Ticker

4/recent/ticker-posts

Madhani Talatah Nusantara Resmi Angkat Kaki dari DEWA, Harga Saham Justru Meroket — Ada Apa?

Daftar Isi [Tampilkan]

Receh.in – PT Madhani Talatah Nusantara akhirnya menyelesaikan seluruh aksi divestasinya dari PT Darma Henwa Tbk. (DEWA). Setelah hampir sembilan bulan melepas saham secara bertahap, pemegang saham yang sempat masuk sebagai investor mayoritas lewat private placement pada Februari 2025 itu kini tidak lagi tercatat sebagai pemilik satu lembar pun saham DEWA.

Pergerakan ini menimbulkan tanda tanya besar di pasar, terutama karena dilakukan di tengah reli harga saham DEWA yang mencapai ratusan persen sejak awal tahun. Menariknya lagi, seluruh penjualan Madhani dilakukan pada harga Rp75 per saham—saat ini setara seperenam dari harga pasar.

 

Jejak Mundur Madhani: Dari Pemegang 24,81% Jadi 0%

Mengacu data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 31 Oktober 2025, kepemilikan Madhani Talatah Nusantara di DEWA telah menjadi 0%, turun dari 3,28 miliar saham (8,07%) per 30 September.

Aksi divestasi ini berlangsung bertahap. Ketika pertama kali masuk lewat private placement 27 Februari 2025, Madhani memegang 10,93 miliar saham atau 24,81%. Namun, sinyal keluar mulai terlihat pada 29 April 2025, ketika Madhani melepas 493 juta saham di harga Rp75, menurunkan kepemilikannya menjadi 23,59%.

Penjualan demi penjualan terus berlanjut, termasuk pada 13 Oktober 2025 ketika sebanyak 105 juta saham kembali dilepas—juga di harga Rp75. Setelah aksi itu, kepemilikan mereka tinggal 5,81%.

Dan kini, berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek Oktober 2025, Madhani resmi tidak lagi memegang saham DEWA. Tidak ada laporan tambahan di BEI pasca 20 Oktober, namun data KSEI memastikan posisi mereka sudah “bersih”.

Fakta yang membuat pasar mengernyit: seluruh penjualan Madhani dilakukan pada harga Rp75, padahal harga DEWA sepanjang 2025 tidak pernah kembali ke titik itu setelah April.

 

Harga DEWA Meledak 252% YtD, Kapitalisasi Tembus Rp16,9 Triliun

Sementara Madhani exit diam-diam, harga saham DEWA justru melonjak luar biasa. Per Jumat (21/11/2025), saham DEWA diperdagangkan di Rp416, melesat 252,54% sejak awal tahun dan naik 164,97% dalam enam bulan terakhir.

Selama 2025, DEWA berada di rentang harga:

  • Tertinggi: Rp446 (11 November 2025)
  • Terendah: Rp86 (9 April 2025)

Reli tajam ini membuat kapitalisasi pasar DEWA membengkak menjadi Rp16,93 triliun—salah satu lonjakan paling agresif di sektor pertambangan jasa.

Di saat harga meroket, komposisi pemegang saham di atas 5% juga berubah. Muncul nama baru seperti CIMB Securities (6,38%), sementara entitas yang sebelumnya dominan seperti Madhani justru menghilang sepenuhnya. Publik kini menguasai hampir separuh saham (48,51%).

 

DEWA Luncurkan Buyback Jumbo Rp1,66 Triliun

Di tengah volatilitas harga, DEWA langsung merespons dengan mengumumkan program buyback raksasa senilai maksimal Rp1,66 triliun. Aksi ini dapat dilakukan tanpa meminta persetujuan RUPS, sesuai POJK terbaru.

Detail buyback:

  • Periode: 19 November 2025 – 19 Februari 2026
  • Sumber dana: Kas internal seluruhnya
  • Potensi saham dibeli kembali: hingga 10% modal ditempatkan
  • Proyeksi peningkatan EPS: dari Rp4,13 menjadi Rp4,59

Manajemen menegaskan buyback tidak akan mengganggu operasional maupun likuiditas, sembari menegaskan bahwa harga saham saat ini belum mencerminkan fundamental. Dengan kata lain, DEWA menilai valuasinya masih undervalued—meski harga telah melesat ratusan persen.

Langkah ini sekaligus memberi sinyal kuat bahwa perusahaan percaya diri terhadap prospek jangka panjangnya.

 

Arah Angin Baru: Siapa Pengendali Selanjutnya?

Dengan keluarnya Madhani Talatah Nusantara, peta pemegang saham DEWA kini diisi oleh empat nama besar di atas 5%:

  • PT Andhesti Tungkas – 11,76%
  • Goldwave Capital Limited – 9,38%
  • PT Antareja Mahada – 7,37%
  • Zurich Asset International – 6,18%
  • CIMB Securities – 6,38%

Konstelasi baru ini membuka spekulasi pasar: apakah ini langkah menuju restrukturisasi kepemilikan, konsolidasi bisnis, atau sekadar dinamika pasar sekunder?

 

Analisis: Divestasi di Harga Rendah, Reli di Harga Tinggi — Apa yang Bisa Dibaca Pasar?

Aksi lepas kepemilikan Madhani menimbulkan beberapa interpretasi menarik:

  1. Exit strategis atau ketidaksepahaman arah bisnis?
    Masuk besar lewat private placement, keluar cepat dalam waktu kurang dari setahun, dan selalu menjual di harga yang sama (Rp75) mengindikasikan motif non-pasar—bisa karena pertimbangan strategi internal atau kesepakatan tertentu.
  2. Timing yang janggal.
    Madhani keluar sepenuhnya ketika harga DEWA tengah mencetak all-time high. Jika orientasinya murni cuan, mereka justru melepas di titik terendah.
  3. Buyback jumbo sebagai pengimbang struktur kepemilikan.
    Dengan buyback 10%, DEWA bisa menata ulang komposisi pemegang saham sekaligus mendukung harga yang volatil pasca perubahan kepemilikan mayoritas.
  4. Lonjakan harga yang ekstrem perlu dicermati.
    Kenaikan 252% YtD jarang terjadi tanpa katalis fundamental yang signifikan. Hal ini membuat fokus investor berpindah pada:
    • transparansi kinerja operasional,
    • konsistensi arus kas,
    • dan status perusahaan pasca pergeseran struktur kepemilikan.

Pasar kini menunggu satu hal: sinyal ke mana DEWA akan dibawa oleh pemegang saham barunya, terutama dengan amunisi kas yang besar dan strategi buyback agresif.

Posting Komentar

0 Komentar