal akan memprioritaskan perusahaan pembayar royalti besar dalam relaksasi RKAB. Namun bagi investor, jangan berhenti di peringkat royalti. Setoran besar dapat mencerminkan volume dan harga jual tinggi, tetapi profitabilitas akhirnya ditentukan cash cost, kualitas batu bara, tarif PNBP, logistik, dan ASP. Revisi RKAB dapat menjadi katalis bagi volume semester II/2026, tetapi keuntungan terbesar akan dinikmati perusahaan yang mampu mengubah tambahan produksi menjadi arus kas tanpa mengorbankan margin.

Pertanyaan Sering Diajukan (FAQ)

Emiten batu bara mana yang membayar royalti terbesar pada semester I/2026?
BUMI menjadi yang terbesar dalam daftar dengan pembayaran US$140,83 juta, diikuti BYAN US$136,52 juta, INDY US$136,51 juta, dan ITMG US$110,94 juta.
Berapa total royalti sembilan emiten batu bara?
Totalnya US$608,65 juta pada semester I/2026, naik sekitar 1,69% dibandingkan US$598,51 juta pada semester I/2025. Dengan kurs Rp17.899 per dolar AS, skalanya setara sekitar Rp10,89 triliun.
Emiten mana yang pertumbuhan royaltinya paling tinggi?
ARII mencatat pertumbuhan tertinggi dalam daftar, yakni sekitar 49,02% menjadi US$20,93 juta.
Bagaimana royalti batu bara dihitung?
Secara prinsip, PNBP royalti dihitung dari volume penjualan dikalikan harga dasar dan tarif yang berlaku. Tarif dapat berbeda menurut kualitas batu bara, HBA, jenis tambang, serta rezim izin atau kontrak perusahaan.
Apakah royalti tinggi membuat perusahaan mendapat tambahan RKAB?
Menteri ESDM menyatakan perusahaan dengan pembayaran royalti besar akan diprioritaskan dalam relaksasi RKAB. Namun pernyataan tersebut bukan jaminan bahwa emiten tertentu otomatis memperoleh tambahan kuota karena keputusan akhirnya tetap ditetapkan pemerintah.
Apakah emiten dengan royalti terbesar otomatis saham batu bara terbaik?
Tidak. Royalti menunjukkan skala kontribusi PNBP, sedangkan daya tarik saham juga bergantung pada laba, cash cost, ASP, volume, arus kas, utang, dividen, dan valuasi.
Sumber: Data pembayaran royalti emiten semester I/2026 yang dihimpun DataIndonesia; PP No. 19 Tahun 2025; Permen ESDM No. 9 Tahun 2025; Kementerian ESDM; publikasi kinerja PT Bumi Resources Tbk.; serta pandangan Muhammad Wafi dan Elandry Pratama sebagaimana dikutip dari media.

Perhitungan Receh.in: Total US$608,65 juta setara sekitar Rp10,89 triliun menggunakan kurs Rp17.899/US$. Empat emiten terbesar menyetor US$524,80 juta atau sekitar 86,22% dari total. Royalti BUMI secara nominal sekitar 2,39 kali laba attributable H1/2026, tetapi perbandingan tersebut bukan rasio tarif royalti karena basis kedua pos berbeda.

Catatan: Tarif royalti aktual masing-masing perusahaan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan tabel PP No. 19 Tahun 2025 karena status izin, kontrak, kualitas komoditas, dan rezim PNBP dapat berbeda. Konversi rupiah dalam artikel hanya digunakan untuk menunjukkan skala.

Disclaimer: Artikel ini untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual saham batu bara. Perubahan RKAB, harga batu bara, volume produksi, tarif royalti, biaya dan kebijakan pemerintah dapat mengubah prospek masing-masing emiten.