Ticker

4/recent/ticker-posts

Borong Jutaan Lembar, Goldman Sachs dan JPMorgan Kompak Masuk ke Saham AMMN

Daftar Isi [Tampilkan]

 

Receh.in— Di saat indeks harga saham gabungan (IHSG) bergulat dengan volatilitas di awal tahun 2026, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) justru tampil sebagai primadona. Emiten tambang tembaga dan emas ini sukses memuncaki daftar top leaders pendorong indeks dengan catatan return dua digit hingga pekan ketiga Januari.

Daya tarik AMMN tidak hanya memikat investor lokal, tetapi juga memicu aksi borong masif dari deretan raksasa keuangan dunia. Berdasarkan data terbaru per 23 Januari 2026, nama-nama besar seperti The Goldman Sachs Group Inc., JPMorgan Chase & Co, hingga State Street Corp terpantau menyuntikkan dana segar dengan memborong jutaan lembar saham AMMN dalam beberapa hari terakhir.

 

Alasan Raksasa Wall Street "All-In" di AMMN

Aksi beli institusi global ini bukan tanpa alasan. Goldman Sachs tercatat menambah kepemilikannya sebanyak 5,61 juta lembar, disusul State Street Corp yang kini memegang total 25 juta lembar. Sentimen utamanya adalah perubahan lanskap industri tembaga dunia yang sedang menuju fase konsolidasi besar-besaran.

Isu merger antara raksasa dunia seperti Glencore dengan Rio Tinto, serta Anglo American dengan Teck Resources, diprediksi akan mempersempit struktur pasokan tembaga global. Kondisi ini membuka ruang kenaikan harga tembaga secara struktural. Bagi AMMN yang memiliki basis cadangan besar, tren ini adalah katalis positif yang sangat kuat untuk melakukan re-rating valuasi.

 

Fase 8: Titik Balik Produksi AMMN di 2026

Secara fundamental, AMMN kini memasuki Fase 8 di Tambang Batu Hijau. Analis Sucor Sekuritas, Andreas Yordan Tarigan, mengungkapkan bahwa fase ini merupakan titik balik krusial yang akan memperpanjang usia tambang hingga 2030 dengan total cadangan mineral mencapai 460 juta ton.

Proyeksi produksi AMMN pada 2026 diperkirakan melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini didukung oleh tiga faktor utama:

  • Peningkatan Kadar Bijih: Kandungan tembaga dan emas yang lebih tinggi pada area eksplorasi baru.
  • Operasional Smelter: Smelter tembaga perseroan dijadwalkan mulai memproduksi katoda secara komersial pada awal 2025.
  • Utilisasi Tinggi: Pada 2026, utilisasi smelter diprediksi mencapai 80% sebelum beroperasi penuh di tahun berikutnya.

 

Rasio Harga Tembaga vs Emas: Peluang yang Masih Lebar

Menariknya, rasio harga tembaga terhadap emas saat ini berada di level terendah dalam 40 tahun terakhir. Situasi ini mengindikasikan bahwa harga tembaga masih memiliki ruang apresiasi yang sangat lebar di pasar komoditas global.

Dengan konsensus analis yang menetapkan target harga AMMN di level Rp7.925 untuk 12 bulan ke depan, saham ini dipandang sebagai aset strategis untuk lindung nilai (hedging) di tengah ekspektasi penurunan suku bunga global. Saat ini, mayoritas sekuritas memberikan rekomendasi "Beli", mengukuhkan posisi AMMN sebagai salah satu emiten paling prospektif di sektor mineral tahun ini.

Posting Komentar

0 Komentar