Ticker

6/recent/ticker-posts

Perkembangan Pasar Surat Utang Korporasi Di Indonesia Semester I-2021



Receh.in - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menyebutkan bahwa penerbitan surat utang korporasi (baik listed dan non-listed) hingga semester I/2021, lebih tinggi dibanding periode yang sama pada 2020.

Hingga semester I-2021, penerbitan obligasi korporasi listed mencapai Rp42,41 triliun, sementara periode yang sama pada 2020 mencapai Rp29,28 triliun.

Penerbitan obligasi korporasi non-listed hingga semester I/2021 mencapai Rp0,95 triliun, sedangkan penerbitan untuk periode yang sama di 2020 mencapai Rp0,75 triliun.

Penerbitan sekuritisasi hingga semester I-2021 menurun menjadi Rp0,6 triliun (dari Rp1,1 triliun di periode yang sama pada 2020).

Sementara, jumlah penerbit obligasi korporasi meningkat menjadi 28 perusahaan hingga semester I-2021 (dari 27 perusahaan di periode yang sama di 2020). 

Sektor perbankan dan multifinance masih mendominasi jumlah emiten outstanding


Berdasarkan nilai, penerbitan surat utang korporasi hingga semester I-2021 didominasi oleh Multifinance dan Lembaga Pembiayaan Khusus.

Penerbitan Surat Utang Korporasi Berdasarkan Sektor

Porsi Penerbitan Surat Utang Korporasi Berdasarkan Tenor

Tenor jangka pendek-menengah masih mendominasi penerbitan surat utang korporasi, yaitu tenor 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun.

Hingga Semester I-2021, tenor 1 tahun, 3 tahun, dan 5 tahun hampir mencakup 91% dari total nilai penerbitan surat utang korporasi.


Porsi Penerbitan Surat Utang Korporasi Berdasarkan Peringkat

Porsi penerbitan masih didominasi oleh peringkat A (single-A) dan AAA (triple-A). 

Dengan porsi masing-masingnya secara berturut-turut di angka 40,0% dan 35,0% dari total nilai penerbitan surat utang korporasi 2021.



Nilai penerbitan BUMN Group meningkat menjadi Rp20,3 triliun hingga semester I-2021 dari Rp14,6 triliun periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara rata-rata, kupon surat utang korporasi hingga semester I-2021 lebih rendah dibanding rata-rata kupon selama tahun 2020. Hal ini seiring dengan tren suku bunga yang lebih rendah dan penurunan yield obligasi pemerintah.

 

Porsi Investasi ke Obligasi Korporasi Terhadap Total Investasi Di Sejumlah Institusi

Persentase Kepemilikan Asing di Pasar Saham dan Obligasi

Porsi investor asing di obligasi korporasi masih jauh lebih rendah bila dibandingkan di saham dan obligasi negara, yakni hanya sekitar 5,8%.

Karenanya perlu pendalaman dan pengembangan pasar lebih lanjut sehingga transaksi di pasar obligasi korporasi menjadi lebih aktif, terutama dari sisi likuiditas.


Yield obligasi korporasi berperingkat AAA di awal 2021 cenderung turun untuk tenor jangka pendek, sedangkan tenor 10 tahun mengalami kenaikan seiring dengan kenaikan yield obligasi pemerintah.

Secara rata-rata, spread yield obligasi korporasi berperingkat AAA cenderung lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Transaksi obligasi korporasi di pasar sekunder cenderung turun di tahun 2021. 

Selama Januari-Mei 2021, rata-rata nilai transaksi harian di pasar obligasi korporasi adalah sebesar Rp1,51 triliun dengan rata-rata frekuensi harian sebanyak 138 kali. 


Tingkat gagal bayar

Tingkat gagal bayar tertinggi sampai dengan tahun 2012 adalah sektor Non-FI (3,74%). 

Tingkat gagal bayar Non-FI sampai dengan tahun 2020 dan sampai dengan Juni 2021 masing-masing adalah sebesar 2,20% dan 2,52%. 

Tingkat gagal bayar FI pertama kali di tahun 2017 (0,09%) dan terus meningkat di tahun 2018 (0,13%). Di tahun 2020 dan sampai dengan Juni 2021 menurun menjadi 0,10%





Hingga semester I-2021, jumlah penerbitan surat utang korporasi nasional mencapai Rp43,37 triliun meningkat dibandingkan periode yang sama di 2020 mencapai Rp30,03 triliun.

 

Mandat penerbitan obligasi yang belum terealisasi

Sampai dengan 30 Juni 2021 mandat yang telah diterima PEFINDO namun belum terealisasi mencapai Rp75,58 triliun.

Jumlah tersebut didominasi oleh: 

❑ Perusahaan Induk (18,19%); 

❑ Konstruksi (12,83%); 

❑ dan Multifinance (12,31%).



Posting Komentar

0 Komentar