Receh.in— Bursa Efek Indonesia kembali diwarnai kontradiksi. Di tengah harapan masuknya sejumlah emiten ke dalam indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada rebalancing Februari mendatang, harga saham kandidat utamanya justru tertekan hebat. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) kompak masuk zona merah, memicu pertanyaan di kalangan investor mengenai probabilitas kelolosan mereka.
Berdasarkan data perdagangan Kamis (22/1/2026), saham BUMI terkoreksi 1,72% ke level Rp342 per saham, melengkapi kejatuhan hampir 10% pada hari sebelumnya. Sementara itu, PTRO mengalami tekanan lebih ekstrem dengan menyentuh Auto Rejection Bawah (ARB) di level Rp9.175, setelah tergerus 28,88% hanya dalam waktu satu pekan terakhir.
Menakar Ambang Batas: Peluang BUMI vs PTRO
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menjelaskan bahwa kelolosan emiten ke MSCI Standard Cap sangat bergantung pada harga saham di periode cutoff atau observasi yang berlangsung pada akhir Januari. Untuk BUMI, probabilitasnya dinilai masih cukup tinggi asalkan mampu mempertahankan level harga di atas rentang cutoff Rp298–Rp310 hingga akhir bulan.
Kondisi berbeda menimpa PTRO. Peluang emiten jasa pertambangan ini disebut lebih rentan karena mekanisme pemilihan hari observasi MSCI yang dilakukan secara acak. "Jika pada satu hari yang dipilih secara acak tersebut harga PTRO berada di bawah level 11.500, maka peluang untuk masuk kategori Standard Cap di periode Februari ini otomatis tertutup," ujar Michael. Dengan harga saat ini yang sudah parkir di level Rp9.175, posisi PTRO secara data berada di area kritis.
Sentimen Perubahan Metode Free Float MSCI
Tekanan jual pada saham-saham konglomerat ini tidak hanya dipicu oleh aksi profit taking teknikal, tetapi juga antisipasi terhadap kebijakan baru MSCI. Pada 30 Januari 2026, MSCI dijadwalkan mengumumkan perubahan metode perhitungan free float (saham publik) yang akan diimplementasikan secara bertahap hingga Mei 2026.
Perubahan metodologi ini menjadi sentimen krusial karena akan memengaruhi bobot suatu saham dalam indeks. Investor institusional cenderung melakukan penyesuaian portofolio (rebalancing) lebih awal untuk menghindari risiko likuiditas. Inilah yang diduga menyebabkan volatilitas tinggi pada BUMI dan PTRO, meskipun keduanya saat ini sudah berstatus konstituen MSCI Small Cap Index.
Proyeksi Sekuritas: BUMI, PTRO, atau FILM?
Meskipun harga sedang tertekan, sejumlah sekuritas besar tetap menempatkan BUMI dan PTRO dalam radar utama. Indo Premier Sekuritas dan Trimegah Sekuritas masih menjagokan kedua emiten tersebut sebagai kandidat dengan probabilitas tertinggi untuk naik kelas ke kategori Global Standard.
Namun, pandangan berbeda datang dari CLSA Sekuritas. Dalam riset terbarunya, CLSA memprediksi bahwa hanya BUMI yang akan bersanding dengan PT MD Entertainment Tbk (FILM) untuk mengisi komposisi MSCI Indonesia Standard Cap terbaru. Masuknya nama FILM dalam radar menunjukkan bahwa kriteria likuiditas dan kapitalisasi pasar yang stabil menjadi kunci utama, di tengah gojang-ganjing yang menimpa saham-saham berbasis komoditas dan energi.
0 Komentar