Jika Anda saat ini sibuk memeriksa berita terkait dengan pandemi Covid-19, maka cobalah tengok sebentar isu geopolitik di Asia yang tengah memanas. Ini bukan di Iran atau semenanjung Arab yang memang sudah biasa dengan perang, tapi di dekat kita Indonesia, yaitu di sekitar Laut China Selatan.

Ya, di wilayah yang jadi sengketa antara Vietnam, Filipina, Malaysia, dan tentu saja dedengkot China. Di Indonesia kabar ini mungkin tidak ramai, bahkan di dunia, karena memang sedang dilanda pandemi dan banyak persoalan ikutan lainnya. Apalagi, Indonesia mungkin tidak secara langsung berkonfrontasi dengan China, negara sahabat yang makin bersahabat dengan pejabat pemerintah Indonesia.

Namun, ingatkah Anda bahwa berulang kali China melindungi kapal-kapal pencuri ikan yang masuk wilayah Indonesia? Mau tidak mau Indonesia pasti akan terlibat mengingat arogansi China sebagai negara adidaya. Ya, walau mungkin akan diredam oleh pejabat-pejabat pemerintah yang memang cenderung pro-China dibandingkan AS.

AS? Ya, karena dalam konflik kali ini AS terus berupaya hadir di sana demi sekutu-sekutunya. Amerika Serikat (AS) disebut-sebut telah meningkatkan operasi militernya di perairan Laut China Selatan. Disebut Laut China Selatan bukan berarti teritori tersebut milik China, karena ada zona internasional di sana.

Kabarnya, pesawat-pesawat AS telah melakukan 39 penerbangan di atas Laut China Selatan, Laut China Timur, Laut Kuning, dan Selat Taiwan. Jumlah penerbangan ini lebih dari tiga kali lipat jumlah yang dilakukannya pada periode yang sama pada 2019. Dua dari penerbangan bahkan dilakukan dekat ke Hong Kong, daerah khusus milik China.

Mengutip CNBC Indonesia, di Laut China Selatan, Angkatan Laut AS telah melakukan empat operasi navigasi bebas dalam empat bulan pertama tahun ini. Intensitas operasi juga lebih tinggi dibandingkan yang hanya delapan kali sepanjang 2019.

Ketegangan di perairan ini diprediksi bakal terus meningkat karena AS sendiri tengah meningkatkan tensi perang urat-syaraf dengan Negeri Tirai Bambu itu. Baik soal perang dagang, maupun tuduhan China sengaja menyebar virus Covid-19 demi menggulingkan Trump. Ya, soal kebenarannya biarlah mereka yang ributkan. 

Bagi Indonesia, konflik itu bakal banyak berpengaruh. Mau tidak mau, teritori Indonesia, terutama di Natuna, pasti akan bersingungan. Daerah kaya minyak itu tentu akan jadi tempat yang tidak diprediksi jika konflik pecah dan dampaknya Indonesia tak bisa melakukan upaya-upaya untuk mengeruk minyak di s ana-jika ada.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama