Recehers,

Kali ini ada cerita soal dokter Tirta yang jadi relawan penanganan Covid-19. Walau dokter, beliau ini lebih dikenal sebagai pengusaha cuci sepatu karena memang sudah mundur dari praktik dokter, tentu dengan alasannya sendiri. 

Penulis Recehin pernah sekali bertemu dokter Tirta di Yogya saat berbagi pengalaman bisnis dan mengelola usaha. Walau kelihatan kurus, dokter Tirta orangnya semangat dan ceplas-ceplos. 




Berikut adalah kultwit dari dokter Tirta (@tirta_hudhi yang penting banget di-share agar kita bisa meniru semangatnya demi kemanusiaan.

Gue lagi rehat sejenak. Maleman kliling lagi. Kenapa gue mati2 an? Gue akan crita dikit alesan gue skrng mati2 an mencegah penyebaran infeksi covid

Usia 8 tahun gue terinfeksi TBC. Penyakit tbc adalah endemik d indo. Kematian dan jumlah kasus di Indo sangat tinggi. Penyebaran airbone disease. Gue. 8 tahun tertular TBC temen gue yg batuk di depan gue

Gue harus ikut program 6 bulan, trnyata gagal, ditambah ekstra 4 bulan. Baru sembuh. Total 10 bulan. Penyembuhan. Dan gue diprediksi abis itu divonis jadi orng yg “sakit2 an”

Paru2 gue gambarannya selalu “flek” sembuh stelah program. Stelah pentembuhan tb, gue kena berbagai macam penyakit pernafasan. Faringitis. Laringitis. Tonsilitis. Bronkitis. Dan sinusitis. Ini sampai sma

Tapi itu ga menghalangi prestasi akademik. Gue di sekolah menyabet siswa teladan , di sd, smp, dan sma gue mewakili solo untuk olimpiade matematika. Ketika graduasi, gue penampilan band, tapi gue opnam karena kecapekan. Kena dbd + sinusitis

Gue memutuskan masuk dokter, selain karena standar tertinggi, gue pengen buktiin, dari sma swasta gue bisa tembus ugm. Gue tembus fakultas kedokteran ugm.

Selain fk ugm, gue ketrima juga jalur prestasi di fk undip. Gue lepas. Karena gue penasaran dengan jogja.

Di jogja gue berkembang. Gue jadi pengusaha, nemuin 
@shoesandcare, muallaf, dan lulus cumlaude

Karena skripsi gue kelar di semester 6, dan bagus, prof iwan dan dr jarir ingin memberi beasiswa gue as peneliti ke belanda. Disinilah peran prof iwan bagi gue

Gue menolak beasiswa , karena gue udah ada 
@shoesandcare dan gue pengen bergerak di IGD

Stelah 1.5 tahun koas, gue lulus, gue bekerja di rs ugm dan puskesmas turi. Jadi dokter igd + dokter jaga. Dan nyambi @shoesandcare. Selama ini, gue sakit sebulan sekali. Db 1x tipus 1x , dan akhirnya 2018 gue kena bronkitis kronis

Gue memutuskan memilih rehat menjadi dokter igd, dan berjuang demi @shoesandcare untuk anak buah gue yg separonya anak jalanan. So. Mulailah gue berjuang as dokter edukasi + pengusaha

Sedih memang. Tapi kalo gue memaksa praktek + pengusaha, gue akan mati muda haha. Disinilah ketika gue ngajar di fk ugm jadi dosen tamu, gue bertemu lagi dengan prof iwan

Prof iwan bilang “jadi dokter ga selalu berjuang di belakang jas praktek, bisa di kursi laen, di situ ide kamu akan berguna, ga hanya buat pasien, tapi buat temenmu, tenaga medis, tirta, berjuanglah dengan caramu sendiri”

Lanjut , prof iwan nasehatin “tabunglah uang dr usahamu, berjuang, naekkan derajat tenaga medis, amankan pasien, buat rs ! Siapa tau kamu bisa !”

Gue angguk. Dan gue janji ketika rs gue jadi, gue mau pamer ke beliau

Singkat crita 1-2 mnggu lalu gue dapet kabar profiwan kena infeksi corona. Disitulah gue mati2 an, gue ga mau liat temen gue , tenaga medis, down, gue berjuang. Beli masker sendiri, cari apd sendiri, dan akhirnya gue di undang bnpb

Gue akhirnya mengkoordinasi semua sumbangan influencer, membuat program untuk membantu mengurangi rate infeksi covid 19 di jkt dannindonesia

Gue ga dikasi biaya, gue pake duit gue sendiri, dan tiba2 
@kitabisacom akhirnya memutuskan bantu gue.

Program gue dan relawan dibantu fatur ex presma ugm ada :
1. Memasang 1000 disinfection chamber di jkt
2. MembaGI APD bagi temen temen medis di faskes
3. Memberikan nutrisi bagi tenaga medis
4. Edukasi Phbs (hidup bersih sehat) ke rakyat
5. Memastikan Amannya SOCIAL DISTANCING

Gue bergerak, 14-15 jam sehari. Kadang 20 jam. Capek . Tapi gue semangat. Ini sumpah gue.
Dan tiba2 gue denger kabar

Kalo prof iwan meninggal.
Gue saat itu lagi wawancara bareng @GENFM_jkt. Gue nangis ketika wawancara. Gue down.
Mood gue brantakan saat itu. Karena beliaulah, yg membuat gue seperti ini

Akhirnya gue memutuskan , meneruskan legacy beliau. Gue akan bantu sebisa gue. 100/200/300 rs. Mau gue sampe sakitpun , gue ga peduli.
Negara ini butuh bantuan

Jika angka infeksi ga bisa ditekan, indonesia bisa krisis corona sampe juni. Dan ini bahaya. Satu2 nya cara, ya menekan angka infeksi. Disinilah peran relawan

Covid 19 80% ringan dan 20% fatal. But, sangat mudah menyebar. Dan jujur karena sakit cepatnya, jumlah pasien ga seimbang ama rs nya

Selama angka infeksi tinggi, gue ga akan brenti berjuang. Makasih @kitabisacom dan @dompetdhuafaorg, sampe titik darah penghabisan. Gue akan lawan ini virus.

Ini sumpah dokter. Pekara uang gue dah settle. Toko gue dah puluhan. Bisnis gue banyak. Jika gue kenapa2, tugas gue di dunia pun dah slesai sejatinya

Ini pekara sumpah yg gue ambil. Dokter. Gue akan jaga kawan2 gue di garda igd. Meski nyawa gue taruhannya. Followers , harta, popularitas, itu sementara. So, itulah alesan gue ngegas. Sampe salah ngmng di ILC kmren


Kamu bisa menemukan banyak cerita lainnya dengan mengikuti media sosialnya, Instagram maupun Twitter. 

Semoga bermanfaat.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama