Receh.in— Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi di awal pekan ini, Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir, memberikan perspektif yang menyejukkan sekaligus "pedas". Menurutnya, koreksi tajam yang menimpa sejumlah saham saat ini merupakan proses seleksi alam, terutama bagi saham-saham yang valuasinya sudah tidak masuk akal atau uninvestable.
Ditemui di Gedung BEI (2/2/2026), Pandu menegaskan bahwa tekanan pasar hari ini sebenarnya menunjukkan pergeseran minat investor. Para pelaku pasar mulai meninggalkan saham-saham spekulatif dan beralih ke emiten dengan fundamental kuat serta valuasi yang lebih sehat.
Danantara Mulai "Belanja" di Pasar
Menariknya, di saat banyak investor ritel panik, raksasa pengelola dana investasi nasional, Danantara, justru mulai aktif melakukan pembelian saham. Pandu membocorkan bahwa strategi investasi Danantara saat ini difokuskan pada tiga pilar utama:
- Valuasi Menarik: Harga saham yang sudah terdiskon namun memiliki nilai intrinsik tinggi.
- Arus Kas (Cash Flow) Kuat: Perusahaan yang operasionalnya sehat dan mampu mencetak uang.
- Likuiditas Solid: Saham yang mudah diperjualbelikan tanpa mengganggu harga pasar (sejalan dengan standar MSCI).
Net Foreign Buy: Sinyal Tersembunyi di Balik IHSG Merah
Pandu mengungkapkan fakta yang sering terlewatkan oleh investor ritel: pada paruh pertama perdagangan hari ini, sebenarnya terjadi net foreign buy (pembelian bersih oleh asing) pada sejumlah saham berfundamental kuat.
"Koreksi pada saham berharga mahal adalah konsekuensi logis. Investor ritel harus mulai lebih selektif. Jangan hanya karena satu hari pasar merah, lalu panik. Kembali lagi ke fundamental dan likuiditas," tegasnya. Menurutnya, dinamika ini sejalan dengan arah regulator (OJK & BEI) yang menginginkan pasar bergerak lebih rasional dan tidak hanya didorong oleh narasi spekulatif.
Tips dari CIO Danantara: Investasi Bukan Main Cepat
Pandu mengingatkan bahwa investasi harus dilakukan untuk jangka menengah hingga panjang. Tekanan pada saham-saham bervaluasi tinggi (sering disebut sebagai saham "sultan" atau saham dengan PER selangit) adalah bagian dari normalisasi pasar. Sebaliknya, akumulasi pada saham-saham perbankan besar atau konsumer yang bervaluasi murah justru menjadi kesempatan yang jarang terjadi.
Analisis Receh.in: Pernyataan Pandu Sjahrir ini adalah sinyal bahwa "uang besar" (big money) dari institusi seperti Danantara sedang melakukan rotasi sektor. Mereka memanfaatkan kepanikan ritel untuk mengumpulkan saham-saham blue chip di harga diskon. Ini adalah momen untuk kita mengecek kembali portofolio: Apakah saham kita punya cash flow asli, atau hanya punya "cerita" tinggi?
0 Komentar