Membuat bisnis dan mempelajari bisnis adalah dua hal yang sangat berbeda. Faktanya, anak-anak lulusan sekolah bisnis tidak banyak yang benar-benar terjun menjadi seorang pebisnis.

Ini bukan soal keberanian mengambil risiko. Justru, banyak keberhasilan dalam dunia bisnis dilakukan oleh mereka yang "tidak mau terlalu mengambil risiko."




Jika berbisnis hanya soal keberanian mengambil risiko, tentunya sudah banyak orang kaya di Indonesia daripada orang di Eropa? Kenapa. Ya karena orang Indonesia terkenal nekat. Lihat bagaimana kelakuan masyarakat setelah kejadian bom di Jl. Thamrin... mereka malah berkumpul di lokasi. Mereka mendatangi risiko.

Justru, sebagian pebisnis telihat menghindari risiko dan sangat berhati-hati. Begitulah mereka menaikkan probabilitasnya untuk menuai kesuksesan. Bukannya mengorbankan modal yang dimiliki untuk mengambil risiko, mereka mengamankan modal itu dari risiko.

"High risk, high return" hanya sebuah adagium hampa, yang mungkin bermakna untuk mereka yang bekerja di sektor finansial. Dalam dunia bisnis, yang saya pelajari tidak lewat praktik, mereka akan semangat untuk mencari sesuatu yang low risk, high return, dan tampaknya itu berhasil untuk sebagian.

Sesungguhnya, tinggi rendahnya risiko bukan terletak pada risiko itu sendiri. Tapi pada manusianya. Ya, bahkan sama seperti main saham, bagi mereka yang memahaminya, risikonya rendah, dan bisa dibatasi. Bagi yang tidak tahu, risikonya tinggi, bahkan walaupun mereka sudah membatasinya. Orangnya yang berisiko, bukan bisnisnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama