| Grafik Pergerakan saham DEWA di Stockbit 23 Januari 2026 |
Receh.in— Dua saham andalan grup Bakrie dan Salim, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA), kompak terhempas pada perdagangan Kamis (22/1/2026). BUMI mencatat penurunan tajam 9,8% ke level 348 dengan net sell jumbo mencapai Rp1,01 triliun, sementara DEWA menyusul dengan koreksi 9,5% ke level 665.
Kejatuhan ini menjadi pemberat utama IHSG kemarin, di mana BUMI sendiri menyumbang tekanan sebesar 9,86 indeks poin. Di balik koreksi dalam ini, terdapat kombinasi antara ketidakpastian aturan indeks global serta aksi korporasi pemegang saham pengendali.
Teka-Teki MSCI dan Aturan Baru Free Float
Sentimen utama yang menahan minat beli saat ini adalah agenda rebalancing indeks MSCI pada Februari 2026. Meski BUMI dan DEWA merupakan kandidat kuat, pasar sedang diliputi kecemasan terkait pengumuman aturan baru perhitungan free float yang akan dirilis MSCI pada 30 Januari mendatang.
Menariknya, aksi jual oleh pemegang saham besar seperti Chengdong Investment Corp di BUMI (melepas 3,7 miliar saham) dan PT Andhesti Tungkas Pratama di DEWA bisa dibaca sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, ini dianggap sentimen negatif. Namun di sisi lain, aksi ini bisa jadi strategi sengaja untuk meningkatkan porsi saham publik (free float) agar memenuhi kriteria investability MSCI yang semakin ketat. Semakin tinggi free float, semakin besar peluang emiten tersebut dilirik manajer investasi internasional.
BUMI: Strategi "Move On" dari Batubara
Di tengah tekanan harga, BUMI sebenarnya sedang menjalankan transformasi besar untuk melepas ketergantungan dari batubara. Beberapa langkah strategisnya meliputi:
- Ekspansi Logam & Emas: Akuisisi 100% saham Wolfram Limited di Australia (Emas & Tembaga) serta 45% saham PT Laman Mining (Bauksit) menunjukkan ambisi BUMI masuk ke rantai pasok kendaraan listrik.
- Amunisi Obligasi: BUMI sangat agresif di pasar utang. Hingga Januari 2026, perusahaan telah menerbitkan tiga tahap obligasi dengan total Rp1,85 triliun dan tengah menjalankan Tahap IV senilai Rp345 miliar. Sisa plafon sebesar Rp3,15 triliun menjadi "peluru" siap tembak untuk akuisisi strategis berikutnya.
DEWA: Kontrak Life of Mine dan Tantangan Administratif
Sementara itu, DEWA memiliki cerita fundamental yang tak kalah kuat lewat kontrak jasa pertambangan senilai Rp10,5 triliun dengan PT Arutmin Indonesia. Kontrak ini bersifat life of mine, yang menjamin pendapatan DEWA hingga tambang tersebut habis beroperasi.
Untuk mendukung operasionalnya, DEWA baru saja mengamankan kredit Rp1 triliun dari BCA guna peremajaan alat berat. Namun, investor perlu mencermati Notasi L dari bursa akibat keterlambatan laporan keuangan kuartal III/2025. Manajemen berdalih hal ini disebabkan oleh proses restrukturisasi internal dan penghapusan aset tidak produktif guna memperbaiki neraca perusahaan di masa depan.
Kesimpulan: Penurunan harga saat ini terlihat lebih dipengaruhi oleh faktor teknikal rebalancing dan ketidakpastian aturan MSCI. Secara fundamental, profil risiko kedua emiten ini mulai membaik berkat transformasi bisnis dan kontrak jangka panjang. Namun, pantau terus pengumuman MSCI pada 30 Januari nanti untuk menentukan arah masuk yang lebih aman.
0 Komentar