Receh.in – Meskipun 2026 diproyeksikan bukan tahun dengan pertumbuhan agresif bagi industri properti, sejumlah riset sekuritas justru menempatkan sektor ini sebagai salah satu peluang menarik di pasar saham. Penjualan yang stabil, permintaan konsumen yang membaik, serta insentif pemerintah menjadi tiga pilar utama yang menopang optimisme tersebut.
Riset terbaru dari BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), MNC Sekuritas, dan Ciptadana Sekuritas menunjukkan pandangan bullish yang relatif selaras: sektor properti layak menjadi pilihan investor tahun depan.
Penjualan Premium Melejit, Segmen Menengah Tetap Dominan
Menurut BRIDS, marketing sales emiten properti diperkirakan tumbuh 4% pada 2026 dan 2027, memantul setelah mencatat kontraksi 3% pada 2025. Momentum ini banyak ditopang insentif PPN DTP, akses pembiayaan yang lebih longgar, serta potensi penurunan suku bunga.
Fenomena menarik justru muncul di segmen properti premium (di atas Rp5 miliar). Dalam sembilan bulan 2025, kontribusi penjualan segmen ini melonjak menjadi 29%, naik dari 20% pada 2024 dan 23% pada 2023. Kenaikan selera masyarakat kelas atas terjadi meskipun daya beli secara umum masih tertahan.
Namun, tulang punggung penjualan tetap berada pada segmen Rp1 miliar–Rp5 miliar. Porsinya memang menurun dari 69% (2023) menjadi 66% (2025), tetapi jumlah ini masih menjadi penggerak utama kinerja emiten sektor perumahan.
BRIDS menilai geliat di segmen premium akan kembali dipacu pengembang pada 2026. Selain itu, kawasan industri—terutama Subang—juga berpotensi tumbuh kuat, menjadikan PT Surya Semesta Internusa (SSIA) sebagai salah satu saham yang punya katalis tambahan lewat proyek Subang Smartpolitan.
BRIDS memberikan rating overweight untuk sektor properti, dengan saham unggulan:
- CTRA – Target harga Rp1.600
- PWON – Rp640
- SMRA – Rp800
- BSDE – Rp1.450
- SSIA – Rp2.050
Insentif dan Pembiayaan Longgar Dongkrak Minat Beli
MNC Sekuritas juga melihat prospek cerah, memproyeksikan marketing sales bertumbuh sekitar 6% pada 2026. Faktor utama pendorong permintaan berasal dari:
- Insentif PPN DTP dan pembebasan BPHTB, membuat beban pembeli turun hingga 16%
- Pertumbuhan KPR dan KPA yang stabil di atas 7%
- Likuiditas perbankan yang meningkat
- Harapan penurunan suku bunga BI
Perubahan preferensi masyarakat terhadap kepemilikan rumah juga memperkuat permintaan. Rasio kepemilikan rumah naik menjadi 84,95% pada 2024, dari 80,10% pada 2020. Sementara rasio penyewa turun lebih dari setengahnya.
Dengan tren tersebut, MNC Sekuritas merekomendasikan beli untuk:
- BSDE – Target harga Rp1.265
- CTRA – Rp1.240
- SMRA – Rp590
- PWON – Rp460
Laba Emiten Diproyeksi Naik, Namun Kuartal I Bisa Lesu
Ciptadana Sekuritas juga melihat sektor properti memiliki ruang kenaikan yang solid dari sisi profitabilitas. Laba kumulatif emiten properti yang mereka pantau diperkirakan mencapai Rp7,85 triliun pada 2026, naik 13,9% YoY dari Rp6,89 triliun pada 2025.
Meski demikian, ada risiko perlambatan penjualan pada kuartal I/2026 akibat pola musiman:
- Ramadan dan Idul Fitri
- Perayaan Imlek
- Penundaan pembelian oleh konsumen
Kinerja diperkirakan membaik kembali pada kuartal II dan seterusnya. Rumah tapak masih menjadi pendorong utama penjualan, sementara pusat perbelanjaan memberikan kontribusi recurring income yang semakin penting—sejalan dengan kembalinya trafik mal ke level prapandemi.
Sektor perkantoran masih tertahan dengan tingkat okupansi CBD di 75% dan non-CBD di 71%, namun gedung premium relatif lebih kuat dengan okupansi 80%.
Ciptadana menjagokan saham:
- SMRA – Target harga Rp750
- PWON – Rp530
- ASRI – Rp221
- LPKR – Rp190
- PANI – Rp19.100
- BSDE – Rp1.200
- SSIA – Rp2.340
Analisis: Optimisme Memang Tinggi, Tapi Pasar Tetap Selektif
Tiga sekuritas besar kompak memberikan rating overweight, menunjukkan keyakinan terhadap perbaikan industri properti pada 2026. Namun pola pertumbuhan tampaknya akan menjadi pertumbuhan yang tersegmentasi:
- Segmen premium menjadi motor baru karena konsumennya relatif tidak terpengaruh daya beli dan kenaikan suku bunga.
- Segmen menengah tetap besar, tetapi lebih sensitif pada insentif dan pembiayaan.
- Recurring income dari mal dan pengembangan kawasan industri menjadi pembeda antara emiten dengan portofolio kuat dan yang tidak.
- Kuartal I/2026 berpotensi mengecewakan, sehingga momentum terbaik mungkin baru terlihat menjelang pertengahan tahun.
Dalam kondisi seperti ini, saham pilihan seperti CTRA, PWON, SMRA, BSDE, dan SSIA memperoleh konsensus karena kombinasi landbank, kualitas recurring income, dan kemampuan menangkap permintaan dari dua segmen: premium dan menengah.
0 Komentar