Receh.in— Di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertatih akibat "hukuman" dari MSCI, saham raksasa konsumer Grup Salim, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), justru mencuri panggung. Hingga Kamis (5/2/2026), saham produsen Indomie ini telah melonjak 9,12% dalam sepekan terakhir ke level Rp8.375.
Menariknya, ICBP digadang-gadang sebagai salah satu saham paling aman dari gonjang-ganjing dana asing yang sedang keluar dari Indonesia.
Mengapa ICBP Kebal dari Efek MSCI?
Kuncinya terletak pada status kepesertaan indeks. Analis Bloomberg Intelligence, Lea El-Hage, menjelaskan bahwa berbeda dengan induknya (INDF), ICBP tidak termasuk dalam konstituen MSCI Indonesia Index.
Artinya, ketika manajer investasi global (dana pasif) dipaksa menjual saham-saham Indonesia karena pembekuan indeks, ICBP tidak terkena kewajiban jual otomatis tersebut. "ICBP akan terlindungi dari arus keluar dana pasif secara langsung," tulis El-Hage. Hal inilah yang membuat ICBP menjadi pilihan logis bagi investor yang ingin tetap berada di pasar modal Indonesia namun menghindari risiko indeks global.
Potensi Return Jumbo: Konsensus Beri Sinyal "BUY"
Keyakinan pasar terhadap ICBP terlihat sangat solid di meja konsensus analis:
- Rekomendasi Mutlak: Sebanyak 33 dari 34 sekuritas kompak memberikan peringkat BELI.
- Target Harga: Konsensus mematok angka Rp11.359 dalam 12 bulan ke depan.
- Potensi Upside: Dengan harga saat ini di Rp8.375, masih terdapat ruang kenaikan sekitar 35,6%.
Analis menilai harga ICBP saat ini masih sangat murah karena sempat tertekan hingga level terendahnya sejak September 2022 akibat aksi jual pasar secara luas (broad sell-off).
Waspada Efek Samping: Dolar AS dan Daya Beli
Meskipun kebal dari dana pasif, ICBP tetap memiliki risiko tidak langsung yang perlu dicermati investor:
- Volatilitas Rupiah: Jika aksi jual di IHSG terus menekan rupiah, beban utang ICBP dalam dolar AS berisiko membengkak dan menggerus laba bersih.
- Biaya Bahan Baku: Pelemahan rupiah juga dapat menaikkan harga gandum dan bahan baku impor lainnya.
ICBP saat ini berperan sebagai saham "defensif-agresif". Defensif karena bisnis mie instan dan susunya tahan krisis, namun agresif karena potensi kenaikan harganya yang masih lebar setelah terdiskon besar. Selisih antara harga pasar dan target konsensus (Rp3.000-an) adalah margin keamanan (margin of safety) yang sangat menarik bagi investor jangka panjang.
0 Komentar