Ticker

4/recent/ticker-posts

Dilema Saham GOTO: Bayang-Bayang Perpres Ojol dan Isu Merger dengan Grab

Daftar Isi [Tampilkan]
Grafik Pergerakan saham GOTO di Stockbit

 

Receh.in— Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) terus bergerak fluktuatif di tengah diskursus regulasi baru yang akan mengatur ekosistem ojek online (ojol). Meskipun harga pasar masih lesu, raksasa perbankan investasi global JP Morgan justru menyematkan rating Overweight (OW) dengan target harga Rp95 per saham untuk Desember 2026.

Analis JP Morgan, Ranjan Sharma, menilai GOTO telah mencapai titik balik pendapatan setelah mencatatkan EBITDA yang disesuaikan positif pada 2024. GOTO diprediksi mampu melakukan percepatan monetisasi hingga US$90 juta pada 2025 melalui tiga lini bisnis utamanya: layanan on-demand (Gojek), layanan keuangan (Fintech), dan sisa kepemilikan di e-commerce.

 

Ancaman Perpres Ojol: Komisi 10% dan Biaya Asuransi

Isu utama yang menahan laju saham GOTO saat ini adalah draf Perpres Ojol yang dikabarkan akan memangkas komisi platform menjadi 10% dari sebelumnya 20%. Jika aturan ini diketuk, pengemudi akan mengantongi 90% dari tarif dasar.

Indo Premier Sekuritas menghitung bahwa pemangkasan komisi pada layanan roda dua (yang menyumbang 50% segmen ODS) berisiko menggerus EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp1,1 triliun, atau setara 26% dari proyeksi EBITDA 2026. Selain itu, platform diwajibkan membayar biaya asuransi sekitar US$1 per pengemudi aktif setiap bulan, yang diperkirakan akan membebani kas GOTO sekitar Rp200–300 miliar.

 

Strategi Bertahan: Fleksibilitas "Platform Fee"

Meski terdengar mengkhawatirkan, analis Indo Premier, Ryan Winipta, menilai risiko tersebut masih terkendali. GOTO memiliki senjata rahasia berupa Platform Fee (biaya jasa aplikasi). Saat ini, biaya platform GOTO di Jakarta baru mencapai Rp2.000 per perjalanan, lebih rendah dibandingkan kompetitornya, Grab, yang sudah di level Rp3.000.

Selisih ini memberikan GOTO fleksibilitas tinggi untuk menyesuaikan biaya layanan guna menutupi penurunan komisi dari pengemudi tanpa mengganggu margin secara drastis. Berdasarkan logika ini, Indo Premier tetap mempertahankan peringkat "Beli" dengan target harga lebih optimistis di level Rp110 per saham.

 

Sinyal Merger GOTO-Grab dan Sikap Pemerintah

Di sisi regulator, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memberikan sinyal menarik terkait lambatnya penerbitan Perpres ini. Pemerintah mengaku tidak ingin terburu-buru karena masih memetakan dampak, termasuk menanti rampungnya proses penyelesaian rencana merger antara GOTO dan Grab.

Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menegaskan bahwa Perpres yang ditargetkan terbit pada Kuartal I/2026 ini akan menjadi "jalan tengah". Semangatnya adalah menyeimbangkan kesejahteraan mitra pengemudi dengan keberlangsungan usaha aplikator. Bagi investor, kepastian regulasi dan kejelasan skema merger akan menjadi katalis utama (re-rating) yang ditunggu untuk membawa GOTO keluar dari level harga saat ini.

 

Posting Komentar

0 Komentar