Ticker

4/recent/ticker-posts

ICBP Jadi 'Safe Haven' Saat Badai MSCI: Potensi Cuan 35% Menanti!

Daftar Isi [Tampilkan]

Receh.in— Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertatih akibat "hukuman" dari MSCI, saham raksasa konsumer Grup Salim, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), justru mencuri panggung. Hingga Kamis (5/2/2026), saham produsen Indomie ini telah melonjak 9,12% dalam sepekan terakhir ke level Rp8.375.

Menariknya, ICBP digadang-gadang sebagai salah satu saham paling aman dari gonjang-ganjing dana asing yang sedang keluar dari Indonesia.

 

Mengapa ICBP Kebal dari Efek MSCI?

Kuncinya terletak pada status kepesertaan indeks. Analis Bloomberg Intelligence, Lea El-Hage, menjelaskan bahwa berbeda dengan induknya (INDF), ICBP tidak termasuk dalam konstituen MSCI Indonesia Index.

Artinya, ketika manajer investasi global (dana pasif) dipaksa menjual saham-saham Indonesia karena pembekuan indeks, ICBP tidak terkena kewajiban jual otomatis tersebut. "ICBP akan terlindungi dari arus keluar dana pasif secara langsung," tulis El-Hage. Hal inilah yang membuat ICBP menjadi pilihan logis bagi investor yang ingin tetap berada di pasar modal Indonesia namun menghindari risiko indeks global.

 

Potensi Return Jumbo: Konsensus Beri Sinyal "BUY"

Keyakinan pasar terhadap ICBP terlihat sangat solid di meja konsensus analis:

  • Rekomendasi Mutlak: Sebanyak 33 dari 34 sekuritas kompak memberikan peringkat BELI.
  • Target Harga: Konsensus mematok angka Rp11.359 dalam 12 bulan ke depan.
  • Potensi Upside: Dengan harga saat ini di Rp8.375, masih terdapat ruang kenaikan sekitar 35,6%.

Analis menilai harga ICBP saat ini masih sangat murah karena sempat tertekan hingga level terendahnya sejak September 2022 akibat aksi jual pasar secara luas (broad sell-off).

 

Waspada Efek Samping: Dolar AS dan Daya Beli

Meskipun kebal dari dana pasif, ICBP tetap memiliki risiko tidak langsung yang perlu dicermati investor:

  1. Volatilitas Rupiah: Jika aksi jual di IHSG terus menekan rupiah, beban utang ICBP dalam dolar AS berisiko membengkak dan menggerus laba bersih.
  2. Biaya Bahan Baku: Pelemahan rupiah juga dapat menaikkan harga gandum dan bahan baku impor lainnya.

 

ICBP saat ini berperan sebagai saham "defensif-agresif". Defensif karena bisnis mie instan dan susunya tahan krisis, namun agresif karena potensi kenaikan harganya yang masih lebar setelah terdiskon besar. Selisih antara harga pasar dan target konsensus (Rp3.000-an) adalah margin keamanan (margin of safety) yang sangat menarik bagi investor jangka panjang.

 

Posting Komentar

0 Komentar