recehin--Parade kampanye Pilpres 2019, juga pemilihan legislatif, sedang memasuki tahap 'seru-serunya', sebetulnya. Bulan-bulan ini seharusnya kita disajikan menu materi janji kampanye untuk periode 5 tahun berikutnya.

Sayang, apa yang terjadi jauh panggang dari api. Apakah ekspektasi kita yang terlalu tinggi, ataukah memang begini seharusnya? Kampanye bukannya membangun konstruksi perencanaan Indonesia 2019-2014, malah digunakan sebagai ajang olok-olok. 

Bagaimana tidak, para politisi dan pendukungan masing-masing saling serang pada persoalan yang tidak substansial, seperti menanggapi pilihan kata yang sebenarnya tidak penting-penting amat. Mau tampang Boyolali (saya orang Boyolali-red) hingga sontoloyo sama-sama tidak substansial jika yang dibahas adalah pilihan katanya, bukan substansinya. 

Sebetulnya dua pasang calon presiden dan wakilnya sudah mencoba membangun konstruksi janji, tapi kemudian tidak direspons dengan sesuatu yang produktif. Apa yang terjadi kemudian hanyalah saling serang pada persoalan yang tidak penting untuk rakyat. Ya, apa pentingnya bagi kita untuk berdebat kenapa pakai kata 'sontoloyo' atau 'tampang Boyolali.' Sebagai orang Boyolali pun saya merasa amat tidak penting berkonflik gara-gara orang menyebut tampang Boyolali. 

Pertanyaan selanjutnya, apakah memang mereka tak punya program nyata untuk Indonesia 5 tahun selanjutnya? Kok, yang berdengung hanya pertikaian elite politik dan tim hore saja? Kenapa para jurkam tidak menarasikan dengan lebih keras program-program apa yang akan dibuat?

Indikasi belum adanya program yang pasti itu terlihat dengan tidak sinkronnya janji satu anggota tim dengan anggota yang lain. Perbedaan itu menandakan tidak ada konsolidasi internal, atau memang programnya belum terbentuk. Seharusnya, berburu aspirasi rakyat dilakukan tahun-tahun sebelumnya, dan sekarang saatnya memformulasikan rumus apa yang akan dipakai untuk menyelesaikan masalah. 

Dalam hal ini memang kita mengarahkan mata ke Prabowo-Sandi. Kenapa? Karena Jokowi-Ma'ruf terlalu diuntungkan dengan posisi sebagai inkumban, sesuatu yang wajar saja, sehingga program-programnya ya meneruskan apa yang sudah dilakukan. Sementara itu, seharusnya Prabowo-Sandi yang kerja lebih keras dalam mengkampanyekan janji-janji politiknya. Jangan sampai, timnya ribut mempersoalkan hal-hal yang tidak substansial yang ditanggapi pula oleh kubu Jokowi-Ma'ruf. 

Dalam website resmi Prabowo-Sandi.Com seharunya bisa menyampaikan hal-hal yang lebih konkret daripada sekadar visi dan misi yang masih abstrak. Menerjemahkan visi misi itu adalah kerja tim koalisi, jangan hanya dipegang oleh satu partai atau malah oleh Prabowo-Sandi sendiri. 

Saya kira kubu ini seharusnya lebih sering berkonsolidasi secara internal koalisi untuk menentukan janj-janji seperti apa yang akan dipakai untuk merayu rakyat. Gunakan jargon-jargon yang lebih segar, bukan sekadar menyerang. Ingat, tiap serangan ada konsekuensinya berupa serangan balik. Iya jika serangan Prabowo-Sandi bermutu dan kuat, lha kalau serangannya nggak mutu dan malah jadi senjata makan tuan, bukankah itu malah jadi keuntungan lawan? 

Kami menulis ini karena pesan-pesan sindiran tak akan mempan. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama