Ticker

4/recent/ticker-posts

Arus Masuk Obligasi Asia Bangkit Lagi, Sentimen Membaik Berkat Kesepakatan Dagang AS–ASEAN

Daftar Isi [Tampilkan]

Receh.in Arus modal kembali mengalir ke pasar obligasi Asia pada Oktober 2025 setelah sempat tersendat di bulan sebelumnya. Pemulihan ini terjadi seiring membaiknya prospek pertumbuhan kawasan dan serangkaian perjanjian dagang baru antara Amerika Serikat dan negara-negara Asia Tenggara yang mengangkat kepercayaan investor global.

Menurut data regulator lokal dan asosiasi pasar obligasi yang dihimpun Reuters, investor asing mencatat pembelian bersih USD368 juta di lima pasar utama: Indonesia, Malaysia, Thailand, India, dan Korea Selatan. Angka tersebut berbanding terbalik dengan arus keluar USD5,48 miliar pada September.

 

Kesepakatan Dagang AS Jadi Katalis: Malaysia & Thailand Pimpin Arus Masuk

Perubahan sentimen global tak lepas dari langkah Presiden AS Donald Trump yang menandatangani perjanjian dagang timbal balik dengan Malaysia dan Kamboja, serta kerangka kerja perdagangan dengan Thailand. Kesepakatan ini dinilai mampu mengurangi hambatan tarif dan non-tarif, serta memberi kepastian hubungan dagang AS–ASEAN.

Di tengah optimisme tersebut, obligasi Malaysia memimpin aliran modal masuk dengan USD1,05 miliar, tertinggi sejak Mei. Dorongannya berasal dari lonjakan pertumbuhan ekonomi Malaysia yang mencapai 5,2% pada kuartal III, ditopang permintaan domestik dan ekspor yang pulih cepat meski masih dibayangi tarif AS.

Sementara itu, Thailand mencatat arus masuk USD1,04 miliar, disusul India dengan USD397 juta.

Para analis menilai kombinasi antara pertumbuhan yang lebih solid dari ekspektasi, meredanya ketegangan dagang, dan optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah memperbaiki selera risiko investor terhadap pasar obligasi Asia.

 

Indonesia & Korea Selatan Alami Outflow, Tapi Prospek Masih Positif

Di sisi lain, tidak semua pasar menikmati gelombang masuk modal. Investor asing tercatat menarik USD2 miliar dari obligasi Indonesia, sementara Korea Selatan mengalami arus keluar USD125 juta. Kondisi ini berkaitan dengan volatilitas nilai tukar, tensi geopolitik, dan preferensi investor terhadap pasar dengan profil yield yang lebih stabil.

Walaupun demikian, analis ANZ Khoon Goh menilai tren jangka pendek masih konstruktif menjelang akhir tahun. Momentum pertumbuhan kawasan yang tangguh, permintaan ekspor yang membaik, serta ekspektasi kebijakan moneter yang stabil diperkirakan akan menjaga daya tarik obligasi Asia di mata investor global.

 

Apa Artinya untuk Investor?

Kembalinya arus masuk ke obligasi Asia mengindikasikan:

  1. Risk appetite global mulai membaik seiring meredanya ketidakpastian dagang.
  2. Potensi penguatan pasar obligasi ASEAN, terutama di negara dengan perbaikan makro kuat seperti Malaysia dan Thailand.
  3. Indonesia perlu mencermati volatilitas, namun peluang pembalikan arah tetap terbuka jika inflasi terkendali dan sentimen eksternal stabil.

Dengan katalis positif yang terus bertambah, kawasan Asia diperkirakan tetap menjadi tujuan menarik bagi investor fixed income global hingga akhir 2025.

 

Posting Komentar

0 Komentar