Ticker

6/recent/ticker-posts

Nasib Harga Saham BBYB Setelah Rights Issue


Rencana PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) untuk menambah modal lewat suntikan dana dari pemegang saham bakal terealisasi sebentar lagi.

Ini karena pada pemegang saham Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pekan lalu menyetujui rencana penerbitan saham baru dan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Bank yang dahulu bernama Bank Yudha Bhakti itu sudah menyiapkan penawaran umum terbatas (PUT) dalam rangka rights issue.

Dalam PUT V ini bank akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 5 miliar lembar saham dengan nilai nominal Rp100 per lembar saham.

Nah, PUT V akan diikuti PUT VI dengan melepas sebanyak-banyaknya 5 miliar saham dan nilai nominal Rp100 per lembar saham.

Padahal, harga saham per 28 Mei 2021 di bursa saham sudah di level Rp454 per saham. Artinya, harga saham baru ini jauh di bawah harga pasar saat ini.

Nah, apakah keputusan soal harga rights issue ini akan mempengaruhi harga pasar saat ini? Kita akan melihatnya dalam beberapa hari ke depan bagaimana penilaian investor.

Namun, karena skemanya rights issue, tentunya ini justru membuat senang investor eksisting. Ini karena yang berhak membeli saham baru adalah pemegang saham saat ini. 

Pertanyaanya, bagaimana nasib harga sahamnya setelah rights issue?

Penggunaan Dana

Menurut keterangan manajemen, dana hasil rights issue tersebut akan digunakan untuk belanja modal dan meningkatkan modal inti perseroan.

Manajemen juga mengangkat Pramoda Dei Sudarmo sebagai Komisaris Independen dan Hartono Budihardjo sebagai Direktur Operasi.

Pengangkatan akan berlaku efektif setelah mendapat persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan atas penilaian kemampuan dan kepatutan (fit and proper test) dan memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kinerja keuangan BNC hingga 31 April 2021 mencatatkan total aset senilai Rp5,91 triliun, dana pihak ketiga Rp4,35 triliun, total penyaluran kredit Rp3,76 triliun, dan total ekuitas Rp1,07 triliun.

Pemegang saham BBYB sampai per 27 Mei 2021 adalah PT Akulaku Silvrr Indonesia dengan kepemilikan sebesar 24,98%, PT Gozco Capital 20,13%, PT Asabri (Persero) 16,3%, Yellow Brick Enterprise Ltd. 11,1% dan sisanya pemegang saham publik 27,49%.

Saham Akulaku dimiliki sebagian oleh Alibaba dan perusahaan fintech online ini disokong oleh beberapa perusahaan e-commerce ternama diantaranya, PT Pintar Inovasi Digital, PT Akulaku Silvrr Indonesia dan PT Akugrosir Indonesia, serta bisnis pembiayaan atau multifinance lewat PT Akulaku Finance Indonesia.

Posting Komentar

0 Komentar