Receh.in — Emiten pakan ternak dan produk unggas terbesar di Indonesia, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), mencatatkan laba bersih Rp3,4 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2025, tumbuh 41% year-on-year (yoy).
Menurut laporan IPS Research yang disusun oleh Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan, kinerja tersebut melampaui ekspektasi analis dan konsensus, masing-masing mencapai 90% dan 84% dari target setahun penuh, jauh di atas rata-rata historis lima tahun sebesar 69%.
Lonjakan Laba Kuartal III: Efek Pemulihan Harga Broiler
Pada kuartal III-2025, CPIN mencatat lonjakan laba bersih hingga 303% secara kuartalan dan 137% yoy menjadi Rp1,5 triliun, didorong oleh pemulihan tajam harga broiler (+22,1% qoq) yang mendongkrak kinerja seluruh lini bisnis unggas.
Secara rinci:
- Segmen pakan ternak (feed) membukukan EBIT Rp914 miliar (+5,2% qoq) dengan margin stabil 7,3%, ditopang oleh penurunan harga soybean meal (SBM) -5,5% qoq yang mengimbangi kenaikan harga jagung +11,9% qoq.
- Segmen DOC (day old chick) berbalik untung dengan EBIT Rp173 miliar, setelah pada kuartal sebelumnya mencatat kerugian Rp197 miliar, berkat kenaikan harga DOC +46,2% qoq.
- Segmen broiler mencetak EBIT Rp987 miliar, membalikkan kerugian Rp130 miliar di 2Q25, seiring lonjakan harga ayam hidup di pasar domestik.
Kinerja segmen yang kuat ini menghasilkan EBIT konsolidasi Rp2,3 triliun (+373% qoq) dengan margin 7,8% (+579bps qoq). Namun, adanya beban pajak tangguhan sebesar Rp327 miliar dari anak usaha membuat effective tax rate 3Q25 mencapai 34%.
Laba dan Margin Menguat Secara Konsisten
Secara kumulatif, penjualan bersih CPIN 9M25 mencapai Rp50,6 triliun (+1,8% yoy), masih sesuai ekspektasi konsensus. Gross profit margin (GPM) meningkat ke 9,2% (+142bps yoy), dan opex-to-sales turun ke 3,53% (-15bps yoy).
Dengan efisiensi tersebut, margin laba usaha (EBIT) naik menjadi 5,6% (+159bps yoy), memperlihatkan perbaikan struktural dalam profitabilitas perusahaan setelah dua tahun tekanan akibat oversupply dan harga pakan tinggi.
Outlook 4Q25: Momentum Positif Terus Berlanjut
IPS Research memperkirakan harga broiler yang tinggi akan bertahan hingga kuartal IV-2025, didorong oleh kebijakan voluntary culling dan penurunan kuota impor GPS (grand parent stock) sebesar 15,9% yoy, yang memperketat pasokan DOC nasional.
“Kami melihat outlook industri unggas membaik signifikan. Permintaan ayam masih kuat, sementara pasokan dikendalikan. Ini memberi ruang bagi CPIN untuk mempertahankan margin tinggi hingga 2026,” tulis IPS dalam risetnya, Sabtu (1/11).
Selain itu, penurunan harga pupuk subsidi 20% oleh pemerintah diharapkan membantu menekan biaya produksi jagung — bahan baku utama pakan ternak — sehingga berpotensi meningkatkan margin laba segmen feed pada tahun mendatang.
Rekomendasi: BUY dengan Target Naik ke Rp5.900
Melihat momentum laba yang kuat dan perbaikan fundamental industri, IPS menaikkan proyeksi laba CPIN FY25/26F masing-masing sebesar 19% dan 26%, serta menaikkan target harga saham menjadi Rp5.900 per saham, dari sebelumnya Rp5.500.
“Kami mempertahankan rekomendasi BUY untuk CPIN dengan valuasi 19,0x FY26F PE (-0,5 s.d. dari rata-rata lima tahun). Prospek jangka menengah tetap positif seiring stabilisasi harga ayam dan efisiensi operasional,” tulis Andrianto dan Nicholas.
Risiko utama mencakup penurunan harga broiler dan DOC, kenaikan biaya bahan baku pakan, serta apresiasi dolar AS yang dapat meningkatkan biaya impor.
Outlook Industri: Fase Pemulihan Nyata
Analis menilai, CPIN dan JPFA kini menjadi dua emiten unggulan di sektor perunggasan yang berhasil memanfaatkan momentum pemulihan harga ayam hidup. Dengan struktur bisnis vertikal yang kuat dan jaringan distribusi luas, CPIN disebut paling siap menyerap potensi pertumbuhan permintaan protein hewani domestik.

0 Komentar