Receh.in – Saham empat bank terbesar Indonesia — PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) — masih bergerak lesu sepanjang 2025. Padahal, dari sisi fundamental, kinerja keempatnya tetap solid dengan laba jumbo dan kualitas aset yang terjaga.
Analis OCBC Sekuritas, Farell Nathanael, menilai arah pergerakan saham big banks sangat bergantung pada minat investor asing. Sepanjang tahun ini, investor global tampak menahan diri masuk ke saham perbankan Indonesia, meski valuasi dan fundamentalnya tergolong menarik.
Menurut analisisnya, terdapat dua faktor utama yang menjadi penentu kapan dana asing akan kembali mengalir ke saham BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.
Dua Faktor Kunci: Makroekonomi dan Kualitas Kredit
Faktor pertama adalah kondisi makroekonomi Indonesia. Pemerintah di bawah Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa, kini menempuh arah kebijakan pro-growth dengan mendorong stimulus ekonomi yang lebih ekspansif. Pendekatan ini berbeda dari kebijakan fiskal sebelumnya yang lebih konservatif menjaga defisit dan keseimbangan anggaran.
Jika strategi stimulus berhasil mempercepat pertumbuhan ekonomi, hal ini bisa memperbaiki kepercayaan investor asing terhadap prospek pasar saham Indonesia, termasuk sektor perbankan. Namun, risiko inflasi dan pelebaran defisit tetap menjadi faktor penentu kehati-hatian investor global.
Faktor kedua yang dicermati asing adalah kondisi sektor perbankan itu sendiri, khususnya dalam hal penyaluran kredit dan kualitas aset. Sepanjang 2025, big banks menghadapi tantangan berupa perlambatan lending akibat tingginya suku bunga dan ketatnya likuiditas. Kondisi ini membuat cost of fund meningkat, menekan margin bunga, dan berpotensi membatasi ekspansi kredit baru.
Selain itu, risiko kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) juga menjadi perhatian. Peningkatan NPL memaksa bank menambah pencadangan (provisi), yang pada akhirnya menekan laba bersih. Situasi ini membuat investor asing cenderung menunggu momentum yang lebih stabil sebelum kembali masuk secara agresif ke saham perbankan besar.
Kinerja Masih Kuat, Valuasi Jadi Penentu
Meski tekanan makro dan likuiditas menghantui, fundamental keempat bank besar tetap kokoh. Hingga kuartal III/2025:
- BBCA menyalurkan kredit Rp944,1 triliun, tumbuh 7,6% YoY dengan NPL hanya 2,1%, dan Loan at Risk (LAR) turun menjadi 5,5%.
- BBRI mencatat penyaluran kredit Rp1.438,1 triliun, tumbuh 8,24% YoY, dengan NPL gross 3,29% dan NPL net 1,04%.
- BMRI menyalurkan kredit Rp1.764,3 triliun, tumbuh 11% YoY, sementara NPL gross tetap rendah di 1,03% dan coverage ratio mencapai 271%.
- BBNI mencatat kredit Rp812,2 triliun, tumbuh 10,5% YoY, dengan NPL gross 2,0% dan coverage ratio di level 222,7%.
Dengan laba bersih yang masih besar dan kualitas aset terjaga, saham big banks kini berada di wilayah valuasi menarik. Menurut OCBC Sekuritas, investor asing akan kembali masuk ketika valuasi saham-saham tersebut cukup murah dan prospek pemulihan daya beli domestik terlihat jelas.
Jika kebijakan fiskal pro-growth mampu mengerek konsumsi masyarakat dan memperbaiki iklim kredit, arus dana asing berpotensi kembali mengalir ke saham perbankan besar Indonesia pada paruh kedua 2026. Hingga saat itu, BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI masih menjadi kandidat kuat dalam radar investor jangka panjang yang mencari saham bernilai fundamental tinggi.

0 Komentar