Ticker

4/recent/ticker-posts

The Fed Beri Sinyal Hawkish, Apa Maknanya Buat Pasar Saham

Daftar Isi [Tampilkan]


JAKARTA - Halo, Sobat Receh! Sepertinya kita perlu ngobrol nih tentang dunia keuangan yang lagi heboh ini. Ada info menarik dari pasar keuangan yang mungkin Sobat Receh perlu tahu. Yuk, simak bersama!


Berkicau Soal Hawkish di Pasar Keuangan

Pertama-tama, bagi Sobat Receh yang masih bingung dengan istilah "hawkish", istilah ini di dunia keuangan menggambarkan sikap atau pandangan dari bank sentral yang cenderung menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Singkatnya, ketika bank sentral bersikap "hawkish", berarti mereka siap beraksi ketat untuk menjaga keseimbangan ekonomi.


Pernyataan Jerome Powell yang Menggemparkan Pasar

Baru-baru ini, Jerome Powell, Ketua Federal Reserve (Bank Sentral AS), memberikan pidato yang menggemparkan banyak pelaku pasar. Dalam pidatonya di Economic Club of New York Luncheon, beliau menyampaikan bahwa The Fed telah melakukan pengetatan kebijakan moneter selama 18 bulan terakhir. Dengan cepat, suku bunga dana federal naik sebanyak 525 basis poin. Sobat Receh, bayangkan betapa signifikannya langkah ini!

Powell menegaskan, meski sudah banyak pengetatan, mungkin masih ada langkah ketat lainnya yang harus diambil. Beliau dan timnya berkomitmen untuk menekan inflasi hingga 2% dan akan memastikan kebijakan tersebut tetap ketat hingga target itu tercapai.

Tidak hanya itu, Powell juga menyinggung data ekonomi dan tenaga kerja terbaru. Jika pertumbuhan terus melebihi tren atau pasar tenaga kerja terus mengetat, mungkin diperlukan pengetatan kebijakan lebih lanjut. Hal ini tentunya berpengaruh besar pada keputusan investasi Sobat Receh.


Dampak ke Pasar

Seusai pidato "hawkish" Powell, pasar regional dilanda aksi jual tajam obligasi global. Bahkan, indeks-indeks di Wall Street mengalami penurunan. Dow Jones turun 0,69%, S&P 500 turun 0,86%, dan Nasdaq Composite turun 0,97%.

Tak hanya di Amerika, Sobat Receh, dampaknya terasa hingga ke Asia. Bursa-bursa Asia mayoritas berada dalam zona merah, dengan lonjakan imbal hasil obligasi yang membebani saham-saham teknologi di Asia. Salah satu contohnya adalah indeks KOSPI di Korea Selatan yang turun 1,17%.

Sementara itu, Sobat Receh mungkin penasaran dengan emas dan dolar AS yang justru menikmati kenaikan. Biasanya, kedua aset ini berkorelasi negatif. Namun, beberapa faktor makro seperti konflik di Timur Tengah dan lonjakan imbal hasil obligasi AS menambah kekuatan pada kenaikan harga emas.


Posting Komentar

0 Komentar